Vonis untuk Mariana, Gadis Asal Sumba yang Aniaya Anak Kandungnya

Vonis untuk Mariana, Gadis Asal Sumba yang Aniaya Anak Kandungnya

Mariana Dangu (30), gadis asal Sumba Barat Daya, NTT divonis 8 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (19/12). (Foto: Mariana Dangu - ist)

DENPASAR, dawainusa.com Mariana Dangu (30), gadis asal Sumba Barat Daya, NTT yang menjadi terdakwa kasus penganiayaan bayi yang adalah anak kandungnya sendiri, dijatuhi hukuman 8 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (19/12).

Majelis hakim yang dipimpinan Wayan Kawisada, menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 76 C Jo Pasal 80 ayat 1 UU RI No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak sebagaimana dalam dakwaan subsidair.

Menurut Hakim Wayan, dalam pertimbangan hal yang meringankan, Marry, demikian ia akrab disapa, bersikap sopan dan menyesali perbuatannya serta ada keinginan untuk kembali mengasuh Baby J. Sementara hal yang memberatkan perbuatan terdakwa telah meresahkan masyarakat.

Baca juga: Terharu, Ini Curahan Hati Novanto Setelah Airlangga Jadi Ketum Golkar

“Menjatuhkan pidana penjara selama 9 bulan terhadap terdakwa Merry Dangu dikurangi selama terdakwa berada dalam masa tahanan sementara, dan pidana denda sebesar Rp 500.000 subsidair 1 bulan penjara,” tegas Hakim Wayan saat membacakan amar putusan.

Putusan hakim ini sedikit lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purwanti Murtiasih  yang menuntut terdakwa dengan hukuman pidana penjara selama 1 tahun.

Marry Nampak Tersenyum

Usai pembacaan putusan, terdakwa Marry nampak tersenyum sumringah. Meski dihukum 8 bulan penjara, ia tetap tersenyum karena hakim mengembalikan hak asuh bayinya. Kuasa hukumnya, Gaspar Gambar langsung menyatakan menerima putusan ini.

“Kami cukup puas, karena majelis hakim mengakomodir pledoi dari kita. Salah satunya, mengembali hak asuh bayi J ke terdakwa,” ujar Gaspar usai sidang.

Dalam dakwaan sendiri dibeber ulah Mariana saat menganiaya bayi yang merupakan buah hati antara Mariana dan seorang bule asal Austria bernama Otmar Daniel. Dalam video yang beredar di media sosial tersebut ada tiga video yang diunggah berdurasi 01:05 menit, 01:18 menit dan 00:39 detik.

Dalam video pertama, memperlihatkan seorang wanita yang sedang memandikan anaknya dengan cara tidak wajar. Bayi malang yang dalam kondisi setengah telanjang tersebut terlihat diseret ke kamar mandi lalu disiram dengan air. Selanjutnya,  wanita tersebut menyiramkan sunlight (sabun cuci piring) ke badan anak sambil terus berkata ‘this is drama’ berulang-ulang.

Bayi yang terus menangis ini lalu disiram air dengan menggunakan gayung berulang-ulang. Lalu, dengan kakinya, orang tersebut menggosok badan bayi sambil sesekali menginjak-injak kepalanya. Sementara dalam video kedua, terlihat bayi yang telanjang sedang merangkak tiba-tiba ditarik sambil dipukul bagian pantatnya.

Setelah menangis, bayi tersebut diangkat dan dipukul berulang-ulang dengan pampers. Bahkan, dalam satu adegan, bayi ini sempat hampir dibanting oleh pelaku yang memiliki ciri-ciri berkulit hitam dan rambut pendek. Sementara dalam video ketiga terlihat pelaku dengan geram memukul wajah bayi berulang-ulang. Meski sang bayi menangis, ia tetap mencubit dan kembali memukul bayi berulang-ulang.

Kecewa Diterlantarkan

Ketua Pelaksana Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bali Lely Setyawati menyatakan kekerasan yang dilakukan Mariana Dangu terhadap bayinya dipicu sikap sang ayah, Otmar Daniel Adelsbeger. Otmar dinilai P2TP2A Bali bertemperamen kasar.

“Kekerasan ini berawal dari kekerasan ayah si bayi. Si bapak dan ibu tidak menikah sehingga kita sebut tindak kekerasan. Ini jadi siklus yang tidak habisnya dan diduga ibunya melampiaskannya kepada si bayi,” kata Lely di kantornya, Jl Melati, Denpasar, Bali, Senin (31/7/2017).

Baca juga: Tidak Lagi Haram, FPI Dukung Perayaan Natal di Monas

Lely mengisahkan, berdasarkan keterangan Mariana, Otmar menjalin asmara di Sumba, Nusa Tenggara Timur, pada 2016. Kemudian Mariana hamil dan melahirkan Baby J pada 17 Agustus 2016 di Sumba.

“Jadi ayahnya yang memanggil si ibu dan bayi ke Bali. Diduga karena si ayah takut ke Sumba disebabkan tidak menikah, baik secara hukum maupun adat,” ujar Lely.

Kemudian, menurut Lely, keduanya tinggal di daerah Karangasem, Bali. Selama tinggal di sana, Otmar melakukan kekerasan fisik terhadap Mariana, yang berujung pada pelaporan ke pihak kepolisian namun tidak diketahui hasilnya.

“Memang bayi di luar pernikahan dan kasus ini berawal di Sumba. Mereka datang ke Bali karena si ayah memanggil. Tapi ternyata si bapak lebih kasar lagi menganiaya si ibu,” ucap Lely.

Pada Desember 2016, Otmar pergi meninggalkan keduanya ke negara asalnya, Austria. Mariana lalu hidup sendiri dengan Baby J dan bekerja sebagai waitress di kawasan Kuta hingga video kekerasannya terhadap Baby J dilaporkan ke P2TP2A Bali pada Maret 2017.* (Itok)