Anak dalam Video Mesum di Bandung, Ternyata Dipaksa Orang Tua

Anak dalam Video Mesum di Bandung, Ternyata Dipaksa Orang Tua

Hasil investigasi Polda Jawa Barat terhadap pelaku kasus video mesum yang melibatkan tiga orang anak dan dua perempuan dewasa di Bandung menemukan adanya keterlibatan orang tua dari anak-anak yang menjadi korban. (Foto: Cuplikan video vulgar wanita dewasa dan bocah - ist)

BANDUNG, dawainusa.com Hasil investigasi Polda Jawa Barat terhadap pelaku kasus video mesum yang melibatkan tiga orang anak dan dua perempuan dewasa di Bandung menemukan adanya keterlibatan orang tua dari anak-anak yang menjadi korban.

“Dalam konteks kasus ini, kami BAP, ada orangtua yang menyuruh putranya melakukan seperti itu, padahal putranya menolak, dipaksa, bahkan sampai menangis,” kata Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto di Mapolda Jabar, Kota Bandung, sebagaimana dilansir kompas.com, Senin (8/1).

Ada pun ketiga anak-anak tersebut masih berusia 9 tahun 2 orang yakni DN dan RD dan seorang lagi masih berumur 11 tahun, yakni SP. Ketiga anak tersebut, menurut keterangan Irjen Agung Budy Maryoto diberi uang 200 -hingga 300 ribu rupiah.

Baca juga: Tolak Hadiah Sepeda, Siswa Tunanetra di Kupang Minta Laptop ke Jokowi

Selain menemukan keterlibatan orang tua, polisi juga menemukan dan sudah menangkap sang sutradara dari video tersebut. Menurut keterangan polisi, setiap adegan dalam video tersebut di-setting olah sang sutradara yang berinisial F. Tersangka F mendapat uang sebesar 30 juta rupiah.

Trauma Healing bagi Korban

Untuk menyembuhkan trauma anak-anak tersebut, pihak Polda Jabar bekerja sama dengan pusat pelayanan Terpadu pemberdayaan perempuan dan Aank (P2TP2A0) Jawa Barat.

“Kami utamakan mereka trauma healing sehingga di-recovery dan bisa semangat lagi,” katanya.

Menanggapi niat pihak Polda Jabar tersebut, Ketua P2TP2A Provinsi Jabar Netty Heryawan mengatakan bakal melakukan serangkaian kegiatan observasi yang melibatkan psikolog dalam kasus percabulan terhadap anak di bawah umur tersebut.

Baca juga: Minum Air Kencing Unta, Ketua GNPF MUI Ditentang Kemenkes RI

“Trauma healing tentu kami siapkan serangkaian kegiatan, seperti dilakukan pendekatan spiritual, pembiasaan budi pekerti dan etika, serta pendampingan pekerja sosial dan psikolog,” katanya.

Netty Heryawan menambahkan, pihaknya akan berusaha untuk mengembalikan dua anak yang putus sekolah dari tiga anak yang menjadi korban percabulan itu ke bangku pendidikan. Menurut Netty, mereka sudah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Jabar.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jabar. Ada salah satu unit layanan pendidikan khusus untuk memberikan hak pengajaran kepada anak. Hari ini berhadapan hukum lewat guru pembimbing yang bisa didatangkan ke selter tempat mereka diadvokasi,” pungkasnya.

Hukum Pelaku Seberat-beratnya

Menanggapi kejadian tersebut, anggota DPR RI Endang Maria Astuti, meminta pihak berwajib untuk menghukum pelaku dengan hukuman seberat-beratnya. Dirinya menyayangkan peristiwa seperti itu bisa terjadi.

“Saya sedih, sekaligus marah dan prihatin mendengar adanya kasus phedofilia dengan korban sebanyak 25 anak. Saya juga mengapresiasi jajaran kepolisian yang telah berhasil membongkar kasus tersebut. Namun tentunya tugas aparat penegak hukum tidak berhenti di sini, saya berharap dan mendorong agar aparat penegak hukum memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku, agar menimbulkan efek jera kepada pelaku, sekaligus memberi contoh kepada orang lain untuk berpikir ulang jika ingin melakukan hal serupa,” ungkap Endang.

Baca juga: Gugatan Cerai, Suara Terakhir Ahok Dari Mako Brimob

Berangkat dari peristiwa tersebut, anggota fraksi Golkar itu menyoroti kinerja Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Menurutnya, KPAI selama ini hanya mendata saja dan baru bergerak menunggu ada korban yang jatuh.

“Sebenarnya masih banyak yang bisa dilakukan KPAI selain melakukan pendataan, menampung laporan, dan baru kemudian melakukan pendampingan terhadap korban jika diketemukan kasus terhadap anak. Misalnya dengan mengadakan sosialisasi ke lingkungan rumah tangga dan ke sekolah agar tidak terjadi lagi kasus serupa, predator anak, pelecehan seksual terhadap anak ataupun tindak kekerasan terhadap anak. Dan tentunya sosialisasi ini juga tidak semata merupakan tugas dari KPAI, namun juga tugas seluruh pihak, termasuk orangtua pastinya, guru-guru, tokoh agama dan masyarakat,” pungkasnya.* (RSF)