Ansy Lema Sampaikan Pesan di Balik Film ‘A Man Called Ahok’

Ansy Lema Sampaikan Pesan di Balik Film ‘A Man Called Ahok’

KUPANG, dawainusa.com Film ‘A Man Called Ahok’ juga ditayangkan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Film yang disutradarai Putrama Tuta ini diputar di salah satu bioskop yang berada di Kota Kupang.

Dalam pemutarannya pada Sabtu (10/11), turut hadir Yohanis Fransiskus Lema, atau yang lebih dikenal dengan Ansy Lema, yang juga pernah menjadi juru bicara Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.

Dalam siaran pers yang diterima dawainusa, Senin (12/11), Ansy menjelaskan, film dengan bintang utama Daniel Mananta ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari masyarakat Kota Kupang yang menikmatinya.

Baca juga: Ansy Lema: Sumpah Pemuda, Janji Suci yang Pantang Dilanggar

Menurut Ansy, hal ini dikarenakan film yang diproduksi oleh The United Team of Art itu merupakan sebuah film keluarga yang syarat akan nilai-nilai dan pendidikan karakter.

“A Man Called Ahok adalah sebuah film keluarga yang syarat akan nilai-nilai dan pendidikan karakter,” ujar Ansy Lema.

Pendidikan karakter dalam film ini dilakukan Kim Nam, ayah Ahok. Kim Nam, demikian Ansy, tak hanya punya semangat untuk mendidik anak-anaknya agar mencintai Indonesia, tetapi juga mangajarkan mereka menempatkan kemanuisaan di atas segalanya.

“Kim Nam mendidik agar anak-anaknya mencintai Indonesia, memuliakan kemanusiaan dan memiliki kepedualian membantu kaum miskin,” ungkap alumnus Universitas Indonesia itu.

Asny Lema Sampaikan Pesan di Balik Film 'A Man Called Ahok'

Asny Lema nobar Film ‘A Man Called Ahok’

Sosok Ahok, Teladan Kepemimpinan Indonesia

Mantan aktivis 98 ini juga menjelaskan tentang sosok Ahok yang dikenalnya sebagai salah seorang pemimpin transformatif dan inspiratif yang menjadi teladan kepemimpinan bagi Indonesia. Hal ini menurutnya, tidak lepas dari penerapan nilai-nilai di dalam lingkungan keluarga dari usia dini.

“Dari sosok ayahnya, Ahok mendapatkan pelajaran tentang nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan semangat rela berkorban untuk bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik,” jelas Ansy.

Ansy Lema juga mengungkapkan bahwa dirinya sengaja menikmati film ini pada saat peringatan Hari Pahlawan karena film ini penuh akan makna tengtang pentingnya menumbuhkan spirit kepahlawanan.

“Pahlawan berarti memberi, melayani, dan berkorban. Dan bukan yang mengambil apa yang menjadi milik rakyat,” tegas calon anggota legislatif DPR RI Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, daerah pemilihan NTT 2 nomor urut 2 ini meyakinkan.

Asny Lema nobar Film 'A Man Called Ahok'

Asny Lema bersama peuda-pemuda di Kupang nobar Film ‘A Man Called Ahok’

Empati Terhadap Sesama

Selain mengangkat nilai-nilai seperti kejujurana dan kedisplinan, The Man Called Ahok juga mengangkat kisah tentang semangat rela berkorban yang ditopang rasa empati terhadap yang lain, khususnya mereka yang terpinggirkan.

Semangat ini tentu akan dengan mudah ditemukan dalam diri Ahok ketika memimpin DKI Jakarta. Meskipun bagi lawan-lawan politiknya, Ahok kerap dicap ‘beringas’, tetapi rasa empati terhadap orang-orang kecil tumbuh dalam seluruh kebijkan politiknya.

“Film ini juga berkisah tentang semangat rela berkorban, juga sarat pesan empati terhadap sesama yang kurang beruntung atau terhadap masyarakat miskin,” ungkap Ansy Lema.

Dalam konteks politik, Ansy Lema kembali menyinggung soal esensi politik sebagai sabuah sarana untuk melayanai publik. Sama seperti gaya kepemimpinan yang ditawarakan Ahok, Ansy Lema menegaskan bahwa memimpin berarti kesiapan untuk melayani sepenuh hati, tanpa menunggu untuk dilayani.

“Politik adalah sarana untuk melayani publik. Dengan otoritas politik yang dimiliki, pejabat bisa berbuat banyak kebaikan untuk rakyat. Memimpin berarti melayani rakyat dengan tulus, bukan justru minta dilayani,” kata Ansy.

Di sisi lain, A Man Called Ahok menjadi antitesis atas fakta intoleransi dan kebencian yang muncul ke ruang publik kita hari-hari ini. Bagi Ansy, film ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya merawat kebhinekaan dalam semangat persaudaraan sebagai sebuah bangsa.

“Di tengah menguatnya intoleransi dan kebencian yang dibangun atas dasar perbedaan etnik dan agama, kehadiran film ini justru menjadi antitesis sekaligus mengajarkan pentingnya merawat kebhinekaan dalam semangat persaudaraan. Kim Nam, ayah Ahok, adalah dermawan yang banyak membantu warga pribumi yang mengalami kesulitan ekonomi,” ujarnya.

Ansy Lema juga mengajak seluruh masyarakat NTT, khususnya masyarakat Kota Kupang, untuk menikmati film ini. “Mari bersama, kita nonton film A Man Called Ahok,” ungkapnya mengajak.*

COMMENTS