Dawainusa.com — Warga di enam belas kecamatan di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki kisah miris di tengah gembar-gembor pembangunan infrastruktur yang dicanangkan pemerintah pusat.

Meski sudah menghirup udara kemerdekaan selama 75 tahun, hingga saat ini daerah mereka belum memiliki infrastruktur telekomunikasi yang memadai.

Lantas, banyak warga di kecamatan-kecamatan tersebut yang nekat memanjat pohon untuk mendapatkan jaringan atau sinyal dari tempat lain.

Aksi tersebut mereka lakukan hanya untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui telepon genggam. Bahkan, ada sejumlah warga yang memiliki handphone mahal, tetapi tidak bisa digunakan karena jaringan internet tidak terjangkau.

“Di beberapa tempat ada warga naik pohon baru bisa telepon dan dapat sinyal,” ujar Kensius Didimus, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sikka kepada Pos Kupang, Rabu (26/8).

Baca Juga: Bangun 16 Ruas Jalan, Pemprov NTT Pinjam Rp189M ke PT SMI

45 Titik Tanpa Sinyal di Sikka

Kensius menjelaskan, secara terperinci ada 45 titik di Sikka yang tidak memiliki jaringan komunikasi yang tersebar di 16 kecamatan.

Berdasarkan data Dinas Kominfo Sikka, kata dia, kecamatan yang lokasinya tidak ada sinyal ada di Kecamatan Alok, Alok Timur, Palue, Doreng, Hewokloang, Talibura, Waiblama, Paga, Tanawawo, Mego, Bola, Koting, Lela, Magepanda, Mapitara dan Nita.

Sementara itu, ada 5 kecamatan di Sikka sudah memiliki sinyal yang bagus, antara lain di Kecamatan Alok Barat, Kangae, Kewapante, Waigete dan Nelle.

Kensius menyebutkan, 45 titik di Sikka tersebut tidak ada satu pun sinyal dan fasilitas komunikasi berupa pembangunan jaringan untuk warga.

Dinas Kominfo Sikka, lanjut dia, sudah pernah mengusulkan kekurangan tower pemancar jaringan komunikasi kepada pemerintah pusat.

Namun sampai saat ini belum mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Karenanya, pihaknya akan mencanangkan usulan baru terkait masalah tersebut.

“Kami sudah usul agar ada bantuan dari pusat tapi belum ada perhatian. Kami akan usul lagi biar ada perhatian,” katanya.

Ia menceritakan bahwa yang paling menyedihkan adalah ketika warga di 16 kecamatan tersebut harus mendaki bukit untuk bisa telepon.

Bahkan, kata dia, ada warga yang tidak mengaktifkan telepon selulernya karena tidak mendapatkan jaringan telepon, apalagi jaringan internet.

Karena itu, lebih banyak warga yang memilih mengaktivasi telepon genggam mereka ketika pergi ke kota (Maumere) atau daerah lain yang memiliki sinyal.

“Ada yang jalan kaki atau naik bukit baru bisa telepon. Itu pun hanya HP tertentu dan memang kerinduan warga agar ada akses komunikasi sangat besar. Warga beli HP mahal tapi hanya simpan di lemari. Mau telepon harus cari sinyal. Kasarnya HP-nya baru aktif kalau dapat sinyal di tempat lain atau ke kota,” pungkas Kensius.

Dengan adanya pandemi virus corona yang mengharuskan siswa belajar di rumah, tambah dia, makin membuat kesulitan bagi anak-anak dan para guru.

Dengan begitu, kegiatan belajar mengajar tidak efektif karena anak-anak dan guru-guru harus mencari titik yang memiliki kapasitas sinyal yang kuat.

“Mudah-mudahan usulan kami kepada pemerintah pusat di masa pandemi ini biar anak-anak bisa belajar online terwujud,” ungkapnya.*