Toto Kopi, Kisah Sang Barista di Balik Aroma Kopi yang Istimewa

Toto Kopi, Kisah Sang Barista di Balik Aroma Kopi yang Istimewa

Dalam kebiasaan orang Manggarai, Toto Kopi sebenarnya adalah kegiatan meramal yang biasa dilakukan oleh "Orang Pintar" untuk menerawang nasib orang melalui ampas kopi (Foto: Broklyn, Barista Toto Kopi sedang menuang Kopi pada cangkir yang telah disiapkan - Dokumentasi Toto Kopi)

LIFESTYLE, dawainusa.com Uap panas 80 derajat celcius dari Water Boiler di meja barista dan aroma istimewa dari secangkir kopi yang baru dipesan pelanggan mewarnai situasi di kedai itu saat Dawai Nusa bertandang.

Sekira 4 orang pecinta kopi sedang menyeruput secangkir kopi yang telah disuguhkan  di atas meja. Gelak tawa terdengar di sana. Sementara sang barista yang sangat telaten terlihat sedang sibuk meracik pesanan dari tamu yang mampir.

“Om Bro, Vietnam satu,” kata seorang pria setengah tambun sambil mengampiri sang Barista. “Baik om, silahkan duduk,” sahut barista itu menimpal.

Broklyn, begitulah sang barista itu akrab dipanggil oleh sahabat dan pecinta kopi yang hilir mudik mampir di kedai itu. “Orang lebih kenal saya dengan panggilan Broklyn,” katanya saat memulai berbagi cerita dengan Dawai Nusa, Minggu malam (26/05).

Pria bernama lengkap Kristian Purmo itu merupakan salah satu pendiri Toto Kopi, salah satu Cofee Shop yang saat ini sedang menjadi tempat idaman warga Kota Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai.

Baca juga: Mengangkat Potensi Kopi di Desa Wawowae – Ngada

Bersama Jeli Jehaut yang tak lain adalah pemilik tempat kedai itu, mereka membangun konsep awal Toto Kopi sejak 2016 lalu.

“Awalnya saya jadi barista di Dapur De Rosa (DDR). Saya iseng upload di facebook. Kaka Jely telpon saya dan selanjutnya kita bertemu,” kata Broklyn mengawali kisahnya.

Pertemuan keduanya pada 2016 lalu lansung menelorkan ide mendirikan kedai Kopi baru di Kota Ruteng. Dari sebuah diskusi cukup intens, lahirlah Toto Kopi ini.

Toto Kopi itu sendiri sebuah istilah lokal. Dalam kebiasaan orang Manggarai, Toto Kopi sebenarnya adalah kegiatan meramal yang biasa dilakukan oleh “Orang Pintar” untuk menerawang nasib orang melalui ampas kopi.

“Memilih nama Toto Kopi sebenarnya biar kelihatan menantang. Sebagian pelanggan kami yang tahu tentang Toto Kopi awalnya menduga ini semacam tempat meramal nasib,” kenang Broklyn.

Toto kopi mengusung jargon “Cofee, Rain and You”. Pemilihan tiga kata dari bahasa Inggris ini bukan tanpa alasan. Menurut pria 31 tahun itu, suasana “ngopi” ditemani hujan akhir 2016 lalu merupakan alasan mereka memilih jargon tersebut.

“Waktu awal ngopi dan merencanakan berdirinya Toto Kopi sepanjang hari ditemani hujan bulan Desember,” jelasnya.

Kepada Dawai Nusa, pria itu mengaku keberatan menerjemahkan jargon tersebut ke dalam Bahasa Indonesia. “Kadang, tidak semua istilah dalam Bahasa Inggris itu kalau diterjemahkan satu per satu ke dalam Bahasa Indonesia, kedengarannya akan tidak enak,” tuturnya.

Ketika semua persiapan saat itu matang, barulah Broklyn berangkat ke Jakarta membelanjakan semua peralatan Toto Kopi. Sepanjang 2017 persiapan lain juga dilakukannya.

Adapun persiapan lain yang dimaksudkan itu ialah soal tata ruangan, tempat duduk sampai desain interior yang memikat pelanggan dengan menciptakan spot foto bagi pengunjung. “Spot foto, desain ruangan dan pilihan warna sering gonta ganti, kita butuh setahun mengerjakan semua hingga rampung,” ujar dia.

Barista Toto Kopi

Broklyn, Barista Toto Kopi di Kota Ruteng Kabupaten Manggarai Flores NTT

Toto Kopi Pernah Tutup Karena Stok Terbatas

Pada Februari 2018, grand opening Toto Kopi digelar. Apresiasi menyambut kelahirannya datang disambut pecinta kopi di Ruteng. Selain karena letaknya yang strategis di Jalan Arabika, Kelurahan Tenda, spot untuk berkumpul sambil seruput kopi di kota itu sangat terbatas.

Toto Kopi yang masih seumuran jagung tiba-tiba kebanjiran tamu. Ruangan seluas 7 meter itu nyaris padat setiap hari. Pengunjung yang hilir mudik hingga tengah malam bahkan sempat membuat manajemen Toto Kopi keteteran. Masalahnya sederhana, stok biji kopi berkualitas habis.

“Biji kopi yang kita proses bukan asalan, hanya biji kopi yang memenuhi standar yang kita proses. Kita awalnya pernah kehabisan stok dan terpaksa tutup,” kisah Broklyn.

Baca juga: Sawah dan Kopi Digusur, Warga Bangka Ajang Datangi DPRD Manggarai

Krisis biji kopi itu tidak berlansung lama. Sehari setelah ditutup, Toto Kopi kembali dibuka karena apa yang dicari akhirnya dapat. “Waktu itu ada stok di Susteran Gembala Baik,” ujarnya.

Pria 31 tahun itu kepada Dawai Nusa mengaku mendapatkan biji kopi berkualitas di Ruteng bukan perkara gampang. Kopi yang dijual petani sebagian besar bermutu rendah dan sangat berdampak pada harga di pasar.

Dari susteran dan beberapa asosiasi kopi yang menjadi partner mereka selama ini, sekilo kopi dibanderol dengan harga Rp300 ribu untuk varietas unggul, Rp400 ribu untuk jenis Locatura, dan untuk Kopi Lanang diperoleh dengan harga Rp500 ribu rupiah.

Harga ini tentu sangat kontras dengan normalnya harga yang didapat oleh petani Kopi di Manggarai selama ini. Data yang dihimpun Dawai, petani selama ini menjual kopinya pada kisaran harga Rp30 ribu rupiah setiap kilonya.

Dari hasil bisnis itu, Toto Kopi tentu hingga saat ini meraih omset yang sangat besar yaitu Rp25 juta setiap bulan. “Untuk Omset memang tergantung pengunjung, awal-awal saat musim ramai bisa sampai 30 juta, sekarang normalnya 19 juta karena sedang sepi,” jelasnya.

Di tempat ini tawaran menu kopi beragam mulai dari Long Black, Espresso, Vietnam Drip, Flores Over Ice, Pur Over V60, Frenc Press dan tak ketinggalan menu kopi lokal yang diberi nama Kopi Lejong.

Semua proses pembuatan kopi tersebut dilakukan dengan manual Brew. “Semua dilakukan dengan manual. Kita konsepnya manual. Kita jual prosesnya dan proses itu mahal,” jelasnya.

Bangun Daerah dan Kembali ke Kebun

Broklyn memang memiliki pengalaman cukup mumpuni soal kopi dan bisnis Cofee Shop. Berbekal pengalaman 11 tahun merantau di Jakarta untuk kuliah dan kerja di sana, ia akhirnya bisa menjadi seorang barista yang andal.

Alumni Stikom Tunas Bangsa Jakarta ini awal mula belajar tentang kopi di salah satu Cofee Shop di Ibu Kota selama 2 tahun. Di sana dia belajar memeroses kopi dari awal sampai kopi itu tersaji dalam cangkir.

“Saya belajar di Bicara Kopi Nusantara selama 2 tahun lebih. Kemudian pernah Tetira Cofee Shop Jakarta 1 tahun,” kenang dia.

Keputusannya untuk meninggalkan kemapanan di tempat kerjanya di Ibu Kota memang tidak tanpa alasan. Hal itu berangkat dari niatnya untuk membangun daerah dengan merintis usaha kuliner. Selain itu, panggilan nurani untuk peduli pada nasib petani juga menjadi motivasinya sejak awal.

Baca juga: Secangkir Kopi Bersama Denny Siregar

“Saya pulang karena saya senang tinggal di Ruteng ini. Di sini terkenal dengan daerah kopi. Masa di daerah penghasil kopi tidak ada Cofee Shop,” ujarnya.

Dia juga menyayangkan soal potensi Kopi di Manggarai yang selama ini tidak pernah diperhatikan secara serius. Bagi dia, persoalan terbesar yang dialami petani selama ini ialah pemahaman tentang kopi masih sangat terbatas.

Petani di Manggarai, kata dia, belum serius memperhatikan kualitas kopi yang dijual ke pasar sehingga harga jual dipasaran juga sangat murah. Perhatian pemerintah untuk mendampingi juga belum nampak.

“Mereka butuh uang dan abaikan kualitas demi kebutuhan pasar. Memang biasanya karena faktor ekonomi, desakan uang sekolah dan kebutuhan lain memaksa mereka menjual dengan mengabaikan proses,” ujar dia.

Karena sadar kan hal tersebut, dia bermimpi bahwa suatu saat ia bisa mendampingi para petani secara serius demi menghidupkan kembali kualitas Kopi Manggarai yang luar biasa.

“Saya ingin kembali ke kebun. Di sana saya bisa dampingi petani untuk berbagi cara menghasilkan kopi yang baik. Kopi kita kualitasnya sangat luar biasa,” tutup dia.*(Elvis Yunani).

COMMENTS