Soal Pidato Prabowo, Pengamat: Daripada Kritik Lebih Baik Beri Solusi

Soal Pidato Prabowo, Pengamat: Daripada Kritik Lebih Baik Beri Solusi

Menanggapi pidato Prabowo, seorang pengamat mengatakan, sebagai calon presiden sebaiknya Prabowo tidak melulu memberi kritik tetapi lebih baik memberi solusi. (Foto: Pengamat politik dari lembaga Charta Politica, Yunarto Wijaya - Kompas.com).

JAKARTA, dawainusa.com Pengamat politik dari lembaga Charta Politica Yunarto Wijaya mengatakan, sebagai calon presiden sebaiknya Prabowo Subianto tidak melulu memberi kritik tetapi lebih baik memberi solusi. Pernyataan tersebut disampaikannya menanggapi pidato Prabowo beberapa waktu lalu.

Menurut Yunarto, dengan memberikan solusi, Prabowo membangun image kepada publik bahwa dirinya seorang pemimpin yang berkharisma dan mampu memberikan solusi bagi persoalan yang di hadapi bangsa Indonesia saat ini.

“Itu sebetulnya yang menjadi variabel utama masyarakat ketika memilih seorang pemimpin di level presiden, masyarakat berharap pemimpinnya, selain berkharisma dan punya kekuatan politik, dapat memberikan solusi,” ujar Yunarto, sebagaimana diberitakan Tempo.co, Rabu (21/3).

Baca juga: Prabowo: Indonesia Akan Hancur Pada 2030, Ini Komentar Pihak Istana

Adapun pidato Prabowo Subianto yang menuai polemik itu, yakni saat dirinya menyebut Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Pidato tersebut diunggah dalam akun facebook partai Gerindra pada 19 Maret 2017 lalu.

Dalam video berdurasi 1 menit 31 detik itu, Prabowo mengenakan baju putih dan dengan tegas mengatakan Indonesia akan bubar pada 2030.

Ia juga memberikan argumen, antara lain soal kedaulatan negara. Menurut dia, dari 80 persen tanah seluruh negara, hanya 1 persen yang dikuasai rakyat Indonesia.

“Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi, di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030,” ucap Prabowo dalam video tersebut.

Pidato Prabowo, Bumerang Pilpres 2019

Sejauh ini, Prabowo Subianto disebut-sebut sebagai calon kuat penantang Jokowi dalam pesta pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang. Meski demikian, Ketua Umum Partai Gerindra itu belum juga mendeklarasikan diri sebagai capres.

Menurut Yunarto, pidato tersebut justru kontra produktif secara elektoral bagi Prabowo dalam pilpres mendatang. Walaupun maksud hati menyerang rezim saat ini, publik justru akan menilai Prabowo sebagai tokoh yang pesimistis.

“Pernyataan seperti ini akan bisa kontraproduktif untuk dirinya sendiri secara elektoral, pidato itu sifatnya seperti propaganda, bicara hal besar, dan spekulatif,” ungkap Direktur Charta Politica itu.

Baca juga: Prabowo Sebut Tanah Dikuasai Pihak Asing, PBNU: Bukan oleh Jokowi

Ia menambahkan, sebaiknya Prabowo bekerja keras  untuk menaikkan tingkat elektabilitasnya jika ingin menang dalam Pilpres mendatang. Apalagi elektabilitas Prabowo berdasarkan hasil survei beberapa lembaga terpaut jauh dengan Jokowi.

Berbeda dengan Yunarto, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor menilai pidato mantan kopassus itu sebagai bentuk peringatan bagi masyarakat. Ia tak menampik, hal itu bagian dari manuver Prabowo untuk Pilpres 2019.

Dengan menunjukkan bahwa ada ancama seperti itu, Prabowo mau menegaskan bahwa ia harus turun tangan untuk menyelamatkan bangsa. “Retorika itu, untuk menjadikan alasan Prabowo harus kembali turun tangan untuk mencegah kemungkinan keterpurukan bangsa,” pungkasnya.

Petikan Pidato Prabowo

Berikut petikan pidato Prabowo yang kini jadi polemik, seperti diberitakan Detik.com.

Saudara-saudara! 
Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.

Baca juga: Pilpres 2019, Akankah Jokowi Kembali Bertarung Melawan Prabowo?

Bung!
Mereka ramalkan kita ini bubar.

Elite kita ini merasa bahwa 80 persen tanah seluruh negara dikuasai 1 persen rakyat kita, nggak apa-apa.
Bahwa hampir seluruh aset dikuasai 1 persen, nggak apa-apa. Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri tidak tinggal di Indonesia, tidak apa-apa.

Ini yang merusak bangsa kita, saudara-saudara sekalian!

Semakin pintar, semakin tinggi kedudukan, semakin curang! Semakin culas! Semakin maling!
Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi.*

COMMENTS