Soal Larangan Masuk Bagi Turis Indonesia oleh Pemerintah Israel

Soal Larangan Masuk Bagi Turis Indonesia oleh Pemerintah Israel

Keputusan Pemerintah Israel ini memang merupakan hak mereka karena setiap negara memiliki kebijakannya sendiri terkait hal visa ini (Foto: Tanah Israel - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Pada Rabu 30 Mei kemarin, Pemerintah Israel mengeluarkan suatu keputusan yang berisi larangan bagi pelancong berpaspor Indonesia untuk masuk ke kawasan Tanah Suci Israel.

Keputusan itu diketahui merupakan upaya balasan dari mereka terhadap sikap Pemerintah Indonesia yang pernah menangguhkan visa warga Negeri Bintang Daud tersebut. Sebagaimana diketahui, pada pekan lalu, Pemerintah Indonesia melakukan hal itu sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina yang dibantai oleh pasukan Israel di perbatasan Jalur Gaza.

Baca juga: Israel Abadikan Trump Jadi Nama Stasiun Kereta Yerusalem

Terkait keputusan Pemerintah Israel ini, memang sudah diprediksi oleh Pemerintah Indonesia sendiri. Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir di Kementerian Luar Negeri, Kamis (31/5) mengatakan, aksi balasan dari pemerintah Israel tersebut sudah pernah dipikirkan oleh pemerintah Indonesia ketika menangguhkan visa warga Israel.

Keputusan Pemerintah Israel ini, kata dia, memang merupakan hak mereka. Sebab, setiap negara memiliki kebijakannya sendiri terkait hal visa ini.

“Kita tahu mengenai langkah tersebut, tetapi kita juga harus memaklumi bahwa setiap negara memiliki kebijakan masing-masing terkait pemberian fasilitas visa. Mau memberikan atau tidak,” ujar Fachir.

Dampak Larangan Pemerintah Israel

Langkah balas dendam yang dilakukan oleh Pemerintah Israel tersebut tidak tanpa dampak bagi Indonesia. Kebijakan tersebut ternyata menimbulkan pengaruh besar bagi bangsa Indonesia, sebab bulan-bulan ini merupakan waktu kaum Nasrani untuk berziarah ke Yerusalem.

Tidak hanya bagi umat Nasrani, kebijakan itu juga berpengaruh bagi sebagian agenda wisata dari kalangan Muslim. Diketahui bahwa ada sejumlah tour Muslim yang memiliki destinasi di Tanah Suci Yerusalem dan juga kunjungan ke Masjid Al-Aqso.

Kedua tempat itu diketahui masuk dalam paket wisata religi mereka dan biasanya satu paket dengan Mesir dan Yordania. “Sebenarnya terkait hal itu sudah disampaikan oleh menteri agama. Namun yang pasti ada aturan internasional yang mengatur hal tersebut,” jelas Fachir.

Baca juga: Soal Yerusalem Timur yang Didukung China dan Ditolak Israel

Menteri Agama Republik Indonesia Lukmah Hakim Saifuddin sendiri memang sudah menanggapi kebijakan pemerintah Israel ini. Ia cukup menyayangkan bahwa langkah seperti ini bisa diambil oleh pemerintah Israel.

Padahal, hal ini sebenarnya tidak patut dilakukan oleh mereka. Sebab, di daerah ini terdapat kota suci yang dimiliki oleh umat beragama di seluruh dunia. Israel bisa dianggap wilayah yang dimiliki oleh semua umat di seluruh dunia.

“Ya karena kalau kota-kota suci itu milik bersama sebenarnya. Mestinya tidak boleh ada larangan untuk mengunjungi tempat suci karena itu menjadi konsen semua umat beragama,” kata Lukman di Istana Negara, Rabu (30/5).

Kondisi ini tentu tidak dipikirkan oleh pemerintah Israel. Lukman mengatakan, seharusnya Pemerintah Israel tidak boleh bertindak sewenang-wenang, yakni memberikan larangan ini kepada warga Indonesia hanya karena hendak berbalas dendam dengan Pemerintah Indonesia.

Sebagai destinasi utama wisata religi, seharusnya Pemerintah Israel tahu bahwa akan banyak orang Indonesia yang akan datang beribadat di tempat itu.

“Oleh karenanya agar Israel juga bisa memahami hal ini, jadi larangan itu mestinya tidak terkena pada kota-kota suci yang menjadi milik warga dunia. Karena setiap penduduk dunia mestinya punya hak yang sama untuk mengunjungi tempat-tempat suci,” ujar dia.

Patut Disayangkan

Akibat kebijakan Pemerintah Israel itu, sejumlah agen travel juga mengalami kerugian. Humas NazaretTour Ellen mengatakan, keputusan Pemerintah Israel ini patut disayangkan karena hal ini membuat pihak mereka mengalami kerugian.

Ia menceritakan, setiap tahun negara Israel dikunjungi jutaan orang dari berbagai belahan dunia. Salah satu tujuan terbesar mereka berkunjung ke daerah itu ialah untuk berziarah.

Baca juga: Trump, Yerusalem dan Upaya Perdamaian Israel-Palestina

“Orang Indonesia itu paling suka diajak ke Gereja Kelahiran Yesus, Navity Church di Betlehem, karena tempat itu saksi untuk napak tilas asal-muasal Yesus. Ini gereja ortodok, liturgi keagamannya masih kental, untuk liturgi hanya Kristen Ortodok yang boleh ikut, turis asing hanya bisa melihat saja,” kata Ellen.

Hal tersebut sebenarnya mesti menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Israel apabila hendak mengeluarkan keputusan seperti ini. Oleh karena itu, Ellen meminta dan mendesak Pemerintah Indonesia agar segera menyelesaikan persoalan ini.

Para pelaku bisnis travel di Indonesia mengharapkan agar segera ada lobi antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Israel untuk segera menguraikan masalah ini. Dengan demikian, seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki agenda berkunjung ke Israel dapat mewujudkan hal itu.*

COMMENTS