Awal Mulanya, Sebuah Catatan Pinggir untuk Setahun Dawainusa

Awal Mulanya, Sebuah Catatan Pinggir untuk Setahun Dawainusa

OMONG DENG, dawainusa.com – Menuliskan catatan singkat, refleksi setahun Dawainusa yang kini tersaji di hadapan Anda merupakan hal yang tidak mudah untuk saya.

Bukan karena tidak mampu, tetapi lebih karena saat tangan saya hendak menari-nari di atas keyboard untuk menghasilkan ‘omongan’ ini, badan saya masih belum stabil.

Baca juga: Antara Media Online yang Tidak Laku, Bujang Lapuk dan Perawan Tua

Selama dua hari, saya berbaring lemah di atas kasur. Badan kurang fit, pikiran pun kacau. Gairah menulis juga terganggu dan menjadi berkurang.

Yones Hambur

Yones Hambur – ist

Meski demikian, di tengah keterbatasan fisik seperti itu, ada sebuah kerinduan dari dalam diri saya untuk tetap menulis. Catatan singkat ini ialah sebuah refleksi sederhana tentang perjalanan penuh makna selama satu tahun saya bersama Dawainusa.

Awal Mulanya…

Malam itu, saya sendiri lupa tanggal dan bulannya kapan. Tetapi yang jelas situasinya masih sedikit tergambar di dalam benak saya, di Margasiswa PMKRI Cabang Jakarta Pusat, saya bertemu dengan seorang senior. Ia adalah seorang yang sampai saat ini saya panggil dengan sebutan ‘Ka’e Obeth’.

Saat itu saya masih duduk di bangku kuliah semester VII di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Awal perkenalan dengan ‘Ka’e Obeth’ terjadi ketika saya duduk bersebelahan dengannya.

Wajar to, kalau kita lagi duduk sebelahan begitu, yang pasti kita akan berjabat tangan dan memperkenalkan diri. “Nama saya ini, asal saya dari situ, sekarang saya lagi kuliah di sini” dan sederet ungkapan perkenalan lainnya.

Saat itu, saya belum tahu bahwa Kae Obeth ini ialah orang Manggarai, sama seperti saya. Lama kami mengobrol dan obrolannya sangat banyak, mulai dari bahas tentang PMKRI, yang kebetulan saya juga bergabung di dalamnya, sampai dengan cerita soal kampus tercinta STF Driyarkara.

Ternyata Kae Obeth ini juga pernah menjadi bagian dari keluarga besar dari kampus yang letaknya di samping Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta Pusat itu. Setelah menceritakan itu semua, akhirnya Ka’e Obeth ini memperkenalkan dirinya bahwa ia juga sebenarnya merupakan orang Manggarai.

Perkenalan Kae Obeth sebagai orang Manggarai tentu saja untuk saya merupakan hal yang sangat istimewa. Ada kedekatan emosional yang tercipta di sana. Ya, setidaknya sebagai “Sesama Manggarai”.

Sekedar untuk meluruskan, frasa “Sesama Manggarai” ini tidak dibicarakan dengan maksud untuk mempromosikan apalagi memproklamasikan loyalitas primordial kami sebagai orang Manggarai.

Sama sekali tidak bermaksud demikian, apalagi kalau sampai dituding bahwa hal itu memiliki kecenderungan untuk mengeksklusikan diri dari yang lain.

Tetapi, bagi saya pribadi, frasa ini sangat penting untuk menceritakan tentang asal-usul Dawainusa. Konon, Manggarai dikenal sebagai salah satu daerah yang banyak menghasilkan orang-orang berbakat. Ada politisi, peneliti, guru, tenaga kesehatan, pastor, dan juga penulis.

Baca juga: Setahun Dawai: Tentang ‘Danong’ yang Pernah jadi Mimpi Bersama

Potensi orang-orang Manggarai ini tidak hanya dikenal dan berpengaruh di daerahnya sendiri. Untuk level nasional dan bahkan internasional, orang-orang Manggarai sudah dikenal memiliki kompetensi yang baik untuk mewujudkan peradaban bagi dunia ini. Mereka dikenal mampu, meminjam bahasa Injil, “menjadi garam dan terang bagi sesama”.

Kesadaran akan potensi itulah yang menjadi semangat awal berdirinya Dawainusa ini. Saat obrolan itu, Kae Obeth mengajak saya untuk bergabung dan membuat satu media, yang kemudian anda nikmati sebagai Dawainusa ini.

Sebelumnya, saya sendiri memang aktif untuk menulis. Beberapa media sempat menjadi lahan untuk menyuarakan aspirasi saya dalam bentuk tulisan itu. Sehingga tawaran Kae Obeth untuk mendirikan media ini, bagi saya tentu ialah hal yang sangat menggembirakan.

“Eme bae agu ngance le weki ru ta, co tara harus agu atan (kalau kita sendiri bisa, kenapa kita harus melalui orang lain)”. 

Ungkapan ini tentu sangat menggerakkan saya. Selama ini banyak dari kita yang tidak pernah berani untuk memulai dari diri sendiri dan oleh diri sendiri untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan banyak orang.

Selama ini, kebanyakan dari kita hanya menjadi seorang penikmat dari sesuatu yang telah diciptakan oleh orang lain. Kita selalu menjadi pekerja di tempat orang, tidak pernah berani untuk menghasilkan pekerjaan sendiri. Padahal, kita memiliki potensi untuk mewujudkan semua hal itu tanpa harus tergantung pada orang lain.

Bagi saya sendiri, spirit ini yang menjadi hal terutama dan paling utama dari segala spirit lainnya tentang Dawainusa. Apalagi sebagai seorang yang pernah menjadi pengunyah dan pencernah sajian filosofis, hal seperti ini sebenarnya menjadi salah satu tujuan dari keberadaan kita sebagai manusia.

Filsuf asal Prancis bernama Rene Descartes telah mewanti-wanti kepada kita soal hal ini. Lewat jargonnya yang sangat terkenal, filsuf perintis modernisme dalam sejarah peradaban barat ini mengatakan demikian, “Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir, maka Aku Ada)”. 

Lewat ungkapan ini, Descartes hendak mengajak kita untuk berani berpikir sendiri (Sapere Aude)Kita diundang untuk menjadi subjek untuk diri kita sendiri, dan tentu saja demi peradaban hidup umat manusia yang lebih baik dan penuh kualitas.

Crew Dawai Nusa

Crew Dawai Nusa – ist

Dawainusa bagi saya pribadi telah menjawab perintah Descartes itu. Lewat Dawainusa, kami membangun suatu ruang sebagai sarana bagi kami untuk mewujudkan apa yang diamanahkan oleh Sang Guru Kebijaksanaan dan Bapa Kehidupan, yaitu sesuatu yang saya sebutkan tadi sebagai ‘Garam dan Terang” bagi dunia.

Dawainusa, Media yang Menjadi “Garam dan Terang” bagi Dunia

Cita-cita Dawainusa untuk menjadi ‘Garam dan Terang’ bagi dunia, yang sudah diartikulasikan secara lain oleh dirinya sendiri dalam sebutan “Getar Suara Perubahan” tentu sangat tepat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini.

Sebagai sebuah negara demokratis, peran media di Indonesia menjadi hal yang sangat penting. Kalau kita mengingat dalam setiap diskursus para pemikir politik, media merupakan sebuah “garda terdepan” untuk mengontrol jalannya suatu roda pemerintahan.

Itulah sebabnya, kebebasan pers merupakan hal yang paling utama yang mesti diakui dan diwujudkan dalam sebuah negara demokrasi. Tanpa kebebasan pers, sebuah pemerintahan akan mudah menjadi manipulatif, koruptif dan sudah tentu merusak nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Coba kita bayangkan di zaman dulu, ketika peran media masih sangat lemah bahkan tidak ada sama sekali. Apakah kita tahu apa yang dilakukan oleh pemerintah dan para pemangku kekuasaan kita?

Kita tidak bisa memantau apa yang sedang mereka lakukan, apakah mereka betul-betul bekerja untuk kepentingan bersama atau tidak.

Dengan berkembangnya media yang ditopang oleh kebebasan pers dan dijamin serta dilindungi oleh konstitusi, segala hal yang dilakukan oleh para pejabat negara kita akan dengan mudah terdeteksi dan dipantau secara terbuka.

Baca juga: Rocky Gerung dan Senjakala Demokrasi Kita

Akan tetapi, kebebasan media itu juga tentu tidak boleh dipakai untuk mewujudkan segala kepentingan negatif yang kita miliki. Kita harus sadar bahwa perkembangan media di bawah semangat kebebasan berekspresi dan berpendapat tersebut telah melahirkan dua sisi sekaligus.

Ada manfaat positifnya bagi kehidupan dan peradaban kita sebagai umat manusia. Tetapi harus diingat pula  bahwa jika tidak dipakai secara bijak, hal itu justru akan menyeret kehidupan kita ke dalam jurang kebinasaan.

Situasi akhir-akhir ini sangat jelas bagi kita tentang dampak buruk dari kehadiran dan perkembangan media tersebut. Berita hoaks bertebaran di mana-mana. Dalam jagat media sosial, kita temukan ujaran-ujaran provokatif yang mengaduk-aduk emosi dan memancing sentimen.

Kehadiran dan perkembangan media juga cenderung merelatifkan kebenaran. Artinya, kebenaran tidak lagi dipandang sebagai suatu hasil pencarian rasional dengan berpijak pada pertimbangan moral universal.

Dengan adanya media, semua orang dapat dengan bebas menciptakan kebenarannya sendiri, tergantung pada selerah dan kepentingannya masing-masing, yang tidak jarang sangat koruptif.

Dawai Nusa

Dawai Nusa – ist

Kehadiran Dawainusa tentu menjadi sebuah kekuatan untuk mewujudkan sisi baik dari media tersebut. Secara pribadi, dengan berpartisipasi di Dawainusa, saya bisa menjadi seorang yang mampu mewartakan kebaikan dan kebenaran bagi sesama.

Hal yang sama juga berlaku untuk mengatasi sisi negatif dari perkembangan media tersebut. Dengan sikap kritis dan demokratis yang masih terus diasah dan dihidupi oleh Dawainusa sampai saat ini dan untuk kedepannya, Dawainusa akan terus menyajikan semacam ‘terang’ di tengah gelap gulitanya perkembangan media digital saat ini.

Akhirnya, media ini akan terus menjadi sarana bagi saya dan untuk setiap orang yang nurani dan budinya tergugah untuk tetap menyuarakan perubahan demi tercapainya sesuatu yang disebut oleh Thomas Aquinas sebagai Bonum Commune atau Kebaikan Bersama.*

Selamat Bertambah Usia Dawainusa.  Carpe_Noctem!

COMMENTS