Bayar Oplas, Ratna Sarumpaet Diduga Pakai Dana Bantuan Korban Toba

Bayar Oplas, Ratna Sarumpaet Diduga Pakai Dana Bantuan Korban Toba

JAKARTA, dawainusa.com –  Dalam pengusutan kasus penyebaran hoaks Ratna Sarumpaet, ditemukan sejumlah fakta baru. Dalam proses pembayaran operasi, ada sesuatu yang dinilai janggal, salah satunya Ratna membayar operasi plastik menggunakan nomor rekening yang digunakan untuk menghimpun dana bantuan untuk korban tenggelamnya sebuah kapal di Danau Toba beberapa bulan lalu.

Hal itu disampaikan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Setyo. Setyo mengatakan dari tiga kali pembayaran sebesar Rp90 juta mulai tanggal 20-24 September 2018, nomor rekening BCA yang digunakan oleh Ratna untuk membayar operasi sama dengan nomor rekening yang digunakan menghimpun bantuan korban kapal tenggelam di Danau Toba.

Baca juga: Cerita Lengkap di Balik Drama Kebohongan Sarumpaet

“Rekan-rekan kalau buka di internet beliau gunakan rekening itu untuk dana di Danau Toba, nanti bisa dilihat sendiri. Itu dalam proses penyidikan, penyidik menemukan beliau melakukan pembayaran di rumah sakit dengan menggunakan rekening itu,” kata Setyo di Hotel Amoz, Jakarta Selatan, Kamis (4/10).

Setyo enggan berkomentar banyak terkait dugaan adanya penyalahgunaan hasil dana yang dihimpun Ratna untuk korban kecelakaan kapal di Danau Toba.

Karena kesamaan nomor rekening itu ditemukan secara tidak sengaja. “Itu nanti rekan-rekan bisa lihat sendiri secara kebetulan saja penyidik mendapatkan keterangan itu,” tutupnya.

Menyebar Hoaks, Polisi Akan Segera Panggil Ratna Sarumpaet

Setyo juga mengatakan, bahwa pihak kepolisian akan memproses kasus penyebaran hoaks yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet. Bahkan kepolisian akan segera memanggil Ratna untuk dimintai keterangan.

“Kita upayakan segera mungkin (memanggil Ratna), saya sudah nendengarkan rekan-tekan dari penyidik Polda Metro Jaya, mereka komitmen segera menuntaskan dan mengunpulkan barang keterangan, membuat gambaran utuh semakin jelas sehingga peran orang per orang itu jelas,” ujar Setyo.

Meskipun sudah mengakui bahwa Ratna membuat kebohongan, pihak kepolisian belum menetapkan Ratna sebagai tersangka. Alasannya, Setyo menjelaskan, karena pihak kepolisian ingin mengungkapkan kasus secara utuh terlebih dahulu.

Baca juga: Fahri Hamzah Nilai Kasus Ratna Sarumpaet Bisa Untungkan Prabowo

Selain Ratna, kemungkinan kepolisian juga akan memanggil pihak-pihak lain yang diduga ikut berkontribusi menyebarkan hoaks tersebut untuk dimintai keterangan. Namun, pihak Setyo masih belum menyebutkan siapa saja yang dipanggil nantinya.

“Ada peran orang-orang terkait ini setelah diminta keterangan, barang bukti akan terlihat jelas peran masing-masing di dalam kasus itu,” ujar Setyo.

Sebelumnya pihak kepolisian juga sudah melalukan penyelidikan terkait yang awalnya dugaan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet pada 21 September 2018, namun ternyata setelah ditelusuri Polda Metro Jaya dan Polda Jabar Ratna tidak mengalami penganiayaan, tapi malah melakukan perawatan kecantikan di RS Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat.

Soal Pihak Terkait Penyebar Hoaks

Sementara itu, terkait pihak terkait yang turut menyebar kebohongan seperti disebut pihak kepolisian belum tentu bisa diproses huku. Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Hukum Pidana UGM Eddy Hiariej.

Eddy mengatakan, selama tak terbukti bersekongkol untuk menyebarkan hoaks dengan Ratna mereka tak bisa dipidana. Sementara, kata Eddy, Ratna Sarumpaet justru dinilai bisa dijerat meski tak pernah menyebarkan secara langsung kabar penganiayaan itu kepada publik.

Baca juga: Soal Kasus Ratna Sarumpaet, Apakah Fadli Zon Cs Bisa Dipidana?

“Objektif saja. Memang orang-0rang seperti Fadli Zon itu tidak bisa dijerat, karena mereka juga korban kebohongan Ratna,” ujarnya. “Kecuali bisa dibuktikan ada persekongkolan, itu baru bisa [dijerat pidana],” sambungnya.

Sebelumnya, kabar penganiayaan Ratna disebar lebih dulu melalui media sosial oleh sejumlah politikus oposisi. Misalnya, Fadli Zon, Rachel Maryam, Ferdinand Hutahaean, dan Andi Arief.

Kabar itu kemudian dipertegas oleh calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto lewat konferensi pers. Namun, Ratna kemudian mengaku berbohong soal penganiayan itu.*