Wasekjen DPP Demokrat Bongkar Tuntas Keaslian Rocky Gerung

Wasekjen DPP Demokrat Bongkar Tuntas Keaslian Rocky Gerung

Sejumlah tuduhan terhadap Rocky Gerung tampaknya menggerakkan hati Wasekjen DPP Demokrat, Rachland Nashidik untuk mengklarifikasi semua tuduhan itu sambil membongkar tuntas keaslian Rocky Gerung. (Foto: Rocky Gerung - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Dalam diskusi yang bertemakan “Jokowi berbalas pantun” di Indonesia Lawyers Club (ILC) pekan lalu, Dosen Filsafat UI Rocky Gerung mengeluarkan pernyataan yang menuai kontraversi hingga hari ini.

Sebagaimana diketahui, Rokcy Gerung pada waktu itu membahas tentang sebuah fiksi. Ia mengatakan, fiksi itu bukan sesuatu yang buruk. Tetapi oleh situasi perpolitikan akhir-akhir ini ada kecenderungan dari pihak-pihak tertentu melihat fiksi sebagai sesuatu yang kurang elok.

“Fiksi lawannya realitas bukan fakta, jadi kalau Anda bilang itu fiksi dan kata itu menjadi penyoratif, jadi Anda tidak memperbolehkan anak Anda membaca fiksi karena sudah dua bulan ini kata fiksi sudah menjadi kata yang buruk,” kata Rocky.

Baca juga: Rocky Gerung dan Senjakala Demokrasi Kita

Pasca mengungkapkan hal itu, Rocky pada kesempatan yang sama pun coba memberikan contoh dengan membandingkan dengan Kitab Suci. Di hadapan peserta diskusi Ia melempar pertanyaan soal kitab suci.

“Kitab suci itu fiksi bukan? Siapa yang berani jawab, kalau saya berbicara bahwa fiksi itu adalah imajinasi, Kitab Suci itu adalah fiksi karena belum selesai belum tiba, Babat tanah Jawi itu fiksi,” ujarnya.

Oleh sebagian orang, pernyataan Rocky tersebut di atas ternyata dinilai berlebihan dan kurang tepat. Bahkan ada pihak yang mempertanyakan gelar pendidikan Rocky Gerung. Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ruhut Sitompul melalui akun twiter miliknya, salah satu yang angkat bicara soal itu.

“Gelar profesor dianugerahi oleh Forum Akademisi melalui sidang Senat Guru Besar di Universitas. Rocky Gerung yang bukan Profesor tapi bangga menerima gelar Profesor melalui sidang jalanan, ya beginilah akibatnya menjadi profesor fiksi yang linglung,” tulis Ruhut.

Selain Ruhut Sitompul, pernyataan yang bernada sama untuk Rocky, sebelumnya sempat keluar dari mulut Muhhamad Guntur Romli. Melalui akun twiter miliknya ia menyindir gelar akademik Rocky Gerung dengan mengutui Gus Dur, bukan Profesor tapi Prov (Provokator).

“Kitab suci itu adalah fiksi” keluar dari orang yang sangat menikmati dipanggil Prof (Pada hal bukan Profesor), tiba-tiba saya ingat guraun Gus Dur…Prov..maksudnya bukan Profesor  tapi Provokator..Prov..tuh lihat banyak yang ngamuk-nagmuk dan panik membelanya,” kicaunya.

Sejumlah tuduhan terhadap Rocky Gerung di atas tampaknya menggerakkan hati Wasekjen DPP Demokrat, Rachland Nashidik untuk mengklarifikasi semua tuduhan itu sambil membongkar tuntas sifat asli Rocky Gerung.

Melalui akun Twiternya, Racland yang mengaku mengenal betul sosok Rocky mengutarakan sifat dan hal-hal yang perlu Ia klarifikasi dari sosok Rocky.

Berikut Ciutan Racland Soal Keaslian Rocky Gerung

Jokowers menyerang @rockygerung dari menyoal panggilan “Prof” sampai  menuduh Dosen UI gadungan. Rocky dosen saya di Filsafat UI saat masih bagian dari fakultas sastra. Dari dulu dikenal jenius. Mungkin karena itu orang memanggilnya “Prof”. Ia tak pernah meminta dipanggil begitu.

Aktivis 80-an pasti tahu “Sekolah Ilmu sosial”-yayasan padi dan kapas. Di sini, orang belajar pemikiran politik para pendiri bangsa hingga filsuf besar dunia. SIS juga reguler promosikan karya-karya akademis para intelektual Indonesia. Siapa kepala sekolahnya? Rocky Gerung.

Baca juga: Hubungan SBY dengan Megawati, Hambatan bagi Terbentuknya Koalisi

Prof. Toety tak berkutik meski @rockygerung menolak tawaran bea siswa Doktor dari Perancis. Jawaban Rocky: “Ibu yang mau saya punya gelar doktor, bukan saya. Yang penting saya sudah buktikan saya mampu,” begitulah Rocky ia tak peduli pada gelar kearjanaan.

Profesor Perancis itu juga kecewa. Ia tahu prosedurnya: tak mungkin @rockygerung diizinkan ambil gelar doktor tanpa S2. Meski menurutnya Rocky lebih dari pantas. Rocky tak ambil pusing. “Urusan Gue tulis Paper dan lulus. Soal prosedur lulusan dia. Gua tak tertarik ambil doktor”

Abdurahman Wahid adalah sahabat lekat @rockygerung. Gusdur tak pernah lupa ucapkan selamat Natal untuknya. Saat memimpin forum demokrasi, statetmen-statetmen Gus Dur selalu ditunggu dan selalu jadi berita. Siapa yang ia percaya jadi Ghost Writer? Rocky Gerung.

Kenapa @rockygerung tak tertarik gelar? Sebagian, sebab mungkin seperti yang ia bilang: “Gelar ijazah bukti lu pernah sekolah buak bukti lu bisa mikir,”. Saat ijazah bisa dibeli saat Universitas di masa Orba cuma alat hegemoni politik, Rocky menolak tunduk pada ijazah dan gelar.

Saya sendiri menduga-duga, mungkin @rockygerung diam-diam membaca dan terpengaruh buku “Deschooling Society” karya Ivan Illich, seorang Filsuf Austria. Rumah buku di kamarnya tak cukup menampung buku-buku. Saya kenal John Rawls, Michael Walzer, Foucault, Judith Skhar darinya.

Sebagai “ex-room mate” dan salah satu dari sedikit sahabatnya, saya sering diam-diam meminjam tanpa pamit buku-buku @rockygerung. Selalu ketahuan tapi dia maklum. Saat kami muda, ada pemeo: “Cuma orang bodoh yang meminjam buku. Tapi lebih bodoh orang yang mengembalikan”.

  Tapi tak semua buku @rockygerung menarik minat saya. Misalnya buku buku Robert Nozick.Saya lebih tertarik pada buku-buku karya Juergen Habermas yang sudah ia koleksi bahkan saat banyak intelektual Indonesia lain masih asing pada nama filsuf Jerman pendiri Frankfurt Schule itu.

Gegara buku-buku Habermas @rockygerung saya lulus test masuk Filsafat UI. Mungkin karena saat wawancara, saya bikin senang Guru Besar Filsafat UI — tak saya sebut namanya — dengan mengutip pikiran-pikiran Habermas. Kata Rocky: “Apa gue bilang, Profesor aja bisa lu tipu”.

Di Puncak, Bogor, suatu hari, mobil bekas yang baru saya beli tak bisa dihidupkan. Kebetulan @rockygerung ada di Puncak, siap-siap naik gunung. Rocky datang ke hotel meriksa mesin mobil. Dalam sepuluh menit mobil hidup. Sebelum Filsafat, Rocky mahasiswa Fakultas Teknik UI.

Saya punya kesamaan dengan @rockygerung. Tapi juga perbedaan: Rocky itu book worm. Saya baca buku bila butuh penjelasan atas sesuatu hal. Anak ketiga dari keluarga kaya berumah di Agus Salim, Menteng, ia berlangganan jurnal-jurnal internasional. Foreign Affairs, misalnya.

Tapi keliru menganggap Rocky “a nerd”, semata karena ia baca buku. Lulusan Perguruan Silat Bangau Putih ini, yang membengkokkan tiang pompa besi sekali pukul, juga menyimpan banyak kisah cinta. Dan bikin banyak perempuan patah hati. Tentu saya tak akan cerita detil bagian ini.

 @rockygerung punya peran khusus. Ia membantu menuliskan pledoi para aktivis yang diadili dan dibui karena sikap politik mereka. Seorang soliter sejati, ia sangat bersetia pada kawan. Kecuali soal pacar.

Begitu dulu cerita saya tentang @rockygerung: guru, sekutu dan sahabat saya sampai sekarang. Saya kenal dia luar dalam. Begitu juga sebaliknya. Kami antara lain sama-sama pernah bekerja di Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia. Juga sama-sama pendiri PBHI dan Institut Setara.*

COMMENTS