Akibat Pergaulan Bebas, Pelajar di Lembata Idap HIV Stadium 4

Ilustrasi - ist

LEMBATA, dawainusa.com Perilaku pergaulan bebas menjadi semacam ‘budaya’ di kalangan pelajar saat ini. Kehidupan yang jauh dari kontrol orang tua menjadi salah satu faktor mengapa hal itu bisa terjadi.

Di sisi lain, gaya hidup glamor yang sulit dikendalikan, ditambah pula ketidaksanggupan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri, membuat mereka terjebak dalam relasi yang tidak sehat itu.

Bahaya pergaulan bebas yang bisa mengakibatkan terjangkit HIV/AIDS hingga merenggut nyawa, rupanya tak begitu dihiraukan. Sebagian dari mereka memilih nekat meski nyawa dan masa depan jadi taruhan.

Cerita tentang seorang pelajar Lembata yang terdiagnosa positif HIV baru-baru ini setidanya menjadi pelajaran sekaligus bahan permenungan bagi generasi muda kita untuk lebih bijak dalam membangun relasi.

Melansir Pos Kupang, Kamis (5/3), pada awal Maret 2020 ini kembali ditemukan satu orang pelajar SMA berjenis kelamin laki-laki positif terinfeksi HIV stadium empat. Kondisinya pun sangat memprihatinkan.

Dokter Alma Carvallo, seperti yang dilaporkan Pos Kupang, membeberkan cerita di balik petualangan sang pelajar tersebut. Menurut Dokter Alma, pada mulanya anak pelajar dibawa ke rumah sakit karena sakit kejang-kejang.

Namun setelah diperiksa dan ditelusuri lebih lanjut ternyata dia sudah terinfeksi HIV stadium empat. Dia pun kemudian menelusuri perilaku pelajar yang selama ini tinggal di kos-kosan tersebut.

Ternyata, perilaku pergaulan bebas pelajar tersebut sudah tidak bisa dikontrol. Dia banyak melakukan hubungan badan, dibayar maupun tanpa dibayar. Lebih mencengangkan lagi, dia juga pernah melakukan hubungan sesama jenis.

Informasi dari dokter yang banyak menangani masalah HIV dan Aids di Lembata ini pun sontak saja membuat semua peserta yang hadir terkejut dan merasa prihatin.

Tambah Daftar Panjang Pelajar Terinfeksi HIV

Peristiwa ini menambah daftar panjang pelajar di Lembata yang terinfeksi HIV. Dokter Alma pun selalu mengingatkan bahwa jenis penyakit mematikan ini bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu.

“Bahkan, di bulan Februari ada ibu hamil juga yang kena,” kata dia sembari menambahkan bahwa berdasarkan data kategori pekerjaan ibu rumah tangga terbanyak mengidap HIV dan Aids.

Ini belum lagi diperparah dengan fakta lain yang dia ungkapkan bahwa ada kasus suami menjual istrinya di tempat hiburan malam semata untuk mendapatkan uang.

Dia meminta semua ASN, pegawai honorer, TNI, Polri dan masyarakat luas untuk tidak segan-segan melakukan tes HIV.

Data Kasus HIV/AIDS di NTT

Pada 2019 lalu, Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTT memberikan laporan soal kasus HIV/AIDS di NTT. Laporan tersebut menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS tertinggi ada di Kota Kupang, yakni sebanyak 1.454 kasus dengan jumlah meninggal sebanyak 67 orang.

Sedangkan jumlah kasus terbanyak kedua adalah di Kabupaten Belu,yakni 918 kasus. Dari sisi jumlah yang meninggal dunia, Kabupaten Belu tertinggi korban meninggal, yakni dari jumlah kasus 918 kasus, ada 248 orang yang meninggal.

Sedangkan jumlah kasus terendah di Kabupaten Sabu Raijua, yakni tujuh kasus tanpa ada yang meninggal.

Sementara dari sisi usia , kasus HIV/AIDS terbanyak pada usia 25 – 49 tahun sebanyak 5.194 kasus, kemudian usia 20-24 tahun sebanyak 776 kasus, sementara penderita di atas 50 tahun sebanyak 334 kasus.

Berikut data kasus HIV/AIDS di kabupaten dan kota se- NTT.

  1. Kota Kupang: 1.454 (67)
  2. Kupang: 183 (12)
  3. TTS: 267 (115)
  4. TU: 294 (99)
  5. Belu: 918 (248)
  6. Malaka: 244 (17)
  7. Alor: 189 (27)
  8. Lembata: 252 (79)
  9. Flotim: 616 (123)
  10. Sikka: 749 (184)
  11. Ende: 269 (112)
  12. Nagekeo: 85 (25)
  13. Ngada: 111 (59)
  14. Manggarai Timur: 63 (22)
  15. Manggarai: 166 (39)
  16. Manggarai Barat: 68 (3)
  17. Sumba Timur: 244 (28)
  18. Sumba Tengah: 24 (4)
  19. Sumba Barat: 56 (16)
  20. Sumba Barat Daya: 250 (88)
  21. Rote Ndao: 25 (2)
  22. Sabu Raijua: 7 (0).

Total kasus : 6.554*

Artikulli paraprakSejumlah Kontroversi Tara Basro Sebelum Foto Tanpa Busana
Artikulli tjetërWali Kota Kupang soal Harga Penjualan Masker yang Meroket