Catatan Menuju PESPARANI Katolik di Kota Ambon

Catatan Menuju PESPARANI Katolik di Kota Ambon

KIRIMAN PEMBACA, dawainusa.com Indonesia merupakan salah satu negara paling besar di dunia, negara yang dikenal dengan beragam kebudayaan, bahasa, suku, ras dan agama.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa perbedaan itu sesungguhnya merupakan kekayaan terbesar bagi bangsa Indonesia, sebagai suatu hal yang baik sebagai kelebihan dan harus di terima oleh semua kalangan sebagai makluk sosial.

Berbicara tentang Indonesia berarti kita juga akan berbicara tentang Maluku, karena pada kenyataannya Maluku adalah salah satu provinsi tertua dan provinsi yang mempunyai andil besar dalam proses perjuangan untuk memerdekakan dan juga terlibat secara aktif dalam prosespembangunan bangsa Indonesia.

Baca juga: Hierarki Diantara Politik dan Tugas Utamanya

Maluku Era Konflik

Maluku sejak tahun 1999 sampai pada tahun 2002 sempat mengalami masalah kesenjangan sosial yang mana pada saat itu kita kenal dengan namanya kerusuhan Ambon. Kerusuhan dikala masa itu menimbulkan banyak sekali kerusakan harta kekayaan, memakan begitu banyak sekali korban jiwa, sehingga pada akhirnya mengalami kelaparan dan kemiskinan.

Pada masa yang sangat sulit dan memprihatinkan itu, kemudian orang Maluku boleh melewatinya dan kemudian kembali merefleksikan pada saat damai dengan segudang pertanyaan; Mengapa kita harus saling membunuh? Mengapa kita harus saling bermusuhan antara satu dengan yang lain? Tidakkah kita bisa hidup damai, hidup berdampingan sebagai orang Maluku?

Lewat pertanyaan-pertanyaan itu,maka muncullah berbagai jawaban; ada yang menafsirkan bahwa akibat dari konflik itu adalah masalah agama atau masalah identitas keagamaan yang mana sangat identik sekali dengan sapaan nama Acang dan Obet. Acang sebagai panggilan identik nama bagi kalangan agama Islam, sedangkan Obet identik dengan panggilan Agama Kristen dan Katolik.

Baca juga: Catatan Kritis Atas Regulasi Tentang Tenaga Honorer di Indonesia

Ada juga yang menafsirkan bahwa konflik itu terjadi karena masalah Ekonomi dan Politik, dan ada juga yang sempat menafsirkan akan konfik itu sebagai akibat dari keinginan orang Maluku untuk merdeka atau segera melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang mana perjuangan saat itu dipakai adalah Republik Maluku Selatan (RMS).

Dari berbagai tafsiran isu dimaksudkan itu kemudian memancing kemarahan dan terjadilah konflik ataukerusuhan yang berkepanjangan. Melihat akan masalah dimaksud, ada beberapa narasumber yang menjelaskan secara baik dalam berbagai moment terkait munculnya masalah kerusuhan Ambon di Maluku itu.

Misalkan, Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) menjelaskan banyak pihak menyebut konflik di Maluku karena masalah agama. Padahal, menurut JK, konflik Maluku terjadi karena masalah ekonomi dan politik yang kemudian dibawa ke isu agama.

“Apabila berbicara tentang konflik Maluku, banyak orang menyangka itu konflik agama. Memang pada akhirnya adalah konflik agama, tapi sebabnya bukan konflik agama,” kata JK di Hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (10/7/2018) pada acara Sarasehan Nasional tentang Merawat Perdamaian-Belajar Dari Resolusi Konflik dan Damai di Maluku.

Selain JK yang telah memberikan penjelasan tentang akibat dari konflik di Maluku, saya salah satu putera asal Maluku yang dalam berbagai pertemuan di berbagai moment, selalu saja saya mengingatkan kepada masyarakat Indonesia bahwa masyarakat Maluku hari ini hidupnya sudah sangat terasa aman, nyaman dan damai. Masyarakat Maluku hidup dengan tingkat kebahagiaan yang sangat baik di Indonesia.

Itu berkat pembelajaran dari masa lalu di tahun 1999-2002. Kalau mau belajar damai datanglah belajar damai di Maluku, karena saat ini wilayah-wilayah di luar Maluku selalu berbicara tentang mayoritas dan minoritas untuk mengganggu kenyamanan di daerah, maka kami saat ini di Maluku masalah itu sudah tuntas, sudah kami lewati, sudah kami kuburkan di tahun 2002 dan tidak akan terulang lagi.

Simbol Pemersatu

Spirit “Ale rasa Beta rasa” bukan hanya merupakan panduan etik bagi orang-orang Maluku akan tetapi sebagai umat manusia kita juga hampir tak dapat mengelak bahwa kita semua terlahir dari satu kandungan. Jika ditelusuri asal usul manusia, maka sesungguhnya kita percaya bahwa dari kandungan yang sama kita dilahirkan dan beranak cucu dari generasi ke generasi.

Menjadi pertanyaan kritis, jika semua adalah satu mengapa dulu kita harus saling membenci, saling membunuh, saling melukai bahkan saling merusak satu sama lain? Ketika saat ini kita sadar bahwa kita adalah satu, maka semestinya kita harus makin kompak dan solid membangun masa depan bersama yang damai dan sejahtera.

Fakta dulu atau sebelumnya menyatakan bahwa semangat “Ale rasa Beta rasa” kian tergerus oleh sifat mencari kepentingan diri sendiri (individualisme), memaksakan kehendak sendiri (egoisme), memperjuangkan kepentingan sekolompok orang (parokhialisme) bahkan menebalkan ekslusivisme agama sendiri (fanatisme sempit). Orang tidak merasakan derita orang lain sebagai bagian dari deritanya.

Konsep “potong di kuku rasa di daging” seakan hanya slogan semata. Fakta hari ini telah mengembalikan fakta sebelumnya, bahwa orang Maluku yang dulunya memiliki sifat mencari kepentingan diri sendiri, memaksakan kehendak sendiri, memperjuangkan kepentingan sekolompok orang bahkan menebalkan ekslusivisme agama sendiri,.

Maka saat ini telah diberlakukannya revitalisasi semangat Ale rasa Beta rasa bagi komunitas orang Maluku, bahkan spirit tersebut telah ditransformasikanmenjadi bagian dari spirit bersama sebagai bangsa bahkan warga dunia.

Hari ini, ketika semua elemen bangsa menyadari sungguh bahwa kita semua adalah satu (Bhineka Tunggal Ika) maka rasa saling percaya, saling memiliki, saling menghargai saling menghormati dan saling menolong satu sama lain, makadengan sendirinya akan mendorong kita untuk maju bersama-sama.

Pandangan orang Maluku saat ini, spirit “Ale Rasa Beta Rasa” bukan sekedar meromantisir identitas orang Maluku di tanah rantau. Menegaskan spirit ale rasa beta rasa merupakan sebuah ikhtiar untuk membangun persaudaraan sejati, solidaritas dan kebersamaan yang kukuh demi masa depan bersama yang lebih baik.

Menegaskan spirit ale rasa beta rasa, sekaligus menegaskan bahwa rasa yang terlahir dari jiwa lebih kuat daripada sekedar rasio yang seringkali mengkotak-kotakan manusia.

Bicara tentang persaudaraan sejati dalam konteks “Ale rasa Beta rasa” per hari ini telah menjadi makna yang sangat sempurna dan sangat berarti bagi masyarakat Maluku dalam kelangsungan hidup sebagai makluk sosial menuju pembangunan Maluku yang sejahtera, belajar dari resolusi konflik Maluku di tahun 1999-2002.

Slogan “Ale rasa Beta rasa” saat ini sejalan dengan keinginan orang Maluku yang di tanggap dan di jabarkan oleh setiap kandidat Gubernur – Wakil Gubernur dalam visi dan misi pada setiap periodisasi pemerintahan berlangsung.

Hal demikian di buktikan dalam berbagai konteks, moment dan berbagai kepercayaan yang di berikan kepada Maluku misalkan, pada tahun 2012 pemerintah pusat memberikan kepercayaan kepada Provinsi Maluku untuk di letakannya Gong Perdamaian Dunia yang berlokasi di kota Ambon sebagai induk Ibukota Provinsi Maluku dan sebagai simbol perdamaian bagi seluruh masyarakat di dunia.

Dalam konteks yang sama, pada moment keagamaan di tahun 2013 Maluku diberikan kepercayaan oleh pemerintah pusat untuk menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Islam tingkat Nasional yang bertempat di kota Ambon, pada tahun 2015 di berikan kepercayaan lagi oleh pemerintah pusat untuk menyelenggarakan Pesta Paduan Suara Gerejawi (PESPARAWI) Kristen tingkat Nasional di kota Ambon.

Pada tanggal 27 Oktober sampai 02 November 2018 kepercayaan itu datang lagi dari pemerintah pusat kepada masyarakat Maluku untuk melaksanakan kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik tingkat Nasional I di kota Ambon, Maluku.

Momentum PESPARANI Katolik tingkat Nasional I yang akan berlangsung di kota Ambon dalam waktu dekat (27 Oktober – 02 November 2018) telah di rancang dengan matang sejak awal tahun 2013 sehingga pada pertengahan tahun 2014 di Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku, dimana saat itu berlangsungnya PESPARANI tingkat Keuskupan Amboina ke III maka ditandatangani sekaligus peluncuran kesepakatan akan di laksanakannya PESPARANI Katolik tingkat Nasional I di kota Ambon oleh Pemerintah Pusat.

Penandatanganan ini diwakilkan oleh Bapak Lukman Hakim jabatan sebagai Menteri Agama RI, didampingi oleh Bapak Eusabius Binsasi selaku Dirjen Bimas Katolik RI, Gubernur Maluku Ir. Said Assagaff, Uskup Diosis Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC., Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik (LP3K) Provinsi Maluku, Bapak Angki Renyaan serta di saksikan oleh biarawan – biarawati dan umat sekalian.

Gereja Katolik wilayah Keuskupan Amboina secara khusus dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) secara umumnya di masa ini telah melihat bahwa PESPARANI Katolik Nasional I yang akan berlangsung di kota Ambon sebagai salah satu bentuk untuk mempersatukan bangsa Indonesia, dimana dapat dilihat dari tema besar PESPARANI itu sendiri “Membangun Persaudaraan Sejati” dengan motonya Dari Maluku Untuk Indonesia.

Hal demikian di sampaikan oleh Uskup Diosis Amboina dalam berbagai pertemuan bawasannya; “Kegiatan ini bukan hanya milik umat Katolik semata, melainkan milik semua agama yang ada di republik ini secara umum, dan umat beragama di Maluku khususnya” mengapa demikian, sebenarnya PERSPARANI ini pestanya umat Katolik, tapi yang menyelenggarakan justru umat Muslim, umat Protestan dan umat lainnya, persaudaraan sejati itu kita temukan disini.

Penegasan

Pada pembahasan di atas, hendaklah saya menyampaikan beberapa point penegasan yang perlu di lihat secara baik dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, diantaranya:

Pertama, Jika masyarakat Indonesia ingin belajar tentang keberagaman dan kerukunan antar umat beragama, datang dan belajar di Maluku karena Maluku tempat yang sangat tepat.

Kedua, Maluku saat ini sudah sangat aman dan damai, tidak ada lagi perpecahan/konflik/kerusuhan. Maluku saat ini tidak lagi bicara tentang mayoritas dan minoritas di daerah, Maluku saat ini bicara tentang persaudaraan sejati lewat filosofi “Ale Rasa Beta Rasa”

Ketiga, PESPARANI Nasional I yang akan berlangsung di Kota Ambon sebagai salah satu bentuk pemersatu masyarakat Indonesia.

Oleh: Anakletus Fasak* (Pengurus Pusat PMKRI)