Hati-hati! BMKG Temukan Titik Panas di Wilayah Manggarai Barat NTT

BMKG Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menemukan satu titik panas di wilayah tersebut

Hati-hati! BMKG Temukan Titik Panas di Wilayah Manggarai Barat NTT
Ilustrasi - ist

KUPANG, dawainusa.com – Pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menemukan satu titik panas di wilayah tersebut.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Helny Yovin Mega Milla pada Kamis (5/8) mengungkapkan, titik panas tersebut ditemukan di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat.

Baca juga: Waspada! Ada 57 Kecamatan di NTT Alami Kekeringan Ekstrim

“Titik panas di wilayah NTT yang terdeteksi hanya satu, yakni berada di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat,” ujar Mega Milla.

Mega Milla mengungkapkan, titik panas tersebut diketahui berdasarkan pantauan satelit Terra, Aqua, Suomi NPP dan NOAA20 oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

BMKG Juga Temukan Titik Panas di Sejumlah Daerah Lain di NTT

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pihak BMKG juga mendeteksi bahwa ada 7 titik panas di wilayah Provinsi NTT pada 28 dan 29 Juli 2021.

Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Agung Sudiono Abadi mengatakan, tujuh titik panas tersebut tersebar di sejumlah daerah di NTT. “Tujuh titik panas tersebar di Kabupaten Kupang, Sumba Barat Daya, dan Sumba Timur,” kata Abadi di Kupang, Kamis (29/7).

Abadi memberikan rincian bahwa sejumlah titik panas tersebut terbagi menjadi 3 titik panas di Kabupaten Kupang, 3 titik panas di Sumba Timur, dan 1 titik di Sumba Barat Daya.

Baca juga: Wilayah NTT Dilanda Kekeringan Ekstrim, Warga Diminta Hemat Air

Adapun titik panas tersebut terpantau berdasarkan analisis peta sebaran titik panas dengan pantauan Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, dan NOAA20 oleh Lapan. “Tingkat kepercayaan di atas 80 persen,” kata Abadi.

Abadi menjelaskan anomali titik panas di NTT tersebut dideteksi oleh satelit dalam luasan satu kilometer persegi. Sementara itu, demikian Abadi, pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi dua hingga empat kali per hari.

Pada wilayah yang tertutup awan, lanjut Abadi, suhu panas tidak dapat terdeteksi. Selain itu, kekeringan dan embusan angin kencang juga menjadi penyebab tidak langsung dalam sebaran suatu titik panas tersebut.

Abadi juga mengatakan citra satelit hanya menilai anomali reflekstifitas dan suhu sekitar yang diinterpretasikan sebagai titik panas. “Penyebab adanya anomali tersebut tidak dapat kami pastikan,” tutur dia.*