Amien Rais Minta Presiden Jokowi Copot Kapolri Tito Karnavian

Amien Rais Minta Presiden Jokowi Copot Kapolri Tito Karnavian

JAKARTA, dawainusa.com – Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais meminta Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) agar mencopot Kapolri Tito Karnavian dari jabatannya.

Permintaan itu disampaikan oleh Amien Rais ketika menghadiri panggilan penyidik untuk menjadi saksi dalam kasus berita bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet di Polda Metro Jaya, Rabu (10/10).

Ia mengatakan, dasar permintaan itu ialah karena selama ini banyak kasus korupsi yang masih mengendap di KPK. Kasus tersebut, klaim dia, memiliki kaitannya dengan keberadaan Kapolri Tito Karnavian. Terkait kasus ini, ia mengaku akan membongkarnya di hadapan publik.

Baca juga: Sejumlah Sorotan Oposisi di Balik Pemanggilan Amien Rais

“Saya tahu Anda semua ingin tahu soal KPK, saya minta pada Pak Jokowi supaya Pak Kapolri Tito Karnavian segera dicopot alasannya pelajari sendiri,” ujar Amien Rais.

Amien Rais menegaskan bahwa terkait dengan hal tersebut, Kapolri Tito Karnavian sudah semestinya dicopot karena masih banyak polisi di Indonesia ini yang lebih jujur dari dirinya dan memiliki komitmen untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

“Saya yakin kepemimpinan Polri yang jujur dan mengabdi bangsa dan negara masih banyak untuk mengganti Tito Karnavian. Polisi tulang punggung keamanan nasional,” kata Amien Rais.

Adapun kedatangan Amien Rais ke Polda Metro Jaya itu dikawal langsung oleh massa Persaudaraan Alumni 212 (PA 212).

PA 212: Pembodohan Publik

Terkait pemanggilan terhadap Amien Rais tersebut, Wakil Ketua PA 212 Syarifuddin menilai bahwa hal itu merupakan sebuah pembodohan publik.

“Apa yang dilakukan kepolisian yang memanggil Bapak Amien Rais adalah kekeliruan besar. Adalah bentuk pembodohan kepada masyarakat,” kata Syarifuddin melalui pengeras suara di mobil komando di Masjid Al Munawwar, Jakarta, Rabu (10/10).

Menurut Syariffuddin, Amien Rais sama sekali tidak pernah melakukan perbuatan bohong dan menyebarkan kebohongan kepada publik seperti yang ditudingkan kepadanya.

Baca juga: KPK Minta Amien Rais Beri Bukti Soal Kasus Korupsi yang Mandek

Amien Rais, demikian Syariffuddin, hanyalah seorang korban dari kebohongan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet. Bahkan Syariffudin mengatakan bahwa justru ketika Amien Rais dibohongi oleh Ratna Sarumpaet dan dia menaruh empati atas penganiayaan terhadap dirinya, itu sebenarnya sebuah sikap seorang negarawan.

“Begitupun Bapak Prabowo Subianto. Yang patut dicatat adalah respons sebagai tokoh bangsa yang peduli terhadap kejadian yang menimpa warga negara Indonesia,” ujar Syarifuddin.

Karena itu, demikian Syarifuddin, massa PA 212 tidak akan berhenti beraksi sebelum Amien Rais diperiksa oleh kepolisian. Hal itu dilakukan mereka untuk memastikan bahwa pihak kepolisian tidak melakukan kriminalisasi terhadap Amien Rais.

“Maka saya perlu ingatkan kepada kepolisian, jika Polda akan kriminalisasi terhadap Amien, atau tokoh yang lainnya kami akan terus melawan dengan massa yang besar. Kami tidak akan bubar sebelum Pak Amien selesai diperiksa,” kata Syarifuddin.

Sejumlah Kejanggalan

Pemanggilan Amien Rais sebagai saksi dalam kasus kabar bohong Ratna Sarumpaet memang telah memunculkan sejumlah perdebatan. Amien Sendiri mengungkapkan beberapa kejanggalan yang akan disampaikannya ke kepolisian.

Pertama, Amien menyatakan polisi memanggil dirinya berdasarkan keterangan Ratna. Namun ada yang janggal di tanggal surat pemanggilan tersebut.

“Kita lihat surat pemanggilan untuk saya tertanggal 2 Oktober. Padahal, kita semua tahu Ratna Sarumpaet baru ditangkap oleh polisi tanggal 4 Oktober. Ini sangat janggal sekali,” ungkap Amien di Polda Metro Jaya, Rabu (10/10).

Baca juga: Drama Kebohongan dan Kemungkinan Mythomania pada Sarumpaet

Amien mengaku janggal karena pada tanggal 2 Oktober itu, Ratna bahkan belum memberikan keterangan apapun ke polisi. “Ini kriminalisasi wallahhua’lam,” tegas Amien.

Kejanggalan kedua, Amien membeberkanya bahwa namanya tertulis di surat pemanggilan tanpa mencantumkan ‘Muhammad’. Padahal ia mengaku memiliki nama lengkap Muhammad Amien Rais.

“Saya mau naya ke AKBP Jerry Siagian kenapa nama Muhammad tidak ditulis, apakah alergi, wallahua’lam,” pungkas Amien.*