Alberto Fujimori, Bebasnya Sang Otoriter dan Kemurkaan Warga Peru

Alberto Fujimori, Bebasnya Sang Otoriter dan Kemurkaan Warga Peru

Selama dua malam berturut-turut, warga memadati jalan-jalan Ibu Kota Peru untuk memprotes pengampunan terhadap  Fujimori yang kabarnya kini sedang sakit di penjara. (Alberto Fujimori - ist)

PERU, dawainusa.com Pembebasan mantan Presiden Alberto Fujimori, memicu kemurkaan warga Peru.  Selama dua malam berturut-turut, warga memadati jalan-jalan Ibu Kota Peru untuk memprotes pengampunan terhadap  Fujimori yang kabarnya kini sedang sakit di penjara.

Menurut Laporan New York Times, para penentang Fujimori menggelar aksi demonstrasi di depan klinik, tempat mantan pemimpin Peru itu menjalani pengobatan, sambil melantunkan teriakan “penghianat” dan “yang diampuni harus pergi”. Bentrokan antara demonstran dan polisi pun terjadi saat mereka berusaha dibubarkan dengan gas air mata, Senin (25/12).

Fujimori mendapat pengampunan Presiden Kucyznski dengan alasan kondisi kesehatan yang terus menurun. Eks Presiden itu dianggap sebagai tokoh pemecah belah di Peru, dan dipandang berhasil menstabilkan krisis ekonomi dengan menindas lawan-lawannya secara brutal. Lewat akun Facebooknya, Fujimori menyampaikan terima kasih pada Kucynznski.

Baca juga: Rebut Patung Yesus Sambil Telanjang Dada, Alisa: Tuhan Adalah Perempuan

Selain aksi protes yang telah berlangsung selama dua hari, langkah pengampunan kepada Fujimori itu diikuti dengan pengunduran diri sejumlah anggota Parlemen. Mereka mempertanyakan apakah ada kesepakatan politik dibalik langkah kemanusiaan yang diambil Kucyznski.

Alberto Fujimori, eks Presiden yang Otoriter

Alberto Fujimori lahir di Lima, Peru, 28 Juli 1938. Fujimori menjabat sebagai Presiden Peru dari 28 Juli 1990 sampai 17 November 2000. Ia adalah orang ketiga dari keturunan Asia Timur yang menjadi kepala negara sebuah negara Amerika Selatan. Yang pertama adalah Arthur Chung (1970-1980) sebagai Presiden Guyana dan kedua adalah Dr. Henk Chin A Sen (1980-1981) di Suriname.

Popularitasnya sempat menanjak ketika dia mengalahkan gerilyawan Sendero Luminoso. Sendero Luminoso merupakan Partai Komunis yang dicap sebagai kelompok militan komunis di Peru. Sendero Luminoso pertama kali meluncurkan konflik internal di Peru pada tahun 1980 dengan tujuannya mengganti demokrasi borjuis dengan “New Democracy”.

Pada masa jabatannya, Fujimori berhasil mengembalikan kestabilan ekonomi makro setelah masa kepresidenan Alan García dan membawa kedamaian di negara yang sedang kacau tersebut. Tak hanya itu, ia juga berhasil membebaskan puluhan orang yang disandera pemberontak Tupac Amaru dalam serangan di kediaman duta besar Jepang di Lima. Tupac Amaru merupakan kelompok pemberontak yang lebih kecil, yang melawan pemerintahan Peru.

Baca juga: Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Hong Kong

Di tengah popularitasnya itu, Fujimori dikritik sebagai pemimpin yang otoriter. Sebuah skandal korupsi yang melibatkan kepala intelijen Vladimiro Montesinos menghancurkan popularitas pemerintahannya. Di penghujung tahun 2000, dalam kekacauan skandal dan ketidakstabilan, ia meninggalkan Peru untuk mengikuti pertemuan APEC di Brunei dan kemudian ke Jepang.

Dari Jepang, ia mengundurkan diri sebagai presiden dengan faksimili dan surat resmi ke Kedutaan Besar Peru di Tokyo. Dia kemudian ditangkap di Cile dan diekstradisi ke Peru. Pada Oktober 2005, ia menyatakan akan mengikuti pemilihan presiden Peru 2006 pada bulan April. Namun saat datang ke Chili, ia diamankan oleh otoritas setempat pada 7 November 2005.

Fujimori kemudian diekstradisi ke Peru untuk menghadapi dakwaan kriminal pada September 2007. Pada 7 April 2009, Fujimori dinyatakan terbukti dan divonis 25 tahun penjara atas dakwaan pelanggaran hak asasi manusia karena terlibat pembunuhan dan penculikan yang dilakukan pasukan Paramiliter Grupo Colina saat pemerintahannya menghadapi gerilyawan sayap kiri pada tahun 1990-an.

Langkah ini adalah pertama kalinya seorang presiden Amerika Latin yang terpilih secara demokratis dinyatakan bersalah atas pelanggaran semacam itu di negaranya sendiri. Atas putusan itu, Fujimori tidak bereaksi selain menyatakan akan mengajukan banding.

Sebuah majelis tiga hakim menyatakan Fujimori terbukti memerintahkan sebuah pasukan pembunuh untuk melakukan dua pembantaian yang menewaskan 25 orang selama ia berkuasa antara tahun 1990-2000, ketika dia menghadapi gerilyawan komunis. Hampir 70.000 orang tewas dalam konflik. Selama 15 bulan persidangannya, dia tetap mengatakan tidak bersalah.

Fujimori mengatakan, dirinya tidak tahu-menahu tentang aksi pasukan pembunuh militer ketika itu. Tetapi, pengadilan menemukan bukti bahwa dia memberi izin dan melindungi unit tentara La Colina. Kejahatan-kejahatan kemanusiaan itu terjadi dalam hari-hari paling gelap perjuangan Peru memerangi pemberontak kiri selama dua dekade.* (AT)