Dawainusa.com Terpidana kasus penganiayaan terhadap dua remaja, Bahar bin Smith kembali ditangkap pada Selasa (19/2/2020).

Informasi penangkapan tersebut dibenarkan pengacara Bahar, Aziz Yanuar. Menurut Yanuar, kliennya tersebut ditangkap pada Selasa, sekitar pukul 02.00 dini hari.

Baca juga: Bantuan Sembako Jokowi ke Kota Kupang Diprioritaskan bagi Mahasiswa

Bahar dijemput oleh petugas Kementerian Hukum dan HAM dan didampingi petugas kepolisian dari Polda Jawa Barat.

“Ya benar, kembali ditangkap tadi sekitar pukul 02.00 WIB,” kata Aziz melansir Kompas.com.

Aziz mengatakan, penangkapan Bahar diduga kuat karena ceramah pada Minggu (17/5/2020) malam lalu.

“Alasannya diduga kuat karena ceramah beliau (Bahar) malam Ahad (Minggu 17/5/2020) lalu yang menyinggung penguasa,” kata Aziz.

Sebelumnya, terpidana yang divonis 3 tahun penjara itu keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cibinong pada Sabtu (16/5/2020), sekitar pukul 15.30 WIB.

Pembebasan Bahar berdasarkan aturan Permenkumham Nomor 10 Tahun 2020 tentang Program Pembebasan Bersyarat Asimilasi Kementerian Hukum dan HAM terkait Covid-19.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat Abdul Aris mengatakan, Bahar bin Smith adalah salah satu dari delapan narapidana di LP Cibinong yang masuk dalam program asimilasi.

Bahar juga diketahui telah menjalani setengah masa tahanan sejak ia ditetapkan sebagai tersangka.

Jejak Kasus Bahar

Awalnya, Bahar ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan dua remaja Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Auman alias Zaki oleh Polda Jawa Barat pada Desember 2018 lalu. Ia tak langsung ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka.

Bahar baru ditahan selang beberapa hari kemudian atau usai diperiksa pada 18 Desember 2018. Ketika itu, kuasa hukum Bahar, Sugito Atmo Prawiro memastikan kliennya ditahan di Rutan Polda Jawa Barat. Sekitar dua bulan polisi melengkapi berkas perkara Bahar sebelum naik ke meja hijau.

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 di NTT Tembus 71 orang, Ini Sebarannya

Bahar kemudian menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Bandung, pada 28 Februari. Sempat terjadi penolakan dari pihak pendakwa asal Manado, Sulawesi Utara tersebut. Namun, sidang tetap digelar di Bandung, meski ada permintaan dilakukan di Pengadilan Negeri Cibinong, Bogor.

Bahar didakwa melakukan perampasan kemerdekaan dan penganiayaan terhadap dua remaja tersebut. Namun, dalam eskespinya, ia membantah telah melakukan penganiayaan. Sidang pun terus berjalan, dengan menghadirkan sejumlah saksi dan ahli.

Dalam persidangan Bahar akhirnya mengaku menyesal telah melakukan penganiayaan. Ia mengakui perbuatannya dan siap bertanggung jawab atas perbuatannya. Jaksa penuntut umum menuntut Bahar pidana enam tahun.

Namun, hakim PN Bandung memvonis Bahar dengan hukuman tiga tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider satu bulan penjara pada 9 Juli 2019. Ia kemudian langsung dieksekusi ke Lapas Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor.

Setelah menjalani setengah masa pidana, Bahar akhirnya bebas karena mendapat program asilimasi sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 10 Tahun 2020.*