Aksi Mogok Makan Dokter Muda Polandia Berakhir

Aksi Mogok Makan Dokter Muda Polandia Berakhir

Aksi mogok makan sejumlah dokter muda di Polandia terkait tuntutan mereka kepada pemerintah untuk menaikan anggaran layanan kesehatan publik berakhir. (Foto: aksi mogok makan dokter di Polandia, chron.com)

POLANDIA, dawainusa.com Sejumlah dokter muda di Polandia mengakhiri aksi mogok makan yang telah mereka mulai secara bergantian sejak 2 Oktober  lalu.

Aksi tersebut terkait tuntutan mereka kepada pemerintah konservatif Polandia untuk menaikan anggaran layanan kesehatan publik di negara belahan Timur benua biru tersebut.

Berakhirnya aksi mogok makan tersebut dikonfirmasi Jaroslaw Bilinski, salah satu pemimpin gerakan itu, pada saat sebuah konferensi pers, sebagaimana dilansir antaranews.com, Selasa (31/10).

“Kami menghentikan protes dalam bentuk ini, namun kami belum selesai memperjuangkan permintaan utama kami,” kata Jaroslaw Bilinski.

(Baca jugaIni Alasan JK Tak Ikut Pilpres 2019)

Rekan-rekan Bilinski akan tetap melakukan perjuangan dengan bentuk aksi lain hingga tuntutan mereka dipenuhi pemerintah.

“Kami akan terus melakukan protes dengan menolak bekerja lembur,” tegas Bilinski lagi.

Tuntutan mereka (para dokter muda), menurut Bilinski adalah pemerintah harus menaikkan anggaran layanan kesehatan dari 4,7 persen Produk Domesti Bruto (PDB) menjadi 6,8 persen dalam tiga tahun.

Selain itu juga, mereka menuntut kenaikan gaji 500 sampai 700 Euro untuk koas. Merespon berakhirnya aksi makan tersebut, pemerintah Polandia melalui Menteri Kesehatan Konstanty Radziwill mengaku senang.

(Baca jugaTerjebak Perselingkuhan, Abdul Rahman Dipecat Sebagai Hakim)

“Kami senang mereka (para dokter muda) tidak mogok makan lagi,” imbuhnya.

Menurut Ridziwill tuntutan para demonstran yang terdiri atas para dokter muda itu sedang diproses oleh pemerintah. “Permintaan mereka sudah dipenuhi atau sedang dalam proses untuk dipenuhi,” ungkapnya.

“Pada Juni lalu saya telah mengesahkan sebuah rancangan Undang-Undang untuk menaikkan belanja layanan kesehatan menjadi 6,0 persen dari PDB pada 2025,” tambah Ridziwill.* (RSF)