Airlangga: Sejak Hari Ini, Kita Tidak Punya Kelompok-kelompok Lagi

Airlangga: Sejak Hari Ini, Kita Tidak Punya Kelompok-kelompok Lagi

Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto mengatakan, partai yang dinahkodainya itu akan tetap solid dan tidak ada faksi-faksi lagi di dalamnya. (Foto: Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto bersama Presiden ke-3, BJ Habibie - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto mengatakan, partai yang dinahkodainya itu akan tetap solid dan tidak ada faksi-faksi lagi di dalamnya. Hal ini dikatakan Airlangga usai dirinya dikukuhkan sebagai Ketua Umum Golkar melalui rapat paripurna Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar, Rabu (20/12).

“Sejak hari ini, kita tidak punya kelompok-kelompok lagi,” kata Airlangga di JCC, Senayan.

Ia juga menegaskan, partai berlambang pohon beringin itu akan fokus untuk persiapan menjelang Pemilu 2019 mendatang. Mereka akan terus melakukan konsolidasi untuk memperkuat elektabilitas partai. Sebab, katanya, ini merupakan PR besar yang harus dikerjakan oleh partai itu.

Baca juga: Tidak Lagi Haram, FPI Dukung Perayaan Natal di Monas

Untuk itu, Airlangga meminta dan mengajak seluruh kader Golkar agar saling bekerjasama serta berkomitmen untuk memperkuat kembali keberadaan Golkar yang saat ini elektabilitasnya sangat anjlok.

Langkah ini, katanya mesti dilakukan agar dapat kembali menjadi partai berjaya 2019 mendatang. Selain itu, hal tersebut juga katanya, dilakukan untuk dapat memenuhi target dalam pemilu yang akan datang.

“Kita punya target 16 persen dan harapan bahwa kita bisa memperoleh 110 kursi di DPR RI,” imbuhnya.

Adapun dugaan ada faksi-faksi di internal Golkar didengungkan oleh Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan dalam rangka membuka Munaslub Golkar beberapa hari lalu.

Saat itu, Jokowi mengatakan, dari jauh Ia melihat, ada kekuatan-kekuatan besar di internal Golkar. Berbagai kekuatan itu, katanya, masing-masing memiliki kelompoknya sendiri dan memiliki pengaruh besar bagi keberadaan partai.

“Saya tahu ada-ada grup besar di Golkar.? Ada grupnya Pak Jusuf Kalla, ada grup besar Pak Aburizal Bakrie,? ada grup-grup besar Luhut Binsar Panjaitan, diam-diam tapi ada. Ada grup besar Pak Akbar Tandjung, ada grup besar Pak Agung Laksono, ada,” ungkap Jokowi.

Adanya Faksi-Faksi dalam Partai; Lumrah

Menanggapi pernyataan Presiden Jokowi, Ketua Dewan Pakar Partai Golkar, Agung Laksono mengatakan adanya faksi-faksi di dalam sebuah partai merupakan hal yang wajar. Ia mengatakan, hal itu justru menjadi salah satu ciri bahwa partai itu sangat demokratis, yakni dengan adanya perbedaan-perbedaan.

“Faksi-faksi di berbagai partai-partai di dunia itu sesuatu hal yang lumrah,” katanya di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta.

Baca juga: Pengukuhan Ditunda, Tiga Opsi Jawab Perdebatan Soal Airlangga

Laksono melanjutkan, munculnya faksi-faksi di internal Golkar sama sekali tidak akan menganggu keberadaan partai. Justru, katanya, jika dikelolah dengan baik, kehadiran faksi-faksi itu dapat menghasilkan dinamika demokrasi yang sehat.

Sementara itu, terkait dengan turbulensi yang dialami Partai Golkar saat ini, kata Laksono, itu lebih karena kasus pidana korupsi e-KTP yang menjerat mantan Ketua Umum Golkar, Setya Novanto.

“Sekarang ini bukan karena kasus partai, tetapi karena kasus yang menimpa ketum (ketua umum) kami Setya Novanto. Jadi, saya kira tidak ada hubungan dengan faksi-faksi. Saya kira baik sepanjang bisa dipelihara persatuan,” jelasnya.

JK; Tidak Ada Keseteruan Di Antara Faksi

Tanggapan yang senada juga dilayangkan oleh Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK). Secara tidak langsung, Ia mengakui, dalam tubuh Golkar ada faksi-faksi.

“Pak Ical juga begitu, yang lain-lain juga begitu. Pasti banyak teman di dalam yang dulu pernah jadi pengurus, ketua, pasti kan lebih dekat,” kata JK di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta.

Baca juga: Kenang Jokowi Akan Rambut Gondrongnya Saat Jadi Mahasiswa UGM

Meski begitu, Wakil Presiden RI ini menjelaskan, adanya faksi-faksi itu tidak berarti selalu ada keseteruan di internal Golkar.

“Tidak berarti kelompok-kelompok itu kemudian berseteru, tidak. Bisa saja cuma hubungan lebih dekat saja. Kalau 5 tahun sama-sama bekas sekretaris, bekas wakil ketua, pasti lebih dekat daripada yang bukan kan,” tuturnya.* (YAH).