Baru Terbongkar, Ini Kronologi Mahasiswi UGM Diperkosa Rekannya saat KKN

Baru Terbongkar, Ini Kronologi Mahasiswi UGM Diperkosa Rekannya saat KKN

SLEMAN, dawainusa.com Pemerkosaan yang dialami oleh Agni, mahasiswi Universitas Gadja Madah (UGM), yang dilakukan oleh rekannya saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku pada Juni 2017 silam mencuat ke publik dan menjadi bahan perbincangan.

Selama ini, kasus tersebut terkesan ditutup-tutupi dan baru mengemuka dan menjadi polemik di internal kampus setelah Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung menulis kasus tersebut dengan judul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”.

Setelah semuanya terbuka, Agni yang merupakan mahasiswi Fisipol angkatan 2014 muncul dan menceritakan kejadian yang dialaminya.

Baca juga: Pemerkosaan di Bali, Tergoda Turis yang Tidur Tanpa Busana

Kronologi Agni diperkosa Rekannya

Berdasarkan cerita Agni yang ditulis Balairungpress, peristiwa pelecehan terjadi pada 30 Juni 2017, ketika Agni singgah di pondok pria karena terjebak hujan di perjalanan menuju pondok rekan wanitanya.

Karena sudah larut malam dengan kondisi desa yang gelap dan hujan, Agni dipersilahkan pelaku HS yang merupakan sesama Mahasiswa UGM untuk menginap. Terbatasnya tempat dan segala kondisi di luar membuat Agni dan HS pun tidur satu kamar dengan posisi tidur yang berjauhan.

Baca juga: Kronologi Kasus Pemerkosaan yang Dilakukan Pria Asal NTT di Bali

HS melakukan asusila terhadap Agni saat sedang tertidur. Agni sempat membalikkan badan menjauhi HS, tetapi HS menarik badannya dan mengulangi perbuatannya dengan lebih beringas.

“Saya pura-pura tidur dan berharap pelaku segera menghentikan perbuatannya. Saat itu aku tidak mampu berkata-kata. Aku hanya tanya ‘kamu ngapain?’” tutur Agni.

Esok harinya Agni memutuskan untuk menghubungi temannya yang di Jogja untuk bercerita karena merasa gelisah. Teman Agni lantas menyuruhnya untuk melaporkan pelaku kepada Koordinator Mahasiswa Subunit (Kormasit), Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit), dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).

Tak butuh waktu lama sampai kejadian tersebut diketahui seluruh anggota subunit, mereka pun sepakat melaporkan HS kepada Adam Pamudji Rahardjo, DPL mereka. HS mengatakan bahwa ia khilaf meraba dan memainkan bagian tubuh Agni, tanpa menyebutkan bahwa tindakan itu dilakukan tanpa izin.

Namun salah satu pejabat di DPKM yang tidak ingin disebutkan identitasnya menyarankan diselesaikan secara baik-baik dan kekeluargaan, sehingga tidak mengakibatkan keributan.

“Jangan menyebut dia (Agni) korban dulu. Ibarat kucing kalau diberi gereh (ikan asin dalam bahasa jawa) pasti kan setidak-tidaknya akan dicium-cium atau dimakan,” tuturnya menganalogikan.

Setelah laporan kasus bergulir, HS pun ditarik dari lokasi KKN dan kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 2017. Dasar penarikan tersebut adalah HS sudah tidak diterima oleh teman-temannya sehingga tidak lagi kondusif menjalankan program.

Beberapa pejabat DPKM kemeudian bertemu Agni. Mereka adalah Adam (DPL), Heru (Korwil), dan Djaka Marwasta (Kepala Subdirektorat KKN). Pada saat bertemu dengan Agni itu pula Djaka menyatakan bahwa dirinya tidak bisa memberikan sanksi DO kepada HS. Alasannya sanksi DO harus melalui prosedur pengajuan aduan ke komite etik UGM.

Sementara kasus kekerasan seksual yang dialami Agni dianggap bukan termasuk pelanggaran berat sehingga tidak perlu penanganan yang serius.

Respons Civitas Akademik UGM

Kasus Agni memunculkan beragam respon dari publik, terutama civitas akademik UGM. Pihak kampus dianggap menutupi kasus tersebut dan tak berusaha menyelidiknya.

Hal tersebut kemudian memunculkan petisi “Usut Tuntas Kasus Pemerkosaan KKN UGM” di situs Change.org. Hingga Rabu, (7/11) pukul 08.00 WIB, petisi tersebut telah ditandatangani sebanyak 42.739 orang.

Baca juga: Kronologi Pemerkosaan Mahasiswi Indonesia di Rotterdam Belanda

Sementara itu, dilansir dari Tribun Jogja, Kabid Humas dan Protokol UGM Iva Ariani menanggapi kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami Agni. Iva menyatakan bahwa pihak UGM akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Tim investigasi juga telah memberikan rekomendasi ke pimpinan universitas,” jelas Iva pada Selasa (06/11) malam.

Rekomendasi yang dimaksud Iva adalah evaluasi nilai KKN, pemberian hukuman serta pemberian konseling psikologi.

Ia juga memastikan bahwa UGM akan melindungi penyintas yang melaporkan kasus tersebut, dan memastikan ia mendapatkan keadilan. Pihak UGM akan memberikan sanksi secara akademik apabila tindakan tersebut terbukti kebenarannya.

Jumlah Kasus kekerasan Terhadap Perempuan, Termasuk Pemerkosaan Selama 2017 Hingga Awal 2018

Apa yang dialami oleh Agni di atas menambah deretan panjang kasus kekerasan terhadap perempuan lewat pemerkosaan selama tahun 2018. Komisioner Komnas Perempuan Adriana Venny mengatakan, dalam catatan tahunan Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan terus naik setiap tahun.

Adriana mengatakan terhitung sejak tahun 2017 hingga awal tahun 2018 tercatat 348.446 kasus, melonjak jauh dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 259.150 kasus. Sebagian besar data tersebut bersumber dari kasus atau perkara yang ditangani oleh Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, dan Unit Pelayanan dan Rujukan.

Berdasarkan data-data yang terkumpul tersebut, jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol adalah kekerasan dalam rumah tangga atau ranah personal yang mencapai angka 71 persen atau 9.609 kasus. Ranah pribadi paling banyak dilaporkan dan 31 persen di antaranya mengalami kekerasan seksual.

“Dari 31 persen itu, kasus paling tinggi adalah perkosaan inses. Dari kekerasan seksual inses, paling banyak pelakunya adalah pacar, ayah kandung, ayah tiri, suami. Sementara, perkosaan yang dilakukan kakak kandung sebesar 58 kasus,” ujar Adriana dalam diskusi “Jangan Hukum Korban Perkosaan” di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (5/8).*

COMMENTS