dawainusa.com Hingga saat ini, kebijakan terkait penutupan akses penerbangan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) belum bisa diterapkan.

Di beberapa wilayah, pemerintah daerah (pemda) memang mempunyai keinginan untuk sementara waktu menutup pelayanan penerbangan yang mengangkut penumpangan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Baca juga: Tak Bisa Pulang, 75 Warga NTT Tertahan di Pelabuhan Lembar, NTB

Namun, kinginan pemda bertabrakan dengan pemerintah pusat, mengingat kebijakan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Meski akses penerbangan ke NTT tetap dibuka, Pemerintah Provinsi NTT mempunya opsi untuk menyiasati hal itu, yakni meminta operasional maskapai penerbangan untuk masuk ke wilayah NTT dibatasi.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka mengatakan, untuk menekan penyebaran Covid-19 di NTT, pengelola Bandara dalam hal ini angkasa Pura 1 bisa mengurangi jam operasionalnya.

“Dari yang kalau biasanya, dari pagi sampai malam. Berkaitan dengan pencegahan ini kita minta supaya jam operasional dikurangi. Menjadi sampai jam 6 sore saja, “ungkap Isyak Nuka kepada wartawan di Kantor Gubernur NTT, Senin (20/04/2020).

Ia mengatakan, kebijakan soal pengurangan frekuensi penerbangan sudah diterapkan maskapai Lion Air.

“Sesungguhnya ini tanpa kita minta pun, maskapai Lion Air sudah mengurangi jam penerbangannya. Memang ada penerbangan malam seperti dari Makasar itu masih. Kedepan kita minta supaya bisa dikurangi sampai jam 6 sore saja,” katanya.

Kebijakan Tetap Sama: Bandara Belum Ditutup

Saat ini, kebijakan pemerintah provinsi NTT masih tetap sama. Tidak berubah sebagaimana sudah dijelaskan sebelum-sebelumnya.

“Jadi, kalau di Bandara belum kita tutup. Tetapi yang terjadi adalah pengurangan frekuensi penerbangan itu disebabkan karena air line sendiri yang mengambil kebijakan demikian,” pungkasnya.

Baca juga: Efek Wabah Corona, Ribuan Pekerja di NTT Terkena PHK

Sementara untuk di laut, penumpang yang menumpangi terutama menggunakan kapal-kapal pelni sudah mulai berkurang.

“Mungkin satu dua hari viral di media, khususnya di pintu masuk Sape-Labuan Bajo dan di Waingapu, itu masih ada. Lebih banyak dikarenakan ketidaktahuan dari para saudara-saudara kita, terutama anak-anak mahasiswa kita dan juga para pekerja yang tidak mendapatkan informasi adanya pelarangan ini,” ujarnya.

“Terhadap mereka kita masih memberi toleransi, semata-mata alasannya kemanusiaan karena ketidaktahuan mereka. Sekali lagi saya tekankan karena ketidaktahuan mereka terhadap informasi, ” lanjut dia.

Isyak mengatakan, pihaknya terus melakukan sosialisasi, terutama sesama dinas perhubungan, untuk mencegah penumpang yang melakukan perjalanan demi mengurangi persebaran Covid-19.

“Baik kadis perhubungan di Nusa Tenggara Barat, di Bali, di Jawa Timur, bahwa kita di NTT mengambil kebijakan dalam rangka pencegahan covid-19 secara lebih meluas dengan cara melarang penumpang untuk tidak melakukan perjalanan, ” pungkasnya

Kebijakan ini menurut dia, sejalan dengan himbauan larangan pemeritah untuk melakukan social distancing.

“Tidak keluar dari rumah. Kalau kita lihat untuk beribadah kepada Tuhan saja, kita tidak ke Masjid, kita tidak ke Gereja. Kita harapkan saudara-saudara kita untuk tidak melakukan perjalanan. Muda-mudahan ini menjadi efektif untuk Minggu-minggu kedepan,” ungkapnya.*