Cerita Ma’ruf Amin yang Pernah Menjadi Korban Berita Hoaks

Cerita Ma’ruf Amin yang Pernah Menjadi Korban Berita Hoaks

JAKARTA, dawainusa.com – Calon Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Ma’ruf Amin mengaku pernah menjadi korban dari berita bohong alias hoaks.

Dari ceritanya, hal itu terjadi ketika para relawan Joko Widodo menggelar sebuah acara bersama setelah pengambilan nomor urut untuk Pilpres 2019 dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Tugu Proklamasi pada 21 September lalu.

Saat itu, demikian Ma’ruf, para relawan Jokowi mengikuti acara nyanyian dan joget bersama yang dimeriahkan oleh kehadiran sejumlah artis dan penyanyi atau biduan.

Celakanya, kata Ma’ruf, ia yang saat itu berada di tengah para relawan yang hadir dituduh dan diberitakan ikut berjoget dengan para artis dan penyanyi tersebut. Padahal, ia hanya datang dan hanya bertepuk tangan.

Baca juga: Ratna Sarumpaet Sebut Dirinya sebagai Pencipta Hoaks Terbaik

“Waktu ada pertemuan di Tugu Proklamasi waktu itu ada lagu memuji pak Jokowi banyak orang berjoget, saya cuma bertepuk tangan, itu diberitakan saya berjoget,” ungkap Ma’ruf di depan anggota Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) pada penutupan Rapimnas di Hotel Bintang, Raden Saleh, Jakarta Pusat, Minggu (7/10).

Berita tersebut cukup disayangkan oleh Ma’ruf. Ia mengaku dirinya sebagai seorang ulama dan calon wakil presiden sangat dirugikan oleh karena kabar bohong itu.

“Harus kita tabayyun terhadap berita itu, saya bilang matanya rabun barangkali, orang tepuk tangan kok dibilang joget,” kata Ma’ruf.

Berita tersebut, bagi dia, memang sengaja diproduksikan untuk melunturkan kepercayaan publik secara khusus umat Islam terhadap citranya sebagai seorang ulama.

“Karena apa? Ingin mendiskreditkan saya kemudian dianggap saya sudah kehilangan kredibilitas sebagai ulama,” tutur dia.

Pilpres di Tengah Bayang-Bayang Hoaks

Dalam situasi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ini, Ma’ruf mengatakan bahwa masyarakat Indonesia akan berhadapan dengan tantangan banyaknya berita bohong atau hoaks.

Segala berita hoaks itu, demikian Ma’ruf, sengaja diciptakan oleh orang-orang tertentu dengan maksud untuk mengacaukan dinamika menuju Pilpres 2019.

Karena itu, Ma’ruf meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk selalu waspada dan mesti bisa pertebal nalar kritis agar tidak mudah terjebak di dalam kubangan hoaks.

Baca juga: Disepakti Ma’aruf Amin, Usulan Hari Anti-Hoaks Diskreditkan Prabowo

Masyarakat, kata dia, harus mampu mempertanyakan dan memilah berbagai informasi yang ada dan tidak boleh dengan mudah percaya dengan begitu saja atasnya.

Ma’ruf sendiri mengaku heran dengan berbagai politisi di Indonesia yang beberapa hari lalu dengan mudah ditipu oleh berita bohong atau hoaks.

Para politisi yang dimaksud itu ialah Calon Presiden Prabowo Subianto dan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno, Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah, dan sejumlah politisi lainnya yang menjadi korban berita bohong soal penganiayaan Ratna Sarumpaet.

“Karena itu jangan sampai kita ikut seperti mereka. Tapi jangan juga kita terprovokasi dan terbuai oleh pernyataan mereka,” kata dia.

Mengatasi Hoaks

Menguatnya berita bohong atau hoaks menjelang Pilpres ini memang mesti menjadi suatu hal yang harus diperhatikan secara bersama. Artinya, setiap pihak mesti berpartisipasi secara aktif untuk mengatasi persoalan tersebut.

Untuk mencegah hal ini, uraian dari Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho yang dipublikasikan Kompas pada Agustus 2016 lalu ini dapat membantu publik untuk mengatasi masalah tersebut.

Baca juga: Sejumlah Kabar Hoaks yang Menyesatkan dalam Minggu Ini

Dalam uraiannya, ia memberikan beberapa langkah yang mesti dilakukan publik agar tidak mudah percaya apalagi diperdayai oleh berbagai berita bohong yang ada. Langkah yang dimaksudkan itu ialah sebagai berikut.

1. Hati-hati dengan Judul Provokatif

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati Alamat Situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa Fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek Keaslian Foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut Serta Group Diskusi Anti-Hoax

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.*