Dawainusa.com Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyediakan layanan rapid test bagi warga atau pelaku perjalanan dalam rangka menekan persebaran Covid-19 di daerah tersebut.

Rapid test tentu tidak gratis seperti yang dibayangkan warga pada umumnya. Meskipun Ombudsman NTT pernah menyentil soal ini beberapa waktu lalu. Kita harus merogoh kocek sebesar Rp 250 ribu jika ingin melakukan rapid test.

Baca juga: 5 Provinsi dengan Kenaikan Kasus Harian Covid-19 Terbanyak

Hal ini ditegaskan Kepala UPT Laboratorium Kesehatan Provinsi NTT, Agustinus Sally. Mengutip Antara, Sally menjelaskan, biaya rapid test senilai Rp 250 ribu per orang tersebut merupakan bagian dari biaya administrasi.

“Mereka yang ingin melakukan tes harus membawa KTP, kemudian mendaftarkan diri sesuai dengan KTP, serta menyiapkan uang senilai Rp250 ribu untuk membayar,” katanya, Selasa (2/6/2020).

Banyaknya Antria Rapid Tes

Hasil rapid tes, ujar dia, akan langsung diketahui dalam kurun waktu sekitar dua sampai tiga jam, karena memang membutuhkan waktu dan banyak orang yang mengantre untuk melakukan pemeriksaan.

Menurutnya, jika ditemukan ada reaktif dalam pemeriksaaan, maka yang bersangkutan akan langsung dirujuk untuk melakukan pemeriksaan swab di rumah sakit untuk memastikan reaktif karena COVID-19 atau bukan.

Hampir setiap hari sejak pukul 07.00 sampai 14.00 Wita puluhan warga serta pelaku perjalanan berkumpul di kantor UPT Labkes NTT itu untuk memeriksa kesehatan mereka.

“Dalam sehari mencapai puluhan orang yang ingin melakukan rapid test, dan memang yang mendominasi adalah mereka yang ingin melakukan perjalanan” ujar dia.

Meski demikian, pihaknya mematok target dalam sehari hanya melayani 150 rapid tes. Para pelaku perjalanan melakukan pemeriksaan rapid test untuk memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan keluar daerah.*