Buang Bayinya Sendiri, Mahasiswi Kedokteran Hewan Undana Terancam Pidana Maksimum

Buang Bayinya Sendiri, Mahasiswi Kedokteran Hewan Undana Terancam Pidana Maksimum

Pelaku pembuang bayi akan dikenai hukuman sesuai dengan ketentuan Pasal 308 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). (Foto: Pelaku pembuangan bayi di Larantuka - ist)

LARANTUKA, dawainusa.com Pelaku pembuang bayi di belakang rumah kos-kosan di Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka berhasil diamankan pihak Kepolisian Resor Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan keterangan Kapolres Flores Timur AKBP, Arri Vaviriyanto, pelaku tersebut berinisial MO (20) dan merupakan mahasiswi aktif dari Fakultas Kedokteran Hewan di salah satu perguruan tinggi di Kota Kupang, NTT.

“Pelaku adalah mahasiswi kedokteran hewan. Ia kuliah di Kota Kupang, tetapi berasal dari Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur,” jelas Arri.

Baca juga: Pilgub NTT, Paket HARMONI Penuhi Syarat Mendaftar ke KPU

Menurut Arri, atas dasar tindakannya itu, pelaku akan dikenai hukuman sesuai dengan ketentuan Pasal 308 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Dalam pasal itu ditulis, jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meningggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.

“Adapun ancaman pidana maksimum yang terdapat dalam Pasal 305 KUHP (tentang menaruh anak di bawah umur tujuh tahun di suatu tempat agar dipungut orang lain dengan maksud terbebas dari pemeliharaan anak itu) adalah lima tahun enam bulan,” kata Arri.

Berawal Dari Cerita Buang Air Kecil

Penemuan bayi yang diketahui berjenis kelamin perempuan itu dikabarkan diketahui oleh seorang warga bernama Fransiskus Wuring Basa. Awalnya, Fransiskus keluar dari rumah untuk membuah air kecil.

“Setelah selesai buang air kecil, saya hendak masuk ke kamar untuk tidur. Namun, saya mendengar suara tangisan bayi sehingga dengan menggunakan senter dari telepon genggam, saya mencari arah datangnya suara tersebut,” jelas Fransiskus.

Baca juga: Pilbub Kupang, Ini Yang Dilakukan KPU Antisipasi Cabub Pengguna Narkoba

Tidak lama kemudian, lanjut Fransiskus, Ia menemukan seorang bayi yang masih berbaring di tanah tepat di belakang kos-kosan milik Petrus Payong Sabon. Bayi itu, katanya, masih memiliki tali pusar yang baru saja dipotong.

Melihat hal itu, Fransiskus langsung memberitahukan kepada warga setempat. Ia bersama para warga kemudian membawakan bayi itu ke RSUD Larantuka untuk mendapatkan perawatan medis.

Buang Bayinya Sendiri, Bukan Kali Pertama di NTT

Kasus pembuangan bayi memang telah menjadi fenomena yang marak terjadi belakangan ini. Dari sekian banyak kasus yang terjadi, berikut beberapa kasus yang berhasil dihimpun dawainusa.

Pertama, penemuan bayi berjenis kelamin laki-laki di belakang Pos TNI Angkatan Udara (AU), Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Selasa (10/10) lalu.

Baca juga: Pencarian Seorang Pastor Karmel yang Diduga Tenggelam Dihentikan

Bayi yang ditemukan itu dikabarkan masih hidup dengan usia sekitar 4 bulan. Setelah ditemukan, bayi tersebut langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk diperiksa kesehatannya.

Kedua, peristiwa penemuan bayi oleh warga Kampung Oefunu, Desa Toobaun, Kecamatan Amarasi Barat di Jalan H.R. Koroh menuju arah Baun Juni 2016 lalu. Bayi yang ditinggal lepas ibunya itu diketahui berjenis kelamin laki-laki.

Saat ditemukan, bayi bernasib malang itu dalam keadaan terbungkus kantong plastik warna merah dan berpakaian lengkap. Usianya diperkirakan sekitar 2 hari.

Ketiga, bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan di tempat sampah warga RT 41/RW 13, Kelurahan Fatululi, Kota Kupang, Juli 2016 lalu. Bayi itu diketahui merupakan buah hati dari pasangan DL (23) dan Dedy.

Ketika ditemukan, bayi itu masih dalam kondisi hidup. Kemudian dilarikan ke RSUD WZ Johanes Kupang. Sayangnya, setelah tiga hari di RS, nyawa bayi itu tidak tertolong.

Keempat, penemuan bayi dengan jenis kelamin perempuan juga terjadi di pinggir tebing Wolong Kitang, Desa Hokor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka Juli 2016 pagi.

Bayi ini ditemukan oleh seorang bocah berusia 13 tahun ketika Ia hendak melihat jeratan burung di tempat itu. Saat itu, kondisi bayinya sungguh miris karena diisi dalam karung bekas kantong semen.* (YAH).