Aksi Bela ‘Tampang Boyolali’: Pesanan dari Jakarta?

Aksi Bela ‘Tampang Boyolali’: Pesanan dari Jakarta?

OMONG DENG, dawainusa.com Barangkali, Prabowo Subianto tak pernah menyangka jika pidatonya di Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (30/10) lalu memantik sejumlah kontroversi.

Pasalnya, calon presiden nomor urut 02 itu hanya sekedar bercanda, tak serius dari dalam hati. Saya tak tahu apakah usai pidatonya itu viral di jagat media, mantan Danjen Kopassus itu bisa tidur nyenyak atau tidak.

Semuanya gara-gara ‘Tampang Boyolali’. Kita coba dudukan konteks pidato Prabowo secara proporsional. Tampang Boyolali disebutkan Prabowo dalam konteks pembicaraan kemiskinan di Indonesia.

Baca juga: Gara-gara ‘Tampang Boyolali’ Prabowo Subianto Dipolisikan

Ia membandingkan timpangnya ekonomi di Indonesia. Ia melihat pertumbuhan di Jakarta, sangat berbeda dengan daerah lain, indikatornya banyak gedung tinggi, termasuk hotel-hotel ternama dunia.

Prabowo kemudian menyebut “dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang Kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini.”

Begitulah kutipan pidato Prabowo yang sempat menjadi tranding topic di Twetter itu. Kita memahami betul psikologi warga Boyolali. Harga diri sebagai ‘anak tanah’ dipertaruhkan. Bahkan, jika tak ada yang berusaha meredam, bisa saja warga Boyolali akan mendatangi kediaman Prabowo dan menggelar aksi unjuk rasa.

Setidaknya, perasaan warga Boyolali yang mengaku harga dirinya diinjak-injak itu sedikit mengalami kemiripan dengan respon masyarakat NTT ketika beberapa waktu lalu Menteri Pendidikan menyebut NTT sebagai borok pendidikan Indonesia. Saat itu Mendikbud banjir kecaman dan hujatan. Ia dipaksa untuk minta maaf.

Beruntung gejolaknya bisa diredam. Jika tidak, besar kemungkinan warga NTT di tanah rantau akan pulang kampung demi mengambil bagian dalam membela daerahnya yang banyak menyandang predikat itu. Ini ekspresi alamiah warga karena merasa disakiti. Karena daerahnya, tempat ia tumbuh dengan gagah perkasa, diremehkan.

Namun, ada beberapa pertanyaan kecil di balik kemarahan warga Boyolali. Mengapa saat Prabowo melontarkan guyonan, para peserta tidak melakukan protes. Banting meja, angkat kursi dan lempar Prabowo, misalnya. Sebagian besar dari mereka justru malah tertawa dan setuju mendengar kritik satire ala Prabowo itu.

Artinya, kita bisa bisa tarik kesimpulan sementara bahwa ada yang sependapat dengan sentilan Prabowo. Atau, kemungkinan lain jangan-jangan mereka sengaja tunggu Prabowo balek Jakarta baru dihajar? Entahlah.

Kita juga menangkap ekspresi kemarahan warga melalui Bupati Boyolali Seno Samodro. Seno rupanya sangat geram. Daerah yang dipimpinnya kok dianggap sebelah mata. Mausuk hotel berkelas di Jakarta kok gak bisa. Keterlaluan bener.

Di hadapan ribuan peserta aksi bela ‘Tampang Boyoylali’, Seno menyerukan agar tidak memilih Prabowo dalam Pilpres mendatang. Bahkan, Seno mencoba memahami pola pikir Prabowo dengan pidato nyinyir Prabowo.

“Kita ambil sikap tegas, tidak akan memilih Prabowo. Dengan pidato yang nyinyir terhadap Boyolali itu kita semakin bisa mengerti, seberapa sih pola pikir Prabowo itu,” tegas Seno seperti dikutip detik.com.

Pesanan dari Jakarta?

Selain coba memahami reaksi psikologi warga Boyolali, ada beberapa pertanyaan lain yang perlu kita cek kembali di balik polemik ‘Tampang Boyolali’. Misalnya, apakah aksi bela Tampang Boyolali murni karena akumulasi kekecewaan warga Boyolali ataukah ada motif lain di balik itu?

Soal ini, mari kita intip cuitan politisi Demokrat Andi Arief. Dalam cuitannya di akun Twitter @AndiAreif pada Minggu (4/11), Andi menyebut bahwa orang Boyolali suka dengan humor dan tidak mudah tersinggung. Sehingga menurutnya, aksi yang digelar oelah warga Boyolali merupakan pesanan dari Jakarta.

“Warga Boyolali yang saya kenal suka humor dan tidak gampang tersinggung. Kalau ada yang protes rame sampai demo soal “tampang boyolali”, mungkin order dari Jakarta.

Baca juga: Soal Korupsi di NTT, Wakil Gubernur Nae Soi Akan Datangkan KPK

Andi Arief lantas menambahkan jika saat ini ada sebuah demo yang mendukung pemerintah yang disebut dengan mobilisasi. Menurutnya, hal itu pernah terjadi di pemerintahan Indonesia pada tahun 1965-1966. Andi Arief menilai, gerakan aksi warga Boyolali ini seolah-olah melawan gerakan ganti presiden.

Kita tak boleh serampangan percaya dengan cuitan Andi Arief. Kita masih dalam posisi menghormati warga Boyolali yang telah mati-matian membela harga diri daerahnya. Meskipun kita tahu bahwa Boyolali adalah wilayah basis suara Joko Widodo di pemilu 2019. Daerah itu juga dikenal sebagai kandang PDI Perjuangan.

Pada pemilu legislatif 2014, PDIP menguasai 25 kursi DPRD Boyolali dari total 45 kursi. Saat Pilpres 2014 Jokowi-JK juga menang tiga kali lipat dibanding Prabowo dengan perolehan suara 457.914 (75.91 persen) berbanding 145.353 (24.09 persen) yang diraih Prabowo-Hatta.

Sepakat dengan Andi Arief, Prabowo harus minta maaf ke warga Boyolali, meskipun Bupati Boyolali telah bersihkukuh untuk tidak meneirma permintaan maaf Prabowo.*

COMMENTS