Cerita dari Rote, Jokowi Dinobatkan Jadi ‘Maneleo Nusak Rote’

Cerita dari Rote, Jokowi Dinobatkan Jadi ‘Maneleo Nusak Rote’

Ketua Forum Adat Lobalain Dance Ndun, menjelaskan pengukuhan tersebut sebagai penghargaan atas kunjungan Presiden ke Bumi Nusa Lote, Nusa Fuafuni atau Nusa Mansuek dan sekaligus jabatan sebagai Maneleo tertinggi di Rote Ndao. (Foto: Jokowi di Rote Ndao - ist)

ROTE NDAO, dawainusa.com Cerita kunjungan Presiden Jokowi bersama rombongan ke Pulau Rote, (8-9/1), menjadi catatan menarik dari sejarah peradaban masyarakat Pulau Rotte. Baru kali ini, seorang presiden datang di pulau paling selatan Indonesia itu. Apa lagi, sang presiden sampai bermalam di sana.

Cerita yang tercecer di antara riuhnya kegembiraan masyarakat ‘Nusak Rote’ menyambut mantan Walikota Solo itu, yakni saat sang Presiden dikukuhkan menjadi “Maneleo Nusak Rote”, di Rote Ndao, Senin (8/1).

Jokowi dikukuhkan Bupati Rote Ndao Lens Haning dan sejumlah tokoh adat di tanah penghasil jagung tersebar di NTT itu.

Baca juga: Makna di Balik Kunjungan Jokowi ke Pulau Rote

Ketua Forum Adat Lobalain selaku Sekertaris Umum Forum Adat Rote Ndao Dance Ndun, menjelaskan pengukuhan tersebut sebagai penghargaan atas kunjungan Presiden ke Bumi Nusa Lote, Nusa Fuafuni atau Nusa Mansuek dan sekaligus jabatan sebagai Maneleo tertinggi di Rote Ndao.

“Maneleo merupakan sebuah predikat secara adat yang paling tinggi kepada seseorang di Pulau Rote. Maneleo itu hamper sama dengan seorang Raja atau lasim disebut Raja Nusak Rote. Jadi jabatan Nusak Lote merupakan jabatan tertinggi di Pulau Rote sebelum pulau tersebut menjadi sebuah Kabupaten terpisah dari Kabupaten Kupang saat itu,” ujar Dance Ndun, Selasa (9/1).

Tidak Bertentangan dengan Adat Setempat

Jokowi orang Jawa, kok diberi gelar “Maneleo Nusak Rusak”? Barangkali demikian pertanyaan publik ketika sang presiden dikukuhkan seperti itu.

Namun, Dance Ndun menuturkan, pengukuhan atau penobatan itu tidak dilarang oleh adat istiadat orang Rote. Hal tersebut merupakan penghargaan orang Rote untuk tamu yang datang sebagai tanda mereka menerimanya sebagai sesama saudara.

Baca juga: Mencermati Klaim Viktor Laiskodat Tentang Pesan Ben Mboi

“Pengukuhan ini merupakan tradisi dan adat masyarakat di Pulau Rote kepada seseorang dan mendapat jabatan adat tertinggi “Maneleo Nusak Lote” di Pulau Rote,” tutur Ndun.

Untuk diketahui, Sebanyak 75 orang perwakilan Maneleo yangterbesar di semua Nusak, hadir dalam penyambutan kedatangan presiden Joko Widodo untuk pertamakali dan dalam sejarah perjalanan Bangsa, seorang dalam jabatan sebagai Presiden R.I dapat mengunjungi Pulau Rote dan bermalam di Pantai terindah di NTT yakni “Pantai Nemberala”.

Di Sumba Pernah Dinobatkan Sebagai ‘Rato’

Peristiwa yang hampir serupa pernah dialami mantan Gubernur DIK Jakarta itu di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu (12/7 2017). Kala itu, Jokowi dinobatkan sebagai Rato (sesepuh) masyarakat Sumba.

Dalam penobatan itu, Bupati Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur Markus Dairo Talu menyerahkan kepada Jokowi sebilah parang dan seekor kuda Sandelwood.

Baca juga: Kata Jokowi Soal Kunci Utama Persoalan Ekonomi di NTT

“Ini melambangkan presiden dinobatkan sebagai Rato (sesepuh) masyarakat Sumba Barat Daya, ” kata Markus, sebagaimana dilansir mediaindonesia.com.

selain pernah dikukuhkan jadi Rato di Sumba, 2 tahun lalu Jokowi pernah dinobatkan sebagai Raja Dayak. Pengukuhan itu terjadi ketika menghadiri acara Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2016 di Kalimantan Tengah.

“Ini wujud masyarakat Dayak mendukung pemerintahan Presiden Jokowi,” kata Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah Agustiar Sabran kala itu.

Pengukuhan mantan Walikota Solo itu sebagai raja Dayak, disaksikan oleh sejumlah tokoh Dayak Kalimantan Tengah . Hadir bersama saat itu beberapa menteri Kabinet Kerja dalam rombongan Presiden Jokowi, antara lain Menko PMK Puan Maharani dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung, serta Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi SP.* (RSF)