Arah Politik Keluarga Gus Dur di Pilpres 2019

Arah Politik Keluarga Gus Dur di Pilpres 2019

JAKARTA, dawainusa.com Arah politik keluarga Gus Dur di Pilpres 2019 masih menjadi perbincangan publik tanah air. Apakah akan merapat ke kubu oposisi atau mendukung kubu petahana.

Usai menghadiri rilis survei LSI di Hotel Sari pacific, Jakarta Pusat pada Senin (24/9) kemarin, putri kedua Presiden ke-4 RI itu memastikan sikap politik keluarganya.

Baca juga: Haringga, Korban Otak Primitif Suporter dan Identitas Konyol Sepakbola

Yenny mengatakan, dirinya akan berikhtiar dalam Pilpres 2019, sementara sang ibu, Sinta Nuriyah Wahid akan bersikap netral. Sinta lebih menempatkan dirinya sebagai pengayom dua kubu yang hendak bertarung nanti.

“Saya sudah menyatakan bahwa saya akan berikhtiar. Ibu saya akan netral di tengah, karena beliau adalah ibu bangsa. Beliau akan mengayomi semuanya. Walaupun terhadap pilihan politik putrinya pun, beliau akan tetap bersikap netral,” jelas Yenny.

Sebelumnya, Sinta Nuriyah pernah menerima capres Joko Widodo dan capres Prabowo Subianto serta cawapres Sandiaga Salahuddin Uno di rumahnya beberapa waktu lalu. Namun, tak berarti dirinya harus berpihak pada salah satu poros.

Yenny menegaskan kendati ibunya memilih netral, dia sendiri mempunyai pilihan ke kubu siapa akan merapat. Pilihan ini disebutnya bagian dari ikhtiar dalam menyalurkan aspirasi politik para kader Gusdurian.

Akan Umumkan dalam Waktu Dekat

Yenny akan mengumumkan pilihan politiknya apakah merapat ke kubu Prabowo-Sandi atau Jokowi-Ma’ruf dalam dua hari ke depan. Sikap politik ini, kata Yenny, merupakan sikap pribadi dan bukan mewakili Gusdurian.

“Ini sikap saya. Sikap saya pribadi. Kalau ada yang mau ikut dari jaringan kader Gus Dur, monggo. Kalau enggak mau ikut ya enggak apa-apa,” jelasnya.

Sikap politik Yenny Wahid akan diumumkan saat berlangsungnya silaturahmi nasional jaringan Gusdurian. Yenny mengaku telah mempunyai pilihan ke kubu mana akan bergabung, hanya saja akan diumumkan dua hari ke depan.

“Keputusan politik saya sudah ditentukan, karena dengan atau tanpa silatnas kami sudah komunikasi intens. Jadi selama ini sudah telepon-teleponan, sudah banyak ketemu-ketemu kelompok-kelompok kecil ke Jakarta atau ketika saya ke daerah kemarin-kemarin ini,” jelasnya.

Pengumuman akan disampaikan Yenny di Kalibata, dimana dulu berlokasi Kantor PKB di bawah kepemimpinan Gus Dur. Yenny menyampaikan Gusdurian sebagai sebuah jaringan tak berpolitik. Tapi Gusdurian yang berpolitik akan mengacu ke sikap politik yang akan diputuskan Yenny.

Arah Politik Gusdurian

Apakah sikap politik keluarga Gus Dur serentak menjadi rujukan arah politik Gusdurian? Soal ini, putri pertama Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid pernah berkomentar dalam sebuah wawancara di Kompas TV, Rabu (19/9) lalu.

Alissa menegaskan, apabila arah dukungan keluarga Ciganjur di Pilpres 2019 sudah diputuskan, hal itu tidak akan menjadi instruksi formal bagi para pengikut Gus Dur atau yang populer disebut Gusdurian.

Baca juga: Mengintip Ide-ide Unik Presiden Terpilih Meksiko Lopez Obrador

Menurutnya, para pecinta Gus Dur terbagi menjadi dua garis perjuangan, yakni kelompok yang tidak berpolitik praktis dan kelompok yang berpolitik praktis. Mereka yang berpolitik praktis, lebih tepat disebut sebagai Barisan Kader #GusDur yang dipimpin oleh Yenny Wahid.

Sementara, yang disebut Gusdurian adalah pecinta Gus Dur yang tidak berpolitik praktis dan fokus pada merawat nilai-nilai yang diteladani Gus Dur semasa hidup.

Bagi pecinta Gus Dur yang disebut sebagai Gusdurian, pilihan politik diserahkan kepada masing-masing individu. Tidak mengatasnamakan Gusdurian secara organisasi.

“Punya afiliasi politik adalah hak personal. Nah, kami meminta kepada para Gusdurian, mereka yang ingin aktif melanjutkan perjuangan Gus Dur, kami minta mereka, aspirasi politik itu persoalan personal, tidak menggunakan nama Gusdurian,” ujar Alissa.

Meski demikian, Alissa berharap dukungan politik Gusdurian tersebut tetap disandarkan pada nilai-nilai yang diutamakan Gus Dur.

Mulai dari spiritualitas, keadilan, kesetaraan, pembebasan dari bentuk penindasan, persaudaraan, sikap ksatria, kesederhanaan dan kearifan Indonesia.

“Para Gusdurian ini nanti akan melihatnya dari apakah platform atau tawaran program- program dari kedua capres cawapres akan sesuai dengan nilai-nilai Gus Dur atau tidak,” ujar Alissa.

Sementara, para pecinta Gus Dur yang berada di perjuangan berpolitik praktis, menurut Alissa, juga belum menentukan arah dukungan.

Sebab, Alissa menilai, kedua kontestan Pilpres 2019 belum menjelaskan program-program untuk rakyat secara gamblang.

“Kita tunggu saja. Karena sampai saat ini kan belum keluar ya platform yang betul-betul formal yang mereka sampaikan. Ditunggu setelah pengumuman capres cawapres resmi, barangkali setelah itu akan ada kampanye lebih kuat lagi mengenai platform-platform yang ingin diperjuangkan, yang ingin dijadikan narasi para capres cawapres. Kami pasti akan melihat dari sana,” lanjut Alissa.