4 Bisnis Sandiaga Uno yang Menjadikannya Salah Satu Orang Terkaya

4 Bisnis Sandiaga Uno yang Menjadikannya Salah Satu Orang Terkaya

Sandiaga Uno merupakan seorang pengusaha dengan segudang bisnis di berbagai bidang. Ada empat bisnis Sandiaga yang menjadikannya sebagai orang terkaya di Indonesia. (Foto: Sandiaga Uno - ist)

JAKARTA, dawainusa.comBelum genap satu tahun menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno akan kembali bertarung dipencalonan pemimpin. Kali ini dia akan maju sebagai cawapres Prabowo Subianto.

Sebenarnya, nama Sandi di dunia politik baru terdengar saat akan maju Pilgub DKI Jakarta. Sebab sebelumnya, dia merupakan seorang pengusaha dengan segudang bisnis di berbagai bidang.

Tak heran jika Sandi masuk dalam daftar orang-orang terkaya di Indonesia tahun 2018 di posisi 85. Berdasarkan laporan Globe Asia taksiran kekayaannya USD 300 juta atau sekitar Rp 4,3 triliun.

Baca juga: Alasan Koalisi Mengusung Sandiaga Sebagai Cawapres Prabowo

Bisnis-bisnis Sandiaga

PT Medco Power Indonesia

Sandiaga Uno juga memiliki bisnis pembangkit listrik yaitu PT Medco Power Indonesia (MPI). Perusahaan ini fokus pada sumber terbarukan.

Pada tahun 2017 MPI berhasil mendapatkan pembiayaan sebesar USD 1,17 miliar untuk proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi Geothermal Sarulla berkapasitas 330 MW.

PT Gilang Agung Persada

Tahun 2014 Saratoga menanamkan investasinya di PT Gilang Agung Persada (GAP). Saratoga membeli 4,17 persen saham perusahaan busana tersebut. Nilai investasi yang ditempatkan sebesar USD 5 juta.

PT Adaro Energy Tbk

Sandiaga Uno mempunyai banyak bisnis di berbagai sektor. Di antaranya adalah di sektor batu bara, PT Adaro Energy, Tbk. (ADRO). Sepanjang 2014, perusahaan ini mampu menghadapi situasi bisnis batu bara yang penuh tantangan.

Dari produksi batu bara Adaro yang mencapai 56,2 juta ton, ADRO berhasil mencatatkan pendapatan senilai USD 3,3 miliar dengan laba bersih USD 183,5 juta.

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk

Saratoga Investama Sedaya merupakan perusahaan milik Sandiaga Uno. Pada perusahaan ini Sandiaga mempunyai 27,7 persen saham. Selain Sandiaga, pemilik Saratoga lainnya adalah Edwin Soeryadjaya dan Michael Soeryadjaya, dua anak William Soeryadjaya, pendiri Astra.

Pada tahun 2016, perusahaan ini menyumbangkan dividend sebesar 401 milliar ke pemegang saham. Saratoga juga menjadi perusahaan holding untuk berinvestasi ke perusahaan-perusahaan besar milik mereka lainnya.

Rincian Harta Kekayaan Sandiaga

Berdasarkan laporan Globe Asia pada tahun 2018, kekayaan Sandi ditaksir mencapai USD 300 juta atau sekitar Rp Rp 4,3 triliun. Sementara, tahun lalu, kekayaan sang Wagub sebesar USD 500 juta.

Sedangkan saat akan mencalonkan diri sebagai Wagub DKI Jakarta, Sandiaga melaporkan harta kekayaannya pada 29 September 2016 sebesar Rp 3,8 triliun. Berdasarkan LHKPN yang dikutip dari Merdeka.com, berikut rinciannya:

Harta tak bergerak memiliki total Rp 113 M

Tanah dan bangunan seluas 852 m2 dan 582 m2, di Jakarta Selatan dari hibah perolehan dari tahun 2004 sampai dengan 2015 NJOP Rp 20.552.460.000. Tanah dan bangunan seluas 475 m2 dan 239 m2 di Jakarta Selatan dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2010 sampai dengan 2015 NJOP Rp 10.890.462.000.

Tanah dan bangunan seluas 277 m2 dan 277 m2 di Jakarta Selatan dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2006 sampai dengan 2015 NJOP Rp 5.084.335.000. Tanah dan bangunan seluas 454 m2 dan 250 m2 di Jakarta Selatan dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2006 sampai dengan 2015 NJOP Rp 7.884.370.000.

Tanah dan bangunan seluas 450 m2 dan 511 m2 di Jakarta Selatan dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2010 sampai dengan 2015 NJOP Rp 11.486.350.000. Tanah seluas 15 m2 di Tangerang dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2012 sampai dengan 2015 NJOP Rp 37.110.000. Tanah seluas 15 m2 di Tangerang dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2012 sampai dengan 2015 NJOP Rp 37.110.000

Bangunan seluas 160 m2 di Singapura dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2001 sampai dengan 2015 NJOP Rp 7.504.731.000. Bangunan seluas 119 m2 di Washington DC dari hasil sendiri perolehan dari tahun 2014 sampai dengan 2015 NJOP Rp 7.487.834.160. Bangunan seluas 453 m2 di Jakarta Selatan dari hasil sendiri perolehan tahun 2015 NJOP Rp 10.512.068.932

Bangunan seluas 460 m2 di Jakarta Selatan dari hasil sendiri perolehan tahun 2015 NJOP Rp 10.644.045.316. Bangunan seluas 922 m2 di Jakarta Selatan dari hasil sendiri perolehan tahun 2015 NJOP Rp 21.395.425.036.

Alat transportasi total Rp 375 juta

Mobil, merek Nissan Grand Livina tahun pembuatan 2013, yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2014 nilai jual Rp 125.000.000. Mobil, merek Nissan X-Trail tahun pembuatan 2015, yang berasal dari hasil sendiri perolehan tahun 2015 nilai jual Rp 250.000.000.

Harta bergerak lainnya Rp 3,2 M

Logam mulia dari hasil sendiri perolehan tahun 2015, dengan nilai jual Rp 1.500.000.000. Barang seni dan antik dari hasil sendiri perolehan tahun 2015 dengan nilai jual Rp 1.000.000.000. Benda bergerak lainnya dari hasil sendiri perolehan tahun 2015 dengan nilai jual Rp 700.000.000.

Surat berharga total Rp 3,7 T dan USD 1.287.801

Tahun investasi dari 1997 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 50.000.000. Tahun investasi dari 2002 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 3.171.105.995.000. Tahun investasi dari 2002 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 1.350.000.000

Tahun investasi dari 2003 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 1.000.000. Tahun investasi dari 2003 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 90.000.000. Tahun investasi dari 2004 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 3.500.000.000.

Tahun investasi dari 2004 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 255.000.000. Tahun investasi dari 2004 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 255.000.000. Tahun investasi dari 2003 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 250.000.000.

Tahun investasi dari 2005 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 90.150.000. Tahun investasi dari 2006 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 900.000. Tahun investasi dari 2006 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 30.000.000.

Tahun investasi dari 2007 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 330.031.674.030. Tahun investasi dari 2007 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 5.000.000 Tahun investasi dari 2007 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 5.000.000.

Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual USD 368.760. Tahun investasi dari 2009 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 23.368.094.500.

Tahun investasi dari 2011 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 1.050.000.000. Tahun investasi dari 2011 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 63.331.000.000.

Tahun investasi dari 2013 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 33.000.000. Tahun investasi dari 2013 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 126.425.000.000.

Tahun investasi dari 2014 sampai dengan 2015 yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 120.000.000. Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual USD 2. Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual USD 4.000.

Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual USD 10. Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual USD 325. Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual USD 690.704.

Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual Rp 33.000.000. Tahun investasi 2015, yang berasal dari hasil sendiri dengan nilai jual USD 224.000

Giro

Giro dan setara kas lainnya senilai Rp 12.899.258.838 dan USD 30.247.421. Kemudian piutang dalam bentuk pinjaman uang sebesar Rp 13.834.597.000 dan USD 2.465.84. Sementara utang dalam bentuk pinjaman uang sebesar Rp 8.441.678.156 dan USD 23.653.682.