Ancaman Nuklir Korut di Level Kritis, AS Makin Geram

Ancaman Nuklir Korut di Level Kritis, AS Makin Geram

Kim Jong Un memuji senjata nuklirnya sebagai 'pedang berharga' untuk melindungi negaranya dari berbagai kemungkinan invasi oleh 'musuh imperialis' AS. (Foto: Uji coba rudal balistik Korut, antaranews.com)

KOREA UTARA, dawainusa.com Ancaman terhadap senjata nuklir dari Korea Utara terus mencemaskan. Pasalnya, sejak kepemimpin Kim Jong Un tahun 2011 silam, negara tersebut telah menciptakan suatu kemajuan signifikan dalam bidang teknologi atom dan rudal.

Sejak saat itu, Jong Un telah mengawasi empat dari enam uji coba nuklir Korea Utara. Ia memuji senjata nuklirnya sebagai ‘pedang berharga’ untuk melindungi negaranya dari berbagai kemungkinan invasi oleh ‘musuh imperialis’ AS.

Dilansir kompas.com, Selasa (17/10), Korea Utara diperkirakan telah memiliki sekitar 10.000 artileri dan setidaknya 50 rudal jarak pendek yang ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Korea Selatan. Negara Komunis itu, bersikukuh untuk tetap mempertahankan program senjata nuklirnya.

Mereka menolak setiap usaha untuk menghentikan program itu. Wakil Duta Besar Korea Utara, Kim In Ryong telah menegaskan hal tersebut di hadapan Komite Perlucutan Senjata di Majelis Umum PBB.

Kim In Ryong mengatakan, sikap seperti itu memiliki alasan kuat, salah satunya karena situasi krisis di wilayah Semenanjung Korea yang sudah mencapai titik di mana dapat berubah menjadi perang senjata nuklir kapapun.

Alasan lain adalah, karena saat ini Korea Utara sudah menjadi satu-satunya negara di dunia yang mendapat ancaman langsung serangan nuklir dari negara adidaya, AS, sejak terakhir dilakukan AS pada 1970. Sehingga, dengan memproduksi senjata nuklir, mereka memiliki kekuatan tandingan.

(Baca juga: Aksi Mogok Makan Dokter Muda Polandia Berakhir)

Ancaman Nuklir Korut di Level Kritis

Menanggapi fakta tersebut, Menteri Pertahanan Jepang, Itsunori Onodera, mengatakan sudah seharusnya setiap negara menghadapi ancaman tersebut. Karena, pengembangan nuklir dan senjata konvensional Korea Utara itu sudah masuk titik kritis dan mungkin akan segera terjadi perang.

“Ancaman dari Korut telah berkembang ke level yang belum pernah terjadi, kritis, dan mungkin segera terjadi. Untuk itu, kami telah mengkalibrasi dan merespons dengan melakukan pertemuan untuk membahas tingkat ancaman tersebut,” ungkapnya saat kunjungan ke Perusahaa AS dan Korsel di Filipina.

Reaksi Amerika Serikat

Sementara itu, AS terus mengingatkan Korut agar tidak memakai senjata nuklir tersebut. Pemerintah AS menegaskan, apabila Korut tetap nekad dengan hal itu, mereka tidak akan segan-segan mengerahkan kekuatan militer besar-besar untuk menghentikannya.

(Baca juga: Setelah Ditikam, Julio da Silva Meregang Nyawa)

“Setiap serangan terhadap AS atau sekutunya akan dikalahkan. Setiap penggunaan senjata nuklir oleh Korut akan berhadapan dengan respons militer yang masif, efektif, dan besar,” tegas Jim Mattis saat jumpa pers dalam kunjungannya ke Seoul, Korea Selatan, Sabtu (28/10).

Menteri Pertahanan negri Paman Sam itu juga menjelaskan, Washington tidak akan pernah sepakat dengan penggunaan senjata nuklir seperti dilakukan oleh Korea Utara.

Tetapi, Mattis juga mengatakan, itu bukan berarti AS akan segera melakukan perang melawan Korea Utara. Menurut Mattis, nanti akan terlebih dahulu dilakukan melalui jalur kerjasama diplomatik dengan berbagai negara di Asia.* (YAH).