Terus Waspada, Ini 3 Target Serangan Teroris JAD

Terus Waspada, Ini 3 Target Serangan Teroris JAD

Sejumlah aksi teror tersebut diduga dilakukan oleh anggota jaringan atau kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) (Foto: Ilustrasi - FaktualNews)

JAKARTA, dawainusa.com – Beberapa hari ini, serangan teroris marak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Seperti diketahui, pada Minggu (13/5) lalu, tiga Gereja di Surabaya dihantam oleh ledakan bom bunuh diri.

Ledakan pertama terjadi di Gereja Katolik Santa Maria tak Bercela, Jalan Ngangel Madya sekitar pukul 07.13 WIB. Setelah itu disusul ledakan di Gereja Pentekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jalan Arjuno. Terakhir di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146 di Jalan raya Diponegoro.

Tidak berhenti di situ, pada malam hari, yakni sekitar pukul 21.20 WIB, ledakan bom kembali terjadi di area rusunawa kawasan Wonocolo, Sidoarjo. Dalam ledakan bom tersebut ada tida orang terduga pelaku yang tewas, yakni Anton (47) beserta istrinya Puspita Sari (47) dan anak pertamanya LAR (17).

Baca juga: Moeldoko Bantah Aksi Teror Terjadi Karena Kecolongan Intelijen

Sementara pada Senin (14/5) pagi sekitar pukul 08.50 WIB, ledakan bom kembali terjadi di depan Polrestabes Surabaya. Aksi pengeboman ini dilakukan oleh empat pelaku dengan memakai dua buah sepeda motor. Semua pelaku itu meninggal dunia. Berdasarkan keterangan yang dirilis oleh pihak kepolisian, dari semua serangan bom tersebut, ada 21 orang warga dan 13 pelaku yang meninggal dunia.

Serangan teror lain juga kembali terjadi di Mapolda Riau hari ini, Rabu (16/5) pagi. Berdasarkan keterangan Kapolda Riau Irjen Nandang, serangan itu dilakukan oleh empat terduga teroris dan mengakibatkan 1 orang anggota polisi meninggal dunia. Semua pelaku berhasil ditembak mati oleh aparat.

Rentetan serangan teror tersebut tentu menimbulkan kekhawatiran sejumlah pihak. Pengamat masalah terorisme Al-Chaidar menjelaskan, sejumlah aksi teror tersebut diduga dilakukan oleh anggota jaringan atau kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Baca juga: Survei Wahid Intitute Sebut 58 Persen Anggota Rohis Ingin Berjihad

Al-Chaidar mengatakan, dugaan itu dapat dibenarkan apabila dilacak dari target serangan mereka. Ia menjelaskan, pergerakan jaringan kelompok JAD ini bisa diketahui dari 3 jenis sasaran serangan mereka.

“Sasaran mereka (JAD) ada 3 yang pertama adalah thogut yaitu polisi, sasaran kedua adalah kafirun yakni orang-orang nonmuslim,” jelas Al-Chaidar sebagaimana diberitakan BeritaSatu di Jakarta, Rabu (16/5).

“Sasaran ketiga adalah fasiqun yakni orang-orang muslim yang dianggap tidak menjalankan ajaran agamanya secara baik dan suka hura-hura,” lanjut Al-Chaidar.

Kelompok teroris ini, demikian Al-Chaidar, dipastikan akan terus bergerak karena mereka memiliki misi utama, yakni mencapai kematian dengan jalan syahid.

“Mereka tidak pernah mau peduli bahwa tindakannya akan merugikan ummat Islam atau mencoreng nama Islam. Hal itu bukan menjadi dasar tindakan,” tutur Al-Chaidar.

“Mereka akan langsung bertindak melakukan serangan begitu ada perintah dari pimpinan, baik pimpinan daerah maupun regional,” lanjut Al-Chaidar.

Al-Chaidar mengatakan, meskipun mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan ases bahan peledak, kelompok ini akan memanfaatkan berbagai untuk mewujudkan misinya seperti dengan menggunakan sangkur atau pedang. “Pedang, samurai merupakan cara-cara klasik yang sering dipakai jaringan ini,” kata Al-Chaidar.

Terapkan Pengamanan Maksimal terhadap Serangan Teroris

Menanggapi serangan teroris ini, Kementerian Perhubungan mengatakan, pihaknya telah menerapkan standar pengamanan yang maksimal di sejumlah titik mulai dari bandara, terminal, pelabuhan hingga stasiun.

“Kita terapkan SOP sesuai keadaan yang yang berkembang,” kata sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jakarta, Senin (14/5).

Baca juga: Mapolda Riau Diserang Teroris, Satu Anggota Polisi Meninggal Dunia

Djoko menerangkan, peningkatan keamanan tersebut dilakukan dengan mengerahkan TNI dan Polri untuk menjaga segala fasilitas transportasi umum.

“Kemarin bapak menteri juga sudah melakukan pengecekan di beberapa lokasi. Ini tentunya memberikan insurance bahwa kita telah melakukan standard security yang maksimal,” tutur Djoko.

Pengamanan ini sendiri, jelas Djoko, dititikberarkan di seluruh gerbang masuk dari berbagai daerah atau luar negeri seperti bandara. “Artinya pada saat orang baru masuk ke kawasan bandar dan lain-lain. Seluruh fasilitas transportasi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Djoko.

Tetap Tenang

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia (RI) Ir. Joko Widodo melalui Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (purn) Moeldoko mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar tetap tenang dan tidak panik dengan maraknya serangan terorisme saat ini. Ia mengatakan, Presiden Jokowi sendiri juga telah mendorong aparat keamanan negara untuk menindak tegas para pelaku terorisme bersama jaringannya.

“Saya pikir sebuah pesan khusus kepada masyarakat untuk tenang, untuk tidak panik, karena aparat keamanan sudah mendapatkan perintah yang jelas, tegas dari Presiden, untuk memberikan tindakan tegas tanpa ampun keakar-akarnya,” jelas Moeldoko di Menara 165, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Senin (14/5).

Baca juga: Fadli Zon Sebut Revisi UU Terorisme Lambat Karena Salah Pemerintah

Untuk mengatasi persoalan terorisme ini, jelas Moeldoko, aparat penegak hukum akan melakukan tindakan represif. Presiden Jokowi sendiri, kata Moeldoko, telah meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk segera berkolaborasi dengan Polri dalam rangka memberantas terorisme ini.

“Polri sudah meminta kepada TNI, dan Presiden sudah memerintahkan kepada Panglima TNI untuk berkolaborasi menyelesaikan persoalan ini. Sehingga kepolisian memiliki kekuatan yang semakin kuat untuk membasmi terorisme ini. Untuk itu saya mengimbau kepada masyarakat untuk tenang,” kata Moeldoko.*

COMMENTS