Tergoda Bentuk Tubuh, Pria Ini Nekat Cabuli Anak Teman Kencannya

Tergoda Bentuk Tubuh, Pria Ini Nekat Cabuli Anak Teman Kencannya

Saat ini pelaku DM mendekam di Polsek Kembangan. Dia dijerat Pasal 82 UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 5 tahun penjara. (Foto: ilustrasi - ist)

JAKARTA, dawainusa.com –  MD, seorang pria yang berumur 40 tahun tega melakukan perbuatan bejat dengan cabuli anak teman kencannya. Peristiwa itu terjadi di Kembangan, Jakarta Barat, Minggu (25/3).

Kejadian itu terungkap setelah pihak kepolisian dari Polsek Kembangan berhasil mengamankan pelaku. Kapolsek Kembangan Kompol Supriyadi mengatakan, korban (SA) adalah anak kandung dari teman kencan korban.

Selain itu, Supriyadi mengatakan, pelaku sering tidur di rumah korban yang berlokasi di Jalan Mandor Salim, Srengseng, Jakarta Barat.

“Pelaku ini sering menginap di rumah korban, tapi saat itu sang ibu tidak ada di rumah. Palaku pun mencabuli korban di dalam kamar,” kata Supriyadi, seperti dikutip dari Kumparan.

Baca juga: Dylan Sada, Model Cantik yang Ungkap Perbuatan Bejat Ayahnya

Supriyadi menambahkan, setelah menjalankan aksi bejatnya, pelaku pergi meninggalkan korban. Sedangkan korban SA, diungkapkan Supriyadi, mengadu pada bibinya.

“Mendengar cerita dari keponakannya, sang bibi geram dibuatnya. Bersama korban, sang bibi melaporkannya ke Polsek Kembangan,” ujar Supriyadi.

Saat itu juga unit reskrim Polsek Kembangan langsung menangkap pelaku yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya di Jakarta Selatan. Menurut Supriyadi, DM baru pertama kali menjalankan aksinya pada korban.

“Pelaku mengakui perbuatannya karena tergoda bentuk tubuh korban,” tandasnya.

Saat ini pelaku DM mendekam di Polsek Kembangan. Dia dijerat Pasal 82 UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana 5 tahun penjara.

Pelecehan Seksual, Kejadian Lain

Selain aksi bejat cabuli anak yang marak terjadi, sebelumnya, seorang pria bernama Fandi pernah melakukan pelecehan seksual pada seorang wanita di sebuah apartemen daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara pada 7 Februari. Pelaku melaksanakan aksi bejatnya itu dengan modus mengantar pulang korbannya.

“Menurut keterangan para saksi, pada saat korban turun bis di Terminal Pelabuhan Tanjung Priok, korban bertemu dengan pelaku dan menawarkan untuk mengantar pulang. Namun sebelum mengantar pulang, pelaku mengajak korban untuk menemui temannya terlebih dahulu di sebuah apartemen daerah Kelapa Gading,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Baca juga: Menguak ‘Evil 8’, Kasus Kekerasan Seksual Terburuk di Australia Barat

Argo mengatakan, pelaku dan korban memang sudah saling kenal, sehingga wanita berusia 22 tahun ini tak menolak ketika Fandi mengajaknya ke daerah Kelapa Gading. Namun setibanya di dalam apartemen, Fandi langsung mengunci pintu kamar.

“Pelaku kemudian memaksa korban untuk berhubungan badan. Namun korban berontak dengan cara berteriak,” katanya.

Meski mendapat perlawanan, Fandi tetap melakukan perbuatan bejatnya pada wanita tersebut. Puas melecehkan korban, Fandi mengantar wanita tersebut sambil mengancam untuk tak memberitahu siapa-siapa.

Korban yang tak terima dilecehkan, kemudian melaporkan kejadian itu ke Polres Pelabuhan Tanjung Priok pada Kamis (22/2). Tak butuh waktu lama, pada Jumat (23/2), pelaku berhasil diamankan polisi. Atas perbuatannya, Fandi kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan mendekam di Polres Pelabuhan Tanjung Priok.

Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Meningkat, Tak Terkecuali Anak Laki-laki

Pada Februari lalu, Lembaga perlindungan saksi dan korban (LPSK) melaporkan, di awal tahun 2018, tren kasus kekerasan seksual khususnya terhadap anak menunjukkan peningkatan. Korbannya pun tak cuma perempuan. Jumlah anak korban berjenis kelamin laki-laki justru makin banyak.

Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai mengatakan, satu orang pelaku bisa memakan lebih dari satu korban. Contoh seperti pada kasus di Tangerang dengan pelaku W alias Babe, yang korbannya mencapai 43 orang. Kemudian, di Jakarta Timur yang korbannya berjumlah 16 orang dan masih banyak kasus lainnya.

Baca juga: Pisah dengan Istri, Pria Ini Setubuhi Anak Kandungnya Sendiri

“Muncul pertanyaan, bagaimana dengan masyarakat di sekitar lingkungan korban, bagaimana peran mereka,” ujar Semendawai.

Semendawai pun menyoroti banyaknya anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Untuk bulan Januari saja, jumlah anak korban kekerasan seksual bisa lebih dari 100 orang yang tersebar di beberapa daerah.

“Itu yang terpantau. Masih banyak kasus-kasus lainnya. Makin banyak anak yang menjadi korban. Rata-rata mereka takut untuk melaporkan kejadian yang menimpanya,” tutur dia.

Selain takut, kesulitan dalam pengungkapan tindak pidana kekerasan seksual anak, antara lain juga disebabkan orang tua yang tidak mendukung anaknya mengungkap kejadian yang dialaminya.

“Sulitnya pembuktian, kurangnya keberpihakan penyidik terhadap korban, rasa malu pada diri korban, trauma dan kurangnya dukungan dari lingkungan di sekitar korban,” ucap dia.*

COMMENTS