Andi Narogong dan Pihak-pihak yang Diuntungkan dalam Perkara E-KTP

Andi Narogong dan Pihak-pihak yang Diuntungkan dalam Perkara E-KTP

Jaksa Penuntut Umum KPK mengungkap sejumlah pihak yang diuntungkan dari perbuatan pengusaha Andi Narogong dari pengadaan KTP-Elektronik. (Foto: Setya Novanto dan Andi Narogong - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Kasus dugaan korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) telah menyeret sejumlah nama ke meja hijau.


Kamis (7/12), pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong yang diyakini terlibat dalam skandal mega-proyek ini dituntut 8 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Baca juga: Dibalik Mundurnya Otto Hasibuan Sebagai Pengacara Novanto

Tuntutan jaksa tersebut berangkat dari sebuah keyakinan, bahwa Andi Narogong bersama pihak lain mengarahkan perusahaan tertentu, dalam hal ini konsorsium PNRI, sebagai pemenang lelang proyek e-KTP.

Tiga konsorsium yang diminta Andi menang lelang proyek ini adalah PNRI, Astragraphia, dan Murakabi Sejahtera.

“Terdakwa memiliki kenalan dengan para pejabat, seperti Setya Novanto, Diah Anggraeni, dan Irman, mempunyai kedekatan menaruh wewenang untuk memenangkan anggaran di DPR. Terdakwa melakukan intervensi PNRI, Murakabi, dan Astragraphia untuk memenangkan konsorsium tersebut,” ucap jaksa.

Selain itu, Jaksa Penuntut Umum KPK mengungkap sejumlah pihak yang diuntungkan dari perbuatan pengusaha Andi Narogong dari pengadaan e-KTP.

Baca juga: Harus Ada Rekaman Pernyataan Mendikbud, Supaya Tidak Ada Dusta di Antara Kita

Perkara e-KTP: Orang Maupun Korporasi yang Dapat Keuntungan

Seperti dilansir antaranews.com, orang maupun korporasi yang mendapatkan keuntungan dari proyek KTP-E dengan total anggaran sejumlah Rp5,9 triliun tersebut adalah:

1. Gamawan Fauzi mendapatkan 1 unit ruko di Grand Wijawan dan sebidang tanah di Jalan Brawijaya III yang diberikan melalui Azmin Aulia (adik Gamawan) dan uang Rp50 juta yang bersumber dari Andi Narogong, Paulus Tannos dan Yohannes Marliem yang kemudian dikelola Suciati.

2. Dian Anggraini (Sekjen Kemendagri) 500 ribu dolar AS dan uang Rp2,5 juta.

3. Drajat Wisnu Setyawan selaku ketua panitia pengadaan 40 ribu dolar AS dan 25 juta.

4. 6 orang anggota panitia lelang masing-masing sejumlah Rp10 juta.

5. Tri Sampurno Rp2 juta.

6. Husni Fahmi 20 ribu dan Rp10 juta.

7. Miryam S Haryani 1,2 juta dolar AS

8. Markus Nari 400 ribu dolar AS.

9. Ade Komarudin 100 ribu dolar AS.

10. Mohamad Djafar Hapsaf 100 ribu dolar AS.

11. Setya Novanto yang diterima melalui Irvanto Hendro Pambudi Cahyo dan Made Oka Masagung sejumlah 7 juta dolar AS serta 1 jam tangan merek Richard Mille RM 011 senilai 135 ribu dolar AS.

12. Beberapa anggota DPR RI periode tahun 2009-2014 sejumlah 12,82 juta dolar AS dan Rp44 miliar.

13. Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Agusalam dan Darma Mapangara selaku direksi PT LEN Industri masing-masing mendapatkan sejumlah Rp1 miliar dan untuk kepentingan gathering dan SGU sebesar Rp1 miliar.

14. Direktur LEN Wahyudin Bagenda sejumlah Rp2 miliar

15. Johanes Marliem (Direktur PT. Biomorf Lone Indonesia) sejumlah 14,88 juta dan Rp25,242 miliar.

16. Beberapa anggota tim Fatmawati, yakni Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi dan Kurniawan masing-masing sejumlah Rp60 juta.

17. Mahmud Toha sejumlah Rp3 juta.

18. Manajemen bersama konsorsium PNRI sejumlah Rp137,989 miliar

19. Perum PNRI sejumlah Rp107,71 miliar

20. PT. Sandipala Artha Putra sejumlah Rp145,851 miliar

21. PT. Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra sejumlah Rp148,863 miliar

22. PT. LEN Industri sejumlah Rp3,415 miliar

23. PT. Sucofindo sejumlah Rp8,231 miliar

24. PT. Quadra Solution sejumlah Rp79 miliar.* (AT)