Home Berita Viktor Laiskodat Klaim Angka Kemiskinan di NTT Turun, Benarkah?

Viktor Laiskodat Klaim Angka Kemiskinan di NTT Turun, Benarkah?

Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengklaim bahwa angka kemiskinan di wilayah yang dipimpinnya tersebut mengalami penurunan

Viktor Laiskodat Klaim Angka Kemiskinan di NTT Turun, Benarkah
Ilustrasi - ist

KUPANG, dawainusa.com – Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengklaim bahwa angka kemiskinan di wilayah yang dipimpinnya tersebut mengalami penurunan.

Hal tersebut disampaikan Laiskodat ketika memberikan sambutan dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan ke -76 Republik Indonesia, yang dilaksanakan di alun-alun Rumah Jabatan Gubernur, Selasa (17/8).

Laiskodat menjelaskan, di tengah situasi sulit akibat Pandemi Covid-19, Pemerintah NTT tetap berkomitmen untuk mewujudkan visi “Nusa Tenggara Timur Bangkit menuju masyarakat sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Baca juga: Viktor Laiskodat ke Pihak yang Tak Setuju Proyek TN Komodo, Lakukan Riset Ulang

Selain itu, demikian Laiskodat, pihaknya juga telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mendorong sektor riil cepat tumbuh demi meningkatkan pendapatan rakyat, memicu daya beli masyarakat, hingga mengurangi risiko pemutusan hubungan kerja.

Kemudian, lanjut Laiskodat, pihaknya juga telah memacu produktivitas ekonomi melalui implementasi kebijakan pemulihan ekonomi nasional, percepatan penyelesaian infrastruktur jalan provinsi, perluasan program tanam jagung panen sapi atau TJPS, serta berbagai bantuan sosial.

Laiskodat mengatakan, sejumlah terobosan tersebut telah membuahkan hasil, yakni ekonomi NTT diklaim berangsur pulih sebagaimana tercermin pada kinerja perekonomian triwulan II 2021 dengan pertumbuhan ekonomi 4,22 persen, lebih baik dibandingkan dengan triwulan I sebesar 0,12 persen.

“Angka kemiskinan pada Maret 2021 juga mengalami penurunan menjadi 20,99 persen dibanding dengan September 2020 sebesar 21,21 persen,” ungkap Laiskodat.

Angka Kemiskinan di NTT Alami Peningkatan?

Sementara itu, sebelumnya, yakni pada Selasa (2/3) lalu, Kepala Perwakilan BKKBN NTT Marianus Maukuru mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di wilayah provinsi berbasis kepulauan tersebut mengalami peningkatan.

Peningkatan angka kemiskinan itu, demikian Maukuru menjelaskan, terjadi di masa Pandemi Covid-19, yakni dari angka 20,90 persen menjadi 21 persen.

Mauruku menjelaskan, peningkatan angka kemiskinan tersebut salah satu penyebabnya ialah karena tidak seimbangnya pendapatan dengan kebutuhan makan anggota keluarga.

Baca juga: Viktor Laiskodat Sebut Belum ada Covid Varian Delta di NTT

“Ternyata kemiskinan bisa terjadi karena faktor penyebab utamanya adalah orang mempunyai pendapatan kecil tapi jumlah anggota keluarga yang ditanggung banyak, dan untuk menentukan orang miskin atau tidak BPS sudah memiliki standard dengan menentukan garis kemiskinan,” kata Mauruku.

“Untuk kita NTT 1 orang setiap bulan harus mengeluarkan uang kurang lebih sebesar Rp 403.000 untuk memenuhi kebutuhan makan. Jadi kalau jumlah anggota keluarganya 10 orang, berarti yang dikeluarkan setiap bulannya Rp 4 Juta lebih,” lanjut dia.

Untuk diketahui, pada September 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi NTT bertambah sebanyak 19.770 orang menjadi 1.173,53 ribu.

Dengan adanya Pandemi Covid-19, tingkat kemiskinan di wilaya tersebut secara persentase bergerak naik yakni pada Maret 2020 sebesar 20,90 persen menjadi 21 persen pada September 2020. Sementara terkait garis kemiskinan di NTT pada September 2020 tercatat sebesar Rp404.712/kapita/bulan atau naik 5,46 persen dibandingkan September 2019.*

Exit mobile version