Dawainusa.com – Nama Carlo Acutis, remaja asal Italia yang meninggal pada tahun 2006 silam serentak menjadi terkenal di seluruh dunia.

Dilansir dari Katoliknes pada Sabtu (3/10/2020), remaja ini diketahui adalah seorang gamer dan progammer komputer.

Tidak hanya itu, selama hidupnya Carlo juga dikenal sangat menyukai sepak bola dan Ekaristi. Lantas, siapakah Carlo Acutis sebenarnya?

Baca jugaPaus Emeritus Benediktus XVI Diakui sebagai Paus Tertua dalam Sejarah

Sosok Carlo Ocutis

Dikutip dari KatolikNews, Carlo Ocutis lahir pada 3 Mei 1991, di London, tempat orang tuanya bekerja.

Tidak lama setelah beberapa bulan setelah kelahirannya, orang tuanya, Andrea Acutis dan Antonia Salzano, pindah dan menetap di Milan.

Perjalanan hiduonya yang masih begitu muda harus melewati penderitaan. Saat remaja, Carlo didiagnosis menderita leukemia.

Dia mempersembahkan penderitaannya untuk Paus Benediktus XVI dan Gereja, di mana ia mengatakan “Aku mempersembahkan semua penderitaan yang harus aku derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja. “

Carlo meninggal pada 12 Oktober 2006 dan dimakamkan di Assisi atas permintaannya, karena cintanya kepada Santo Fransiskus Assisi.

Prosesnya mendapat gelar suci dimulai pada 2013. Dia ditetapkan sebagai “Yang Mulia” pada tahun 2018 dan akan ditetapkan sebagai “Diberkati” pada 10 Oktober.

Carlo Acutis
Carlo Acutis/KatolikNews

Baca jugaPaus Emeritus Benediktus XVI Dikabarkan Sakit Parah, Begini Kondisinya

Sejak usia muda, Carlo tampaknya memiliki cinta yang khusus kepada Tuhan, meskipun orang tuanya tidak terlalu taat dengan agama.

Ibunya mengatakan bahwa dia sebelumnya hanya ikut Misa saat Komuni Pertama, menerima Sakramen Krisma dan pernikahan.

Tapi sebagai seorang anak kecil, Carlo suka sekali berdoa rosario. Setelah dia menerima Komuni Pertama, dia rajin ikut Misa, menyiapkan waktu hening sebelum dan setelah Misa.

Tidak hanya itu, Carlo Ocutis juga mengaku dosa setiap Minggu.

Dia meminta orang tuanya untuk membawanya berziarah – ke tempat-tempat para kudus, dan ke situs-situs mukjizat Ekaristi.

Ada buah dari kesaksian hidup Carlos Acutis, dimana di usianya yang masih sangat muda, cara hidupnya membawa pertobatan yang mendalam pada ibunya.

Hal itu karena menurut imam yang mempromosikan upaya menjadikannya sebagai orang suci, dia “berhasil membawa kerabatnya, orang tuanya untuk Misa setiap hari.”

“(Yang terjadi) bukan sebaliknya; bukan orang tuanya yang membawa anak laki-laki itu untuk ikut Misa, tetapi dialah yang berhasil membawa dirinya untuk ikut Misa dan meyakinkan orang lain untuk menerima Komuni setiap hari.”

Dia dikenal karena membela anak-anak di sekolah yang dicemooh, terutama anak-anak disabilitas.

Ketika orang tua seorang temannya akan bercerai, Carlo Acutis melakukan upaya khusus, membawa temannya itu ke dalam keluarganya.

Dan dia mempromosikan mukjizat Ekaristi, terutama melalui situs web yang dia bangun.

Di situs itu, dia mengatakan bahwa “semakin sering kita menerima Ekaristi, kita akan semakin menjadi seperti Yesus, sehingga di bumi ini kita akan merasakan surga.”

Ketika Carlo Acutis jatuh sakit, kehidupan imannya makin kuat.

Dia sengaja mempersembahkan penderitaannya untuk Gereja, paus, dan orang-orang yang menderita penyakit.

Sebagaimana dilaporkan Catholic News Agency (CNA), Carlo suka bermain video game.

Dia juga seorang programmer, di mana membangun situs web yang memuat katalog mukjizat Ekaristi di seluruh dunia.

Apakah tubuhnya tidak rusak saat digali untuk kemudian dihormati sebelum proses beatifikasi?

Awalnya, ada kabar bahwa jenazah Carlo Acutis ditemukan dalam keadaan utuh.

Namun, seorang juru bicara untuk upacara beatifikasi ini mengatakan kepada CNA bahwa seluruh tubuhnya masih ditemukan saat digali, tetapi “tidak sepenuhnya utuh.”

Tubuhnya dibaringkan di kuburan kaca di mana dia dapat dihormati oleh para peziarah sampai 17 Oktober.

Dia ditampilkan dengan jeans dan sepasang sepatu Nike, pakaian kasual yang dia sukai dalam hidup.

Pastor Carlos Acácio Gonçalves Ferreira, pimpinan tempat jenazah Carlos ditempatkan mengatakan, untuk pertama kalinya dalam sejarah orang suci mengenakan pakaian seperti itu.

“Ini adalah pesan yang luar biasa bagi kita; kita dapat merasakan bahwa kekudusan bukanlah hal yang jauh tetapi sangat dapat dijangkau setiap orang karena Tuhan adalah untuk semua orang,” katanya.*