Dawainusa.com – Sebuau video tentang seorang anak menangis lantaran rindu ibunya yang telah tiada viral di media sosial.

Bocah laki-laki itu tampak sedih meratapi kehilangan ibundanya, hingga membuat para warganet turut merasa sedih.

Melansir TribunNews pada Rabu (19/8/2020), menanggapi video viral tersebut, psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Anava Solo, Maya Savitri, S. Psi., CHt., angkat bicara.

Baca jugaViral Sosok Mama Muda Beranak 4 yang Cantik seperti Bocah SMP

Tanggapan Psikolog soal Anak Menangis 

Diketahui dalam video yang beredar, bocah laki-laki itu terdengar menanyakan keberadaan sang ibu di sela tangisnya.

Ia pun berulang kali mengatakan dirinya kangen terhadap ibunya. Bocah laki-laki itu juga berujar ingin dijemput sang ibu karena ingin bersamanya.

Psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Anava Solo, Maya Savitri, S. Psi., CHt., mengatakan tangisan balita dalam video tersebut merupakan ekspresi kerinduan seorang anak yang belum benar-benar mengerti arti kematian.

“Ekspresi kekangenan seorang anak balita yang belum paham tentang arti sesungguhnya tentang sebuah kematian,” kata Maya saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Rabu (19/8/2020) siang dikutip Dawainusa.com.

Lebih lanjut, Maya menjelaskan mengenai cara yang tepat untuk menyampaikan kabar duka pada anak.

Dalam hal ini, menurut Maya, orang tua perlu menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana.

“Pertama, bahasa yang disampaikan harus sederhana dan dipahami anak,” kata Maya.

Lebih lanjut Maya menambahkan, ketika menyampaikan kabar duka, seperti kematian, pada balita maka lebih baik menggunakan penjelasan yang nyata.

Maya Savitri
Psikolog Anak/TribunNews

Baca jugaStres Istri Merantau, Seorang Ayah di Flores Timur Habisi Nyawa 2 Anaknya

Menurut Maya, penjelasan yang tidak konkret seperti mengatakan ‘ibu tidur’ akan memunculkan pengharapan mereka untuk bertemu kembali.

“Jelaskan kematian dengan istilah yang konkret,” ujar Maya.

“Misalnya, ‘meninggal itu berarti Allah sudah lebih sayang dengan ibu, meninggal berarti tangan-kaki sudah tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas,’ dan lain-lain.”

“Karena kalau kita katakan ibu tidur atau ibu masih pergi, anak masih punya pengharapan untuk pasti akan kembali,” jelasnya.

Sementara itu, dalam menghadapi kerinduan sang anak terhadap orang tuanya yang telah tiada maka keluarga atau orang tua lainnya perlu melakukan sejumlah hal berikut.

Di antaranya yaitu mengajak anak beraktivitas. Selain itu, orang tua maupun keluarga juga dapat mengajaknya mengobrol.

“Ajak ngobrol untuk mengalihkan pikiran anak ke hal yang menyenangkan,” ujar Maya.

Setelah itu, Maya menambahkan, orang tua dapat mengajak sang anak berdoa ketika kondisinya sudah tenang.

“Ketika anak sudah tenang, di saat salat, ajak anak untuk mendoakan,” kata Maya.