Bunuh Temannya, Polisi Akan Periksa Kejiwaan Gadis 15 Tahun Ini

Kasubag Humas Polres Rote Ndao Aipda Anam mengatakan, jasad Jusuf ditemukan di pos penjagaan Covid-19 pada Selasa lalu.
Ilustrasi - ist

JAKARTA, dawainusa.com Tes kejiwaan terhadap NF (15), remaja yang bunuh temannya di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat, akan segera dilakukan. Hal tersebut disampaikan Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Heru Novianto, Sabtu (7/3/2020).

Menurut Heru, tes kejiwaan terhadap siswi SMP itu dilakukan berdasarkan data-data yang diperoleh dan coretan di buku serta papan tulis milik NF yang diamankan sebagai barang bukti.

“Ini butuh pendalaman lebih dalam, mungkin kami akan panggil ahli kejiwaan (psikiater) karena data-data yang kami dapat ada hal-hal yang agak berbeda,” ujar Heru seperti dikutip Antara.

Baca juga: Cerita Siswi SMP yang Membunuh Anak Kecil dalam Lemari

Berdasarkan hasil olah TKP, polisi menemukan coretan di dalam buku tulis pelajaran dan sebuah papan tulis berupa curahan hati NF. NF mencurahkan kekesalannya terhadap sosok sang ayah dalam buku tersebut.

“Anak ini cukup cerdas, berkemampuan Bahasa Inggris cukup baik. Dan dia mengungkapkan berbagai perasaannya itu dalam berbagai tulisan,” kata Wakapolres Jakarta Pusat AKBP Susatyo Purnomo.

“Ungkapan-ungkapan perasaannya tertulis dan lebih menark lagi bahwa apa yang dilakukan hari ini. Ini sudah tergambar,” ujarnya menambahkan.

Posisi mayat korban anak kecil di dalam lemari pakaian 1
Posisi mayat korban anak kecil di dalam lemari pakaian – (facebook)

 

Bunuh Temannya, Terinspirasi Film Horor

Pengakuan yang dilontarkan oleh NF juga menjadi bukti yang mendasari pemeriksaan kejiwaannya.

Heru mengatakan, NF mengaku membunuh korban dengan kesadaran diri, tanpa dipaksa oleh siapapun. Ia terinspirasi film yang ditontonnya setahun silam.

“Beberapa hal yang menjadi catatan kami dan pengakuan dari seorang NF, tersangka melakukan dengan kesadaran diri dan dia terinspirasi kalau berdasarkan tadi kita wawancara dia tadi terinspirasi oleh film,” kata Heru.

Baca juga: Soal Tak Hafal Pancasila, Ini 5 Poin Tanggapan Finalis Puteri Indonesia

Meski demikian, Heru mengatakan, pihaknya masih terus melakukan penyelidikan soal motif pelaku melakukan tindakan kejinya ini.

“Masih kita dalami, dari pengakuan dia pernah nonton setahun lalu. Tapi ini masih kita dalami karena ini unik,” ucapnya.

Cerita Siswi SMP yang Membunuh Anak Kecil dalam Lemari 1
Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Susatyo Purnomo memperlihatkan buku catatan milik remaja 15 tahun yang bunuh bocoh 6 tajun di Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2020).

Kronologi Bocah Bunuh Temannya

Kronologi kejadian bocah bunuh temannya ini terbilang cukup dramatis. Sebelum dibunuh, pelaku mengikat korban. Ia bahkan nekat menyembunyikan mayat korban di dalam lemari pakaian kamarnya.

Menurut Heru, NF sebenarnya tidak ingin menyembunyikan mayat korban di lemari pakaiannya. Tetapi saat itu hari sudah mulai sore, pelaku pun mengurungkan niatnya untuk membuang mayat korban.

“Awalnya mau dibuang, tapi karena sudah menjelang sore akhirnya disimpan di dalam lemari,” ujar Kapolres usai melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), Jumat (6/3/2020).

Baca juga: Suaminya Ternyata Wanita, Sang Istri Menangis di Malam Pertama

Keesokan paginya, NF berniat untuk membuang mayat korban. Tapi ia bingung bagaimana harus melakukannya. Ia lalu berinisiatif untuk berangkat ke sekolah berseragam lengkap.

“Besok paginya tersangka ini akan membuang tapi bagaimana caranya dia bingung. Akhirnya dia berangkat ke sekolah pakai seragam,” kata Heru.

Namun, bukannya datang ke sekolah, dalam perjalanan menuju ke sekolah NF malah rubah haluan menuju Polsek Metro Tamansari untuk menyerahkan diri. NF terbilang nekat. Dihadapan kepolisian, ia mengaku telah membunuh temannya tersebut.

“Di tengah jalan dia tidak sekolah dan berganti pakaian preman yang sudah disiapkan dan pada saat itu dia melaporkan diri,” tuturnya.*

Artikulli paraprakCerita Siswi SMP yang Membunuh Anak Kecil dalam Lemari
Artikulli tjetërNajwa Shihab Tanggapi Soal Kalista Iskandar Tak Hafal Pancasila