Teater “Tungku Haram” Syuradikara Hipnotis Masyarakat Labuan Bajo

Teater “Tungku Haram” Syuradikara Hipnotis Masyarakat Labuan Bajo

Membaca judul teater Tungku Haram sepintas menjelaskan dua konteks yang saling bertentangan. Tungku itu ada batu, perapian, sementara haram itu illegal, tidak sah. (Foto: Teater Tungku haram - Bruder Anton)

LABUAN BAJO, dawainusa.com Teater “Evergrande” Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) Syuradikara Ende, Sabtu (14/4), berhasil menghipnotis ribuan masyarakata Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat saat menggelar pertunjukkan Teater “Tungku Haram 2” di lapangan SMAK Santo Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Teater yang dipentaskan dalam durasi waktu satu jam lebih ini kembali mengangkat tema tentang perdagangan manusia (human trafficking) yang tengah marak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam sambutannya, Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla mengatakan, sebagai salah satu dari 10 destinasi terbaik pariwisata di Indoensia, Labuah Bajo menjadi salah satu akses strategis bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara sehingga selain dampak positif, juga ada sisi negatif termasuk perdagangan manusia.

Baca juga: SMPK Wolowaru Gelar Aksi Tolak Perdagangan Manusia

“Membaca judul teater “Tungku Haram” sepintas menjelaskan dua konteks yang saling bertentangan. Tungku itu ada batu, perapian, sementara haram itu illegal, tidak sah. Manggarai Barat saat ini telah menjadi tujuan pariwisata bahkan salah satu terbaik di Indonesia. Selain banyak hal positif, ada juga sisi yang membahayakan termasuk perdagangan manusia,” kata Dulla.

Ia menambahkan, kehadiran Teater “Tungku Haram” di tengah tantangan realita perdagangan manusia merupakan suatu pelajaran sekaligus upaya pembebasan.

“Luar biasa, dalam menghadapi tantangan besar ini, hadir SMA/SMK Syuradikara yang datang membawa pembebasan dan pelajaran yang sangat berarti tentang bahaya perdagangan manusia (human trafficking). Meski di Manggarai Barat belum terdata dengan baik, tetapi secara diam-diam hal ini telah berlangsung di daerah ini yang merupakan daerah tujuan pariwisata,” imbuhnya.

pertunjukkan teater "Tungku haram 2" Syuradikara di Labuan Bajo.

Pertunjukkan teater “Tungku haram 2” Syuradikara di Labuan Bajo. (Foto: Dede Anton)

Sementara Kepala Sekolah SMAK St Ignasius Loyola, P. Yerem Bero, SVD menilai, pertunjukkan Teater ini memiliki misi khusus yakni misi kemanusiaan selain sebuah seni pertunjukkan.

“Teater ini memiliki misi khusus yaitu agar kita bisa menimba banyak makna tentang misi kemanusiaan dari teater yang dipentaskan ini. Tentu, seni teater juga tidak hanya dinikmati sebagai sebuah seni pertunjukkan tetapi kesempatan untuk banyak belajar dari apa yang ditampilkan ini” nilainya.

Hal senada diutarakan Kepala Sekolah Syuradikara, P. Stef Sabon Aran, SVD yang mengatakan bahwa Teater “Tungku Haram” merupakan implementasi program renstra Provinsi SVD Ende tentang pemberantasan perdagangan manusia.

“Teater “Tungku Haram” mempunyai implementasi program renstra Provinsi SVD Ende tentang pemberantasan perdagangan manusia. Lembaga SMA/SMK Syuradikara sebagai salah satu sekolah milik Provinsi SVD Ende, kami mendaratkan program ini di tengah masyarakat. Ini adalah juga proses penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya perdagangan manusia,” kata Pater Stef.

Teater ‘Tungku Haram’, Kampanye Tolak Human Trafficking

Pertunjukkan Teater “Tungku Haram 2” yang merupakan edisi lanjutan dari teater “Tungku Haram 1” yang pernah dipentaskan di Ende pada 10 November 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, menyiratkan visi-misi kemanusiaan yakni menentang perdagangan manusia dari bumi Flobamora.

Pater Johan Wadu, SVD selaku sutradara Teater “Evergrande” mengemukakan bahwa di balik teater “Tungku Haram” tersirat makna perlawanan terhadap perdagangan manusia. Hal itu dianalogikan dengan kehidupan keluarga dan realita yang terjadi di tengah masyarakat.

Baca juga: Selamat Datang di Desa Kami, Pak!

pertunjukkan teater "Tungku haram 2" Syuradikara di Labuan Bajo.

Teater “Tungku haram 2” Syuradikara di Labuan Bajo. (Foto: Dede Anton)

“Kedua orang tua saya berprofesi sebagai guru. Dari penghasilan sebagai guru, dibelanjakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan rumah tangan termasuk urusan di dapur (tungku). Itu ibarat tungku halal karena berkat penghasilan yang halal sebagai guru,” kata Pater Johan.

“Sementara ada realita yang terjadi yakni manusia justru dijadikan objek bisnis yang menghasilkan uang termasuk untuk urusan di dapur (tungku). Itulah “tungku haram” karena sesuatu dibelanjakan berkat uang haram menjual sesame manusia. Hal inilah yang menjadi inspirasi teater “Tungku Haram” ini,” lanjutnya.

Pater Johan menegaskan, misi kemanusiaan yang dibawanya melalui pertunjukkan teater tersebut yakni berangkat dari panggilan kemanusiaan dan tanggung jawab sebagai pribadi dan juga sebagai imam SVD yang memandang martabat setiap manusia adalah hakikat yang harus diperjuangkan dan dibebaskan dari belenggu ketidakberdayaan termasuk perdagangan manusia.

Perdagangan Manusia sebagai Kejahatan Kemanusiaan

Sementara perwakilan Yayasan Persekolahan Santo Paulus (YASSPA), Br. Simplisius Hanafi, SVD menilai, perdagangan manusia sebagai kejahatan kemanusiaan yang sudah mengglobal dan butuh tanggung jawab semua pihak.

“Perdagangan manusia merupakan kejahatan kemanusiaan yang terjadi secara masif dan sistematis demi kepentingan orang-orang tertentu. Kejahatan ini sudah menggurita. Karena kesadaran akan kejahatan ini, maka SVD dalam Kapitel Jenderal ke-17 tahun 2012 memuluskan usaha perdagangan manusia sebagai salah satu resolusi. Karena itu, usaha pemberantasan perdagangan manusia menjadi suatu komitmen yang mewajibkan bagi anggota SVD di dunia,” ujarnya.

Baca juga: Peduli Human Trafficking, JPIC SsPS Bentuk Komunitas Orang Muda

Teater "Tungku haram 2" Syuradikara di Labuan Bajo. (Foto: Guche Montero)

Teater “Tungku haram 2” Syuradikara di Labuan Bajo. (Foto: Bruder Yoris)

Dijelaskan, dalam kapitel provinsi SVD Ende, usaha memberantas perdagangan manusia menjadi resolusi Provinsi SVD Ende. Usaha penyadaran itu diterapkan dalam berbagai kegiatantermasuk melalui SMA/SMK Syuradikara yang mengimplementasikan resolusi ini dalam bentuk teater “Tungku Haram”. Teater Tungku Haram yang dipentaskan ini merupakan pentasan kedua.

“Diharapkan agar dari teater ini, masyarakat disadarkan tentang perdagangan manusia sebagai suatu kejahatan yang harus diberantas, suatu persoalan yang menggurita di mana kita semua bisa jadi korban sekaligus pelakunya, serta upaya pemberantasan yang harus dilakukan secara bersama-sama. Maka, pimpinan SVD Ende meminta agar teater ini tidak hanya dipentaskan di Ende, tetapi juga di kabupaten lain. Labuan Bajo menjadi tempa pertama yang menerima tawaran ini,” tandasnya.

“Meski persoalan perdagangan manusia sudah marak, namun jujur untuk daerah Labuan Bajo hal itu terkesan masih baru bagi masyarakat. Semoga Teater ini dapat menyadarkan masyarakat untuk mulai mencegah bahaya perdagangan manusia termasuk anak-anak usia sekolah yang putus sekolah yang bisa saja menjadi korban jika tidak disadarkan sejak dini,” ungkap Chelsea Answar, Siswi kelas 3 SMAK Ignasius Loyola usai menyaksikan pertunjukkan teater.* (Guche Montero)

COMMENTS