Tawa Sang Presiden, Sindir Pidato Prabowo?

Tawa Sang Presiden, Sindir Pidato Prabowo?

Usai tawanya mereda, Presiden Jokowi mengatakan seharusnya kita semua memandang masa depan dengan rasa optimisme, bukan sebaliknya. (Foto: Jokowi & Prabowo - Merdeka.com)

FOKUS, dawainusa.com “Saudara-saudara. Kita masih upacara. Kita masih menyanyikan lagu kebangsaan. Kita masih pakai lambang-lambang negara. Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian dimana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030,” demikian penggalan pidato yang disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Pidato Prabowo yang diunggah di Facebook Partai Gerindra ini akhirnya memantik beragam reaksi publik. Ada yang mendukung, ada pula yang mengkritisinya. Yunarto Wijaya, pengamat politik dari Charta Politika dengan cukup tajam mengomentari isi pidato Prabowo yang telah berdar luas di media sosial itu.

Yunarto menilai, Prabowo hanya gemar memberikan statemen ke publik namun jarang muncul dalam perdebatan dan diskusi tentang kebijakan. “Lebih baik apabila Prabowo menawarkan solusi ketimbang hanya memberikan kritik terhadap pemerintahan sekarang,” kata Yunarto seperti dikutip dari Tempo, Rabu (21/3).

Baca juga: Politikus Gerindra Soal Indonesia Akan Hancur Pada 2030

Di sisi lain, pernyataan-pernyataan Prabowo yang dinilai bombastis tidak sejalan dengan langkah politik yang seharusnya turun langsunng ke lapangan. Ada sebuah pernyataan dalam video berdurasi 1 menit 31 detik itu yang menurut Yunarto sangat bombastis. “Indonesia akan bubar pada 2030”.

Selain dinilai sebagai sesuatu yang sifatnya propaganda, bicara hal besar dan spekulatif, menurut Yunarto, pidato tersebut hendak memberikan kesan Prabowo psimistis terhadap Indonesia. “Pernyataan seperti ini akan bisa kontraproduktif untuk dirinya sendiri secara elektoral,” kata Yunarto.

Rupanya, penggalan pidato Prabowo juga bikin geger istana. Melalui Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi, Istana menilai pernyataan Prabowo justru tidak sesuai denga kenyataan kondisi Indonesia saat ini yang semakin membaik. Johan pun mempertanyakan dasar dari kajian tersebut, apalagi di tengah peringkat kemudahan berinvestasi di Indonesia yang semakin membaik dari tahun ke tahun.

“Kalau dari sisi ranking misalnya tingkat investasi di Indonesia meningkat, nomor dua kalau enggak salah setelah Filipina. Ini kan parameter menuju negara lebih baik kan, bukan sebaliknya,” kata Johan seperti dikutip dari Republika, Rabu (21/3).

Sementara itu, Presiden Joko Widodo hanya bisa tertawa ketika ditanya pendapatnya terkait pernyataan Prabowo. Usai menghadiri Rapimnas ke-2 Partai Perindo, wartawan mewawancarai Presiden. “Pak, minta tanggapan mengenai pernyataan Prabowo yang mengatakan Indonesia bubar tahun 2030,” tanya wartawan.

Sontak, Presiden tertawa beberapa saat. Usai tawanya mereda, Jokowi mengatakan seharusnya kita semua memandang masa depan dengan rasa optimisme, bukan sebaliknya.  Meski demikian, pihak Istana sendiri akan menerima hasil kajian tersebut sebagai masukan jika data yang diahasilkan memang valid.

Pidato Prabowo sebagai Warning

Dalam pidato tersebut, sebetulnya Prabowo juga menyentil soal prilaku elit yang berpotensi merusak bangsa Indonesia. “Ini yang merusak bangsa kita. Semakin pintar semakin tinggi kedudukan semakin curang, semakin culas, semakin maling!” serunya.

Meskipun disoroti dengan kacamata yang berbeda, Partai Gerindra tetap yakin bahwa apa yang disampaikan sang Ketua Umum adalah sesuatu yang baik atas dasar kecintaannya terhadap Indonesia. Menurut pengakuan Sekretaris Jenderal partai Gerindra Ahmad Muzani, Prabowo memang selalu menekankan wacana intelektual dan literatur serta pendapat ahli dalam menyampaikan pendapatnya.

Baca juga: Prabowo Sebut Tanah Dikuasai Pihak Asing, PBNU: Bukan oleh Jokowi

Di balik semua itu, katanya, semangat untuk menjaga kesatuan, perlunya mengamalkan Pancasila dan memberikan perhatian kepada yang lemah menjadi hal serius yang harus diperhatikan bersama. Sebab, gagalnya sebuah negara bisa disebabkan oleh kondisi di dalam maupun di luar negara tersebut. “Karena dimungkinkan Indonesia bubar bisa dari dalam atau luar,” imbuh Muzani.

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hanafi Rais merespon pidato Prabowo sebagai early warning, semacam peringatan dini. Hanafi juga menyarankan agar makna di balik pidato tersebut jangan dipersempit. Bagi Hanafi, jika negara ini tidak dikelola dengan benar nanti jangan-jangan yang terjadi di Uni Soviet, Yugoslavia terjadi juga sama Indonesia.

“Itu warning saja, saja, early warning, maknanya jangan dipersempit (Indonesia) 2030 bubar, tidak,” kata Hanafi di gedung DPR, Jakarta, Rabu (21/3).

Sejalan dengan Hanafi, Direktur Program Saiful Mujani Research Center (SMRC) Sirojudin Abbas juga turut berkomentar. Menurut Abbas, statemen yang dikeluarkan Prabowo lebih merupakan bentuk peringatan oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa tentang potensi-potensi konflik.

“Itu warning, bahwa risk itu ada memang dan harus direspon dengan baik. Pemerintah baiknya tidak bereaksi negatif terhadap itu anggap saja sebagai whistle blower, bahwa memang masih ada PR yang harus diperbaiki, termasuk merespons potensi-potensi yang jadi sumber konflik nantinya,” jelas dia seperti dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (21/3).

Meski demikian, akurasi pernyataan Prabowo juga patut diuji. Ia pun mengakui Indonesia masih jauh dari indikasi-indikasi bubarnya sebuah negara.

Dalam kajian National Intelligence Council bertajuk Global Trends 2030: Alternative Worlds yang dipublikasikan pada Desember 2012, tak terdapat nama Indonesia di jajaran negara-negara yang berisiko tinggi gagal pada 2030. Daftar itu dipuncaki oleh Somalia, dan disusul oleh Burundi, Yaman, Uganda, Afganistan, Malawi, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Nigeria, Niger, Pakistan, Chad, Haiti, Ethiopia, dan Banglades.

Kajian ini menyoroti tentang lemahnya pemerintah, keamanan yang minim, ekonomi yang rapuh, perebutan Sumber Daya Alam (SDA), serta konflik-konflik sipil. Somalia juga memuncaki daftar Indeks Negara Rapuh 2017. Sementara, Indonesia ada di posisi 86, lebih kuat satu tingkat daripada China.*

COMMENTS