Tim SAR Kupang Berhasil Selamatkan Nelayan yang Hilang di Laut Sawu

Tim SAR Kupang Berhasil Selamatkan Nelayan yang Hilang di Laut Sawu

Tim SAR Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menyelamatkan dua nelayan asal Kupang yang dinyatakan hilang di Laut Saut  atau sekitar 67 NM arah utara dari Pelabuhan Navigasi Kupang. (Ilustrasi - Kompas.com)

KUPANG, dawainusa.com Tim Search and Rescue (SAR) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil menyelamatkan dua nelayan asal Kupang yang dinyatakan hilang di Laut Saut  atau sekitar 67 NM arah utara dari Pelabuhan Navigasi Kupang.

Adapun kedua nelayan tersebut adalah Roki (30) dan Ai (25). Keduanya mengalami musibah setelah sampan yang meraka gunakan diterjang ombak dasyat, Senin (2/4). Mereka dibawa ombak hingga terdampar di Laut Lewotobi, Kabupaten Flores Timur.

Kepala SAR Kupang Abraham Benyamin Kolimon, Rabu (4/4) pagi, mengisahkan, pihaknya menerima laporan terkait musibah yang dialami Roki dan Ai dari seorang nelayan lain yang bernama Yonathan Belleh, Selasa (3/4).

Baca juga: Bongkar Muat Batu Bara di Kupang Dihentikan, JPIC OFM: Kami Dukung

“Awalnya kami dapat laporan dari seorang nelayan yang bernama Yonathan Belleh pada Selasa (3/4/2018) sekitar pukul 06.30 Wita, bahwa ada dua nelayan yang hilang,” kata Benyamin.

Kronologi Pencarian hingga Roki dan Ai Diselamatkan

Pasca mendapat laporan dari Yonathan Belleh, tutur Benyamin, pihaknya melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait antara lain, yaitu Basarnas, Bakamla, kepolisian, keluarga korban, dan nelayan setempat.

Setelah itu, lanjut Benyamin, tim SAR diberangkatkan menuju tempat kejadian musibah pada  Selasa (3/4) sekita pukul 07.00 Wita dengan menggunakan KN SAR Antareja 233 untuk melakukan pencarian.

Baca juga: Sambangi Polda NTT, PMKRI Kupang Soroti Kematian Milka

Tim SAR melakukan penyisiran selama 13 jam di empat titik koordinat berbeda yang diduga tempat terdamparnya dua nelayan yang hilang itu.

Pada pukul 20.30 Wita, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Bakamla, Kepolisian Ile Bura Flores Timur, Kades Lewoawan, nelayan setempat, dan keluarga korban berhasil menemukan kedua orang korban dalam keadaan selamat di Laut Lewotobi, Kabupaten Flores Timur.

Setelah kedua nelayan itu berhasil ditemukan, kemudian pihak SAR melakukan perawatan medis dan menyerahkan keduanya kepada piha keluarga. “Kedua nelayan telah diberi perawatan medis dan diserahkan kepada pihak keluarga,” tutur Benyamin.

Nelayan Perlu Mengetahui Informasi BMKG

Peristiwa nelayan diterjang badai di tengah laut mesti diantipasi dengan baik. Pada tahun 2017 lalu, untuk mengantisipasi hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kupang meminta nelayan ikut aktif memantau informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelum melakukan aktivitas melaut.

“Imbauan ini penting kami sampaikan demi menjaga kemungkinan terjadinya korban saat melaut dan terjebak perubahan cuaca,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Kupang, Ade Manafe.

Baca juga: Tanggapi Gizi Buruk, Ini Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Kota Kupang

Menurut dia, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi disertai angin yang memicu gelombang tinggi tentunya bisa terjadi sewaktu-waktu. Oleh karenanya, kewaspadaan sangat diharapkan agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi nelayan.

Belum lama ini, hal senada disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ternate. Mereka mengimbau masyarakat di Maluku Utara (Malut), khususnya pengusaha transportasi laut dan nelayan, untuk selalu memantau informasi cuaca yang dikeluarkan instansi itu.

“Dengan mengetahui informasi mengenai cuaca, seperti kondisi angin, gelombang laut, dan hujan, mereka bisa mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam pelayaran atau saat melaut,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ternate Salimin di Ternate, Rabu (28/3), seperti dikutip antaranew.com.

Informasi cuaca itu dapat dengan mudah diketahui oleh masyarakat karena BMKG selain menyajikannya melalui situs BMKG setiap hari, juga selalu melaporkan datanya kepada semua instansi terkait di daerah ini, di antaranya Kantor Kesyabandaraan dan Otoritas Pelabuhan.

Menurut dia, informasi cuaca yang disampingkan BMKG itu cukup lengkap, bahkan khusus untuk kondisi ketinggian gelombang di perairan Malut diinformasikan dua kali dalam sehari, yakni setiap pukul 09.00 WIT dan pukul 21.00 WIT.

Masyarakat Malut memang memiliki kearifan lokal dalam melihat cuaca, misalnya seorang nelayan ketika akan melaut bisa mengetahui akan adanya hujan atau angin dengan melihat kondisi awan dilangit, tetapi akan lebih baik lagi kalau mereka memadukannya dengan informasi cuaca dari BMKG.*

COMMENTS