Ansy Lema: Sumpah Pemuda, Janji Suci yang Pantang Dilanggar

Ansy Lema: Sumpah Pemuda, Janji Suci yang Pantang Dilanggar

JAKARTA, dawainusa.com Sumpah pemuda adalah janji suci yang pantang untuk dilanggar. Karena itu, ia harus ditepati, dipegang teguh dan mengikat para pihak yang berkomitmen dalam sumpah. Hal ini diungkapkan Yohanis Fransiskus Lema, S.IP, M.Si, saat berbincang dengan Dawainusa, Minggu (28/10).

Bagi Ansy Lema, sumpah pemuda merupakan tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sebab, tanpa sumpah pemuda, komitmen untuk bersatu tentu tak akan pernah terwujud.

Mantan juru bicara Ahok itu memahami betul bahwa komitmen yang akhirnya bermuara pada perjuangan bersama untuk mewujudkan kemerdekaan itu akan bisa tercapai dengan melepasakan atribut identitas yang kerap membidani lahirnya superioritas individu maupun golongan.

Baca juga: Benarkah Kubu Oposisi Inisiasi Tagar #PrabowoBersamaHTI di Twitter?

“Pemuda masa itu menanggalkan perbedaan antara mereka dan berkomitmen menjalin persatuan-kesatuan bangsa untuk mewujudkan Indonesia merdeka,” ungkapnya.

Upaya untuk mewujudkan persatuan memang tak pernah terlepas dari peran pemuda. Ada semacam kesadaran kolektif yang terbangun pada masa itu bahwa untuk mencapai kemerdekaan, kekuatan persatuan rakyat menjadi senjata ampuh menggempur dominasi kolonialisme.

“Itu mengapa, mereka mengutamakan spirit persatuan bangsa dan tidak menganggap perbedaan sebagai penghalang bagi kemerdekaan bangsa,” tegas caleg DPR RI Dapil NTT 2 itu.

Spirit persatuan itu coba diterjemahkan kembali dalam konteks kehidupan Indonesia masa kini. Berguru pada spirit persatuan pemuda masa lalu, demikian Ansy, fakta pluralitas dan keragaman menjadi aset sekaligus kekayaan bangsa Indonesia.

Perbedaan tak lagi dilihat sebagai ancaman yang akan membelah persatuan dan soliditas sesama anak bangsa. Ia harus dirayakan dalam kebersamaan dengan visi utama yaitu mengokohkan keindonesia-an.

“Sumpah Pemuda mengajarkan pada segenap bangsa Indonesia perbedaan-keragaman harus menyatukan, bukan mencerai-beraikan, merekatkan Indonesia, bukan malah meretakkan ke-Indonesia-an kita,” ungkapnya.

Ansy Lema

Ansy Lema – ist

Perpecahan, Ancaman Serius Bangsa

Ancaman serius bangsa Indonesia hari-hari ini adalah perpecahan. Menurut Ansy, hal tersebut dipicu oleh kecendrungan orang atau kelompok untuk mengekspolitasi sentimen berbasis SARA. Setidaknya, hal itu bisa dibaca dalam konteks diskursus politik akhir-akhir ini.

Kita menemukan kampanye berbasis SARA, seperti politik jenasah, menggunakan rumah ibadat sebagai alat untuk mencari kekuasaan sekaligus memporakporandakan akal sehat massa, menjadi bentuk paling nyata bagaimana kekuasaan menjadikan agama sebagai alat.

Baca juga: Sindiran Keras PKB ke PSI Soal ‘Dosa’ Parpol Lama

Kita lalu gagal menemukan percakapan politik yang mengedepankan akal sehat. Ruang publik kita akhirnya dikepung narasi identitas yang memantik konflik dan kegaduhan. Padahal, menurut Ansy, dahulu generasi 28 bisa bersatu walau agama, etnik dan bahasa mereka berbeda.

Berangkat dari hal tersebut, menghidupkan kembali spirit sumpah pemuda dalam konteks perlawanan terhadap intoleransi dan radikalisme di Indonesia menjadi penting dilakukan. Pada posisi inilah pemuda zaman sekarang mengambil peran.

“Karena itu, untuk menghidupkan spirit Sumpah Pemuda, generasi “jaman now” harus berani melawan intoleransi dan radikalisme. Perkuat nasionalisme. Pemuda masa kini harus bisa berbahasa satu bahasa kebenaran, berbangsa satu bangsa bangsa tanpa pecah-belah, bertanah air satu tanah air tanpa penindasan,” ungkapnya.

Ansy Lema

Ansy Lema – ist

Hoaks Sebagai Musuh Bersama

Di sisi lain, Ansy juga menyoroti soal fenomena hoaks yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Hoaks seolah menjadi menu utama yang selalu dihidangkan ke meja percakapan publik kita hari-hari ini.

Menurut Ansy, musuh atau ancaman bagi Indonesia hari ini bukan kolonialis asing, melainkan berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah bangsa dan menurunkan kualitas keadaban demokrasi Indonesia.

Baca juga: Romo Benny Susetyo Soal Sekolah Minggu Masuk RUU Pesantren

“Dominasi kolonial bukan lagi menjadi ancaman bagi Indonesia hari-hari ini, tetapi menyebarnya hoaks dan ujarang kebencian yang menurunkan bobot keadaban demokrasi kita,” tegasnya.

Karena itu, pemuda hari ini mesti mampu menjadi antitesa terhadap gempuran hoaks dan ujaran kebencian yang meramaikan ruang publik. “Semai ruang publik dengan gagasan-gagasan cerdas-bernas, sejuk dan mendamaikan,” ungkap Ansy.

Pada akhirnya, Ansy mengingatkan bahwa pemuda tidak saja dituntut harus keratif dan inovatif, tapi juga memiliki mentalitas, integritas dan kapasitas unggul. Generasi unggul yang mampu mentransformasi dunia dan membawa kemajuan bagi negeri.*