‘Tepi Rani’, Memohon Kepada Alam dan Leluhur untuk Panen yang Berlimpah

‘Tepi Rani’, Memohon Kepada Alam dan Leluhur untuk Panen yang Berlimpah

Ritus Tepi Rani dilakukan setiap tahunnya sebagai wujud syukur kepada alam dan leluhur yang mereka percaya menjadi sumber berkah bagi kehidupan. (Butiran padi ditapis/diayak sebelum dibagikan disetiap rumah warga - Dawainusa/Elvis Yunani)

ELAR, dawainusa.com Perkembangan zaman yang melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, seringkali berdampak pada kepunahan tradisi warisan leluhur.

Namun, tidak demikian dengan apa yang dialami oleh masyarakat adat kampung Renden, Desa Panwaru Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

‘Tepi Rani’, sebagai salah satu warisan leluhur di kampung itu hingga kini terus lestari oleh para penerus generasi jelang musim panen padi tiba.

Baca juga: Elar selatan, Dari Janji Politik Sampai Surati Presiden Jokowi

Ritus yang digelar sejak berdirinya kampung tersebut, dilakukan setiap tahunnya sebagai wujud syukur kepada alam dan leluhur yang mereka percaya menjadi sumber berkah bagi kehidupan.

Butiran padi di Sangrai

Butiran padi di Sangrai (Foto: Elvis Yuanani)

Doa Jelang Musim Panen Tiba

Tepi Rani sendiri berasal dari dua suku kata, ‘Tepi’ yang artinya menapis atau mengayak dan ‘Rani’ yang berarti biji padi yang siap panen.

Dalam ritus ini, sesepuh adat memimpin doa yang digelar di halaman rumah adat yang mereka namai dengan ‘Compang’ atau altar tempat persembahan kepada leluhur dan Tuhan.

Baca juga: BTNK Soal Bandara Komodo Tahan Flora dan Fauna yang Dibawa Wisatawan

Pagi-pagi benar saat matahari baru saja nampak, warga sudah berdatangan ke halaman rumah adat untuk mengikuti do’a bersama sesepuh kampung.

Salah seorang sesepuh adat didaulatkan untuk memimpin doa dengan persembahan seekor ayam atau bisa diganti dengan sebutir telur.

Selain ayam atau telur untuk persembahan, dihadapan altar itu juga digelar butiran padi serta ‘uwi’ (sejenis ubi hutan) untuk dipersembahkan. Butiran padi yang digelar tersebut diambil dari ladang yang siap dipanen.

Dihadapan tempat persembahan atau ‘Compang’, doa dilambungkan dengan lantang yang isinya tak lain adalah memohon kepada alam dan leluhur agar hasil panen mereka berlimpah serta bisa memberi penghidupan bagi seluruh warga kampung.

“Pada intinya, doa ini untuk memohon kelimpahan hasil panen untuk padi yang akan kami panen”, kata Gregorius Pori, sesepuh Suku Kese, salah satu suku terbesar di Kampung Renden kepada Dawai Nusa, Selasa (03/04).

Bapak Goris, sapaan akrab pria itu menjelaskan, sebagai warisan adat, warga Kampung Renden meyakini tanpa ritus ‘Tepi Rani’ hasil panen mereka tidak akan berlimpah seperti yang mereka harapkan.

“Ini warisan dari nenek moyang yang kami jaga dan wajib kami jalankan, kalau tidak digelar maka akan berpengaruh pada hasil panen kami”, jelasnya.

Sesepuh Adat duduk disekitar tempat persembahan di halaman rumah adat

Sesepuh Adat duduk disekitar tempat persembahan di halaman rumah adat (Foto: Elvis Yunani)

‘Tepi Rani’, Ritual yang Akan Terus Diwariskan

Setelah doa berlansung, selanjutnya butiran padi yang tadi dipersembahkan di sangrai untuk kemudian di tumbuk.

Uniknya, setelah di sangrai dan ditumbuk, sesepuh adat akan menapis atau mengayak padi hasil tumbukan tersebut dengan cara mengitari altar atau compang sebanyak lima kali.

Baca juga: Frustasi Pada Remaja Belum Menjadi Kecemasan Bersama

Selanjutnya, butiran besar yang telah dipisahkan dengan kulitnya akan dibagi-bagi ke setiap rumah warga dalam kampung. Hal ini bermakna membagi rejeki bagi setiap keluarga yang akan memanen padinya.

Alex, salah satu sesepuh kampung berharap tradisi ini akan terus lestari oleh generasi selanjutnya. Menurut dia, tradisi ini adalah ucapan syukur yang penuh makna.

“Tradisi ini harus terus dilestarikan, kita harus tau berterima kasih dengan pemberian alam dan leluhur yang memberi kita kehidupan”, ujarnya.* (Elvis Yunani)

COMMENTS