Di Manggarai Timur, Ayah Perkosa Anak Kandung Berusia 12 Tahun

Di Manggarai Timur, Ayah Perkosa Anak Kandung Berusia 12 Tahun

DS (63), warga Satar Teu, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Pada saat melakukan aksi bejat tersebut, DS menyumbat mulut korban sehingga korban tidak bisa berteriak. (Foto: Ilustrasi Pemerkosaan Anak - Ist).

BORONG, dawainusa.com Perilaku DS (63) terhadap anak kandungnya sendiri, TN yang masih berumur 12 tahun membuat keluarga besar geram. Mungkin tidak hanya keluarga, kegeraman dan kemarahan terhadap pelaku juga muncul dari masyarakat luas. Pasalnya pria yang sudah renta itu tega memperkosa anaknya sendiri.

Pada saat melakukan aksi bejat tersebut, DS menyumbat mulut korban sehingga korban tidak bisa berteriak. Setelah itu, pelaku mengancam korban. Jika korban memberitahukan hal itu kepada ibu kandungnya, nyawa korban menjadi taruhan.

Baca juga: Ketika Kesucian Direnggut Birahi sang Ayah

Akibat ancaman tersebut, korban terus mendiamkan kasus tersebut. Enam bulan lamanya gadis kecil yang masih duduk di kelas 5 SD itu memikul sendirian beban yang ditimpakan oleh sang ayah. Sebuah beban yang terlampau berat untuk dipikul oleh seorang bocah seusianya. Orang dewasa pun tidak mampu memikulnya.

Kejadian ini terjadi di Satar Teu, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Persis terjadi pada 4 Juli 2017 dan baru terkuak pada pada Minggu (21/1).

Terungkap: Sang Anak Curhat Pada Sepupu

Peristiwa tragis ini terkuak dari curhatan korban pada kakak sepupunya. Rupanya, selama ini, korban berusia 12 tahun ini tidak berani menceritakan pada sang bunda karena ancaman dari pelaku.

“Kakak sepupu korban yang cerita kepada ibu korban sehingga kasus tersebut dilaporkan ke Polsek Lamba Leda,” ujar Kapolres Manggarai, AKBP Cliffry Steiny Lapian, SIK melalui Kasubag Humas Polres Manggarai, Ipda Daniel Djihu, Minggu ( (21/1) malam.

Baca juga: Istri Jarang Pulang Rumah, Pria Ini Perkosa Anaknya Sendiri

Mendengar cerita tersebut, hati sang bunda pun teriris bagai disayat sembilu. Bagaimana tidak, kesucian tubuh sang buah hati justru direnggut oleh nafsu liar suaminya. Belum lagi, sang anak masih kecil dan perjuangan hidupnya masih panjang.

Untuk diketahui, pelaku sendiri memiliki empat istri. Korban yang digagahinya itu adalah anak dari istri keempatnya.

Kasus ini sedang ditangani pihak kepolisian. Polisi memeriksa sejumlah saksi, antara lain Klemensia Epen (40), Lukas Kardiman (30) yang merupakan kakak sepupu korban, dan Lusia Wati Rusaim (34) yang merupakan seorang guru sekolah di wilayah itu.

Sekadar Merawat Ingatan: Ada Peristiwa Serupa Sebelumnya

Sekadar merawat ingatan dan untuk tidak dilupakan peristiwa serupa pernah terjadi di wilayah Kabupaten Manggarai Timur pada Juli 2017 lalu. Persis, pada bulan yang sama yang dialami TN.

Peristiwa yang menimpa LK (15 tahun) itu baru terkuak pada 25 Oktober 2017. Remaja 15 tahun itu diperkosa oleh sang ayah yang baru saja pulang merantau dari Malaysia.

Lebih sadis lagi, peristiwa yang terjadi di pondok Persawahan Leweng, Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur oleh pelaku direkam dalam bentuk video melalui ponsel miliknya. Sudah digagahi ditambah lagi di-video-kan. Kejam! Luka kian menganga di hati korban.

Baca juga: Di Nagekeo, Gadis 16 Tahun Hamil Setelah Diperkosa Tiga Kali

Peristiwa ini terkuak ketika ibunda korban melihat video di HP milik sang suami. Betapa terkejutnya sang ibunda kala itu, video mesum dan foto bugil dari anaknya muncul di layar HP. Semakin tersayat ketika pelakunya adalah suaminya sendiri.

Apa mau dikata? Marah, kecewa, dan putus harapan bercampur jadi satu. Kesucian sang buah hati direnggut oleh nafsu sang ayah. Pelaku adalah ayah yang patut dikutuk. Barangkali semesta merestui “jika dirinya tak perlu dilahirkan ke dunia ini”.

Terulanggnya peristiwa “ayah kandung makan anak kandung” mesti menjadi pertanyaan besar bagi publik di Manggarai Timur (juga di tempat lain).

Pemerintah dan Gereja mesti terusik dengan kejadian ini. Jika tidak, ini bahaya! Dan jangan-jangan masih ada korban yang masih mendiamkan kasus serupa karena menerima ancaman dari pelaku?*