Benarkah Kubu Oposisi Inisiasi Tagar #PrabowoBersamaHTI di Twitter?

Benarkah Kubu Oposisi Inisiasi Tagar #PrabowoBersamaHTI di Twitter?

FOKUS, dawainusa.com Tagar #PrabowoBersamaHTI sedang ramai diperbincangkan di media sosial terutama Twitter. Tagar tersebut kemudian digaungkan warganet di tengah polemik pembakaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang dibakar anggota Banser NU di Garut, Jawa Barat, pada Minggu lalu.

Sejauh ini tagar tersebut menembus angka cuitan sekitar 10 ribu. Sejumlah warganet mencuitkan kritik mereka terhadap Prabowo yang diduga memiliki hubungan organisasi terlarang tersebut. Diketahui, HTI sendiri dilarang karena dianggap ingin mendirikan ‘Khilafah Islam’ dan mengganti Pancasila.

Sebelumnya, HTI disebut-sebut mendukung pasangan Prabowo-Sandi dalam Pilpres terkait dengan gerakan #2019GantiPresiden. Sebaliknya, Partai Gerindra juga mendukung HTI untuk mengajukan banding ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta atas pencabutan badan hukum.

Sementara itu, jauh sebelumnya HTI juga menyatakan dukungan terhadap gerakan #2019GantiPresiden untuk pemilihan presiden (Pilpres) nanti.

Baca juga: PP PMKRI Soal Sekolah Minggu Masuk RUU Pesantren

Organisasi yang telah dibubarkan pemerintah beberapa waktu lalu itu mengaku memiliki aspirasi yang sama dengan massa yang menginginkan perubahan kepemimpinan pada tahun depan.

“#2019GantiPresiden adalah gerakan rakyat yang sudah emoh terhadap rezim zalim, bohong, dan ingkar janji,” kata Juru bicara HTI, Ismail Yusanto kepada TEMPO, Selasa, 28 Agustus 2018.

Ismail menegaskan bahwa HTI memiliki semangat yang sama dengan gerakan yang diusung Mardani Ali Sera ini. Namun, Ismail membantah tegas dukungannya pada gerakan #2019GantiPresiden dilandasi cita-cita ingin mendirikan negara islam atau kilafah, sebagaimana yang diperjuangkan HTI selama ini. Menurutnya tuduhan seperti itu sama sekali tidak benar.

Ismail menyampaikan hal itu untuk menanggapi tudingan Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’aruf Amin, Maman Imanulhaq, menyebut HTI menunggangi massa gerakan #2019GantiPresiden. Maman menuding, kelompok ini tak hanya ingin mengganti presiden, tapi juga ideologi bangsa.

“Deklarasi #2019GantiPresiden ditunggangi oleh Kelompok HTI yang jelas HTI merupakan ormas terlarang,” kata politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini di Jakarta, Senin (27/8). Selain Maman, hal serupa disampaikan oleh Staf ahli Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Sri Yunanto.

“Ada penyebaran di media sosial bahwa #2019GantiPresiden itu ditunggangi oleh kelompok anti-NKRI,” kata Sri Yunanto.

Sri tak menyebut kelompok anti-NKRI yang dia maksud. Tetapi menurutnya, gerakan #2019GantiPresiden ditunggangi oleh kelompok tersebut karena memiliki kesamaan kepentingan yakni mengganti rezim yang telah membubarkan kelompoknya tersebut.

Sri bahkan menduga ada kontrak politik antara kelompok tersebut dengan penggagas aksi #2019GantiPresiden karena memiliki kepentingan yang sama, yaitu mengganti kepemimpinan.

“Rezim ini sekarang, Kumham bubarin. Siapa tahu kalau rezimnya ganti akan memberikan izin lagi dengan berbagai alasan di situ ada kepentingan politik. Bukan berarti yang #2019GantiPresiden ini anti-NKRI, tapi ada pemanfaatan di situ,” ucapnya.

Dari kedekatan anatara kubu opsisi dengan HTI tersebut, muncul pertanyaan benarkah kubu opsisi menagmbil inisiatif untuk membuat tagar #PrabowoBersamaHTI? Kemudian benarkah kubu oposisi melegalkan kembali HTI nantinya jika jagoan yang diusung menang di Pilpres?

#PrabowoBersamaHTI

#PrabowoBersamaHTI – Twitter

Respons Opisisi

Kubu Prabowo-Sandiaga merespons isu yang beredar soal tagar #PrabowoBersamaHTI di Twitter diinisiasi kubu oposisi. Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Siane Indriyani menegaskan pihaknya tidak menginisiasi tagar #PrabowoBersamaHTI yang kini tengah ramai di Twitter.

Menurutnya, hal itu dilakukan oleh pihak-pihak yang berusaha memfitnah dengan mengaitkan Prabowo-Sandi dan Hizbut Tahrir Indonesia yang telah dilarang di Indonesia.

“Itu hanya upaya adu domba. Jangan teruskan bikin fitnah yang macam-macam lah,” tutur Siane seperti dilansir CNNIndonesia.com, Jumat (26/10).

Baca juga: Jokowi-Sandi: Politik Sontoloyo vs Politik Ojo Loyo

Siane juga menampik Prabowo-Sandi bakal melegalkan kembali HTI jika terpilih melalui Pilpres 2019 mendatang. Ia pun kembali menegaskan bahwa isu tersebut dimainkan oleh pihak yang ingin menjatuhkan citra Prabowo-Sandi.

Dia tidak menyebut siapa pihak yang berupaya memfitnah Prabowo-Sandi. Siane hanya mengatakan alangkah baiknya jika tidak ada lagi fitnah dan kabar bohong atau hoaks. “Stop bikin fitnah, hoaks,” kata Siane.

Sementara itu anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan tagar tersebut merupakan salah satu bentuk kampanye hitam.Dia juga menyingung bahwa ini adalah taktik politik sontoloyo.

“Itu cara politisi sontoloyo, tagar #PrabowoBersama HTI berarti ini cara kampanye hitam untuk mendiskreditkan Prabowo. Ini tanda tanda orang panik takut kalah,” kata Andre.*