‘Three In One NTT’ Sengaja Dibuat Jelang Pilgub 2018

‘Three In One NTT’ Sengaja Dibuat Jelang Pilgub 2018

Waspadalah, jangan pilih pemimpin yang memperalat SARA untuk meraup kekuasaan demi terget pribadi dan kelompoknya. Selamat merenungkan! (Gambar yang viral beredar di media sosial - ist)

KIRIMAN PEMBACA, dawainusa.com – “Three in one“, jalur khusus untuk mobil berpenumpang tiga orang, di Jakarta, sudah dihapus. Kala itu ketika masih berlaku, sering terjadi dua dari tiga penumpang mobil yang melintasi jalur “three in one” itu hanyalah joki bayaran yang dipungut di pinggir jalan.

Setelah melewati jalur khusus tersebut, dua penumpang joki itu diturunkan dan ditinggal pergi entah ke mana, tidak dipedulikan lagi. Tugas para joki ini sudah selesai, yakni mengkondisikan agar sang tuan yang membayar mereka bisa melaju cepat di jalur khusus guna mencapai tujuannya. Ada joki yang dibayar Rp 5000, Rp 10.000, dan ada yang dibayar Rp 15.000, bahkan mungkin lebih.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT) tampaknya sedang dimulai. Ada sederet joki yang siap menjadi penumpang bayaran untuk memuluskan perjalanan kandidat menuju kursi nomor satu NTT. Persekongkolan atau perselingkuhankah namanya itu jika tiga pesaing berada di dalam satu mobil di balik layar? Atau mungkin ada nama lain untuk jalur “three in one NTT, ketika kekuasaan dirangkul di bawah satu tangan dalam kolaborasi yang halus, apik, tapi licik untuk meraup kekuasaan.

Tiga Manggarai di kepung dan Flores secara umum digembos suaranya dalam konstelasi “three in one” ini. Mungkin ada kaitannya dengan bisikan Ben Mboi seperti dikutip Victor B. Laiscodat bahwa kali ini Gubernur NTT mesti Protestan, karena dua periode sebelumnya Katolik.

Baca juga: Pengamat Politik: Flores Jadi Penentu Utama Pilgub NTT

Tiga Manggarai di kepung dan Flores secara umum digembos suaranya dalam konstelasi “three in one” ini. Mungkin ada kaitannya dengan bisikan Ben Mboi seperti dikutip Victor B. Laiscodat bahwa kali ini Gubernur NTT mesti Protestan, karena dua periode sebelumnya Katolik. Walau kita yakin seorang Ben Mboi yang toleran dan Katolik (berpikir universal menyangkut keselamatan banyak orang) tidak terbersit ide SARA di benaknya). Baca: Mencermati Klaim Viktor Laiskodat Tentang Pesan Ben Mboi

Wajar saja sebenarnya, andaikan Ben Mboi membisikkan hal itu seperti dikatakan Vicky B. Laiscodat itu. Tetapi, mengapa kemudian pesan yang diembuskan salah satu Calon Gubernur NTT Victor B. Laiskodat ini direspons miring banyak kalangan sebagai politisasi isu sara dalam Pilgub NTT?

Bisa saja reaksi tersebut muncul karena trauma politik DKI Jakarta yang masih kuat terasa dan amat menyakiti. Bisa juga karena trauma kenyataan sosial religius di NTT, khususnya di Flores beberapa tahun terakhir ini, akan kian massifnya gerakan Protestan menggembos kantong-kantong Katolik. Didukung cerita dari mulut ke mulut akan makin banyak jiwa dari Katolik berpindah ke Protestan.

Harapan, semoga tidak tinggal asa belaka, perhelatan demokrasi dalam Pilgub NTT ini bisa mencegah pemimpin buruk berkuasa melalui jalur “three in one”.

Baca juga: Pertama Kali di NTT, Tersangka Korupsi Ikut Berlaga di Pilgub

Mungkin ada kaitannya atau bisa saja dikait-kaitkan dengan gerakan massif Protestan tersebut, yang masuk ke kantong-kantong Katolik Flores. Sudah makin terasa gerakan itu sejak beberapa tahun belakangan ini. Melalui pendidikan, rumah sakit, aksi sosial, dll. Dan kini melalui jabatan institusional.

Teringat nasihat Lord Acton: “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely.” Corrups, tidak dipaham sebagai korupsi saja, tetapi lebih luas menyangkut daya dan imajinasi menguasai kawan atau lawan demi hawa nafsu pribadi dan golongan.

Jika kekuasaan direbut oleh orang sejenis ini maka pengaruhnya akan makin dahsyat lagi. Penguasa yang buruk akan merusak dengan lebih buruk lagi. Bhinneka Tunggal Ika pun jadi tunggang langgang, boneka tinggal cerita, tentang sebuah provinsi yang paling toleran di Indonesia.

Harapan, semoga tidak tinggal asa belaka, perhelatan demokrasi dalam Pilgub NTT ini bisa mencegah pemimpin buruk berkuasa melalui jalur “three in one“. Waspadalah, jangan pilih pemimpin yang memperalat SARA untuk meraup kekuasaan demi terget pribadi dan kelompoknya. Selamat merenungkan!*

 

Oleh: Ronald Ray*

Catatan:
Artikel ini merupakan kiriman pembaca, dan tidak mewakili pandangan redaksi. Isi di luar tanggung jawab dawainusa.com*

COMMENTS