SMPK Wolowaru Gelar Aksi Tolak Perdagangan Manusia

SMPK Wolowaru Gelar Aksi Tolak Perdagangan Manusia

SMPK Wolowaru gelar aksi Tolak Perdagangan Manusia berangkat dari rasa prihatin dan peduli, apalagi banyak korban adalah anak-anak usia sekolah. Ini masalah pendidikan selain faktor ekonomi dan lapangan kerja. (Foto: SMPK Wolowaru gelar aksi Tolak Perdagangan Manusia - Guche Montero)

ENDE, dawainusa.com Untuk pertama kalinya di wilayah kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), gerakan menolak perdagangan manusia (human trafficking) digelar oleh lembaga pendidikan, Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Wolowaru, kecamatan Wolowaru, Ende.

Aksi kemanusiaan sebagai wujud inisiatif dan keprihatinan tersebut digelar bertepatan dengan perayaan Dies Natalis ke-62 lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Persekolahan Lio (Yaperlio) tersebut, Sabtu (17/3).

Pada kesempatan itu, Pater Nikomedes Mere selaku salah satu Pembina Yaperlio di SMPK Wolowaru mengatakan, dalam rangka perayaan Dies Natalis Sekolah, maka segenap Pembina, staf pengajar dan para siswa menggelar kegiatan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Terlibat Kasus Narkoba, TKI Ilegal Asal Ende Ditahan Polisi Malaysia

Dalam Dies Natalis kali ini, katanya, pihak sekolah merayakannya dengan menyerukan kepedulian terhadap persoalan human trafficking yang marak terjadi di NTT serta mendukung gerakan anti-hoax yang berkembang di berbagai media sosial.

“Diharapkan agar lembaga pendidikan SMPK Wolowaru terus memberikan kontribusi tidak hanya bagi lembaga pendidikan melainkan kepedulian terhadap lingkungan masyarakat, bangsa dan Negara. Maka lembaga pendidikan ini turut mengkampanyekan anti-perdagangan manusia, jangan lagi menjual sesama kita (ma’e sai teka imu sama kita),” ungkap Pater Medes.

“Juga, mendukung pemerintah dan pihak kepolisian untuk bersama-sama mendukung gerakan anti-hoax dengan tidak menyebarkan berita-berita provokatif yang mencemarkan kerukunan hidup di antara sesama,” lanjutnya.

SMPK Wolowaru gelar aksi Tolak Perdagangan Manusia

SMPK Wolowaru gelar aksi Tolak Perdagangan Manusia (Foto: Guche Montero)

Pastor Paroki Hati Amat Kudus Wolowaru ini mengharapkan agar kegiatan ini dapat menjadi virus positif bagi lembaga pendidikan yang lain sejak dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Juga, Paroki Wolowaru diharapkan menjadi Paroki ramah migran di wilayah keuskupan Agung Ende dalam mendukung gerakan menentang perdagangan manusia.

“Semoga ini menjadi seruan dan gerakan bersama dari segenap lembaga pendidikan guna mencegah arus perdagangan manusia yang marak terjadi. Semoga aksi kemanusiaan ini menjadi gerakan keprihatinan bersama dari segenap elemen termasuk lembaga-lembaga pendidikan. Kami terus berupaya agar Paroki Wolowaru menjadi Paroki ramah migrant,” harapnya.

Prihatin dengan Persoalan Perdagangan Manusia

Sementara Kepala Sekolah SMPK Wolowaru, Sr. louisse, CIJ kepada media ini mengatakan, gerakan ini baru pertama kali digelar berkat inisiatif dari segenap lembaga pendidikan yang peduli dan prihatin dengan persoalan perdagangan manusia yang selalu diberitakan di berbagai media massa baik media cetak maupun online.

“Tentu saja gerakan ini karena rasa prihatin dan peduli, apalagi banyak korban adalah anak-anak usia sekolah. Ini masalah pendidikan selain faktor ekonomi dan lapangan kerja,” tandas Suster yang mengaku selama ini banyak kegiatan ekstra seperti kemah, pramuka, ret-ret untuk meningkatkan semangat dan keterampilan para siswa.

Baca juga: Indahnya Wisata Alam Air Terjun Mbubhu di Woloora Ende

“Sejauh ini, ada dua siswa tamatan SMPK yang merantau ke Jakarta dan Kalimantan meski kedua siswa tersebut mendapat bantuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Diharapkan agar semua elemen dapat bekerjasama dan saling mendukung untuk mencegah human trafficking ini,” lanjutnya.

Rayakan HUT, SMPK Wolowaru gelar aksi Tolak Perdagangan Manusia

Rayakan HUT, SMPK Wolowaru gelar aksi Tolak Perdagangan Manusia (Foto: Guche Montero)

Kegiatan tersebut juga memunculkan rasa bangga dan merupakan pengalaman baru di kalangan siswa yang mulai memahami resiko terburuk dari merantau ke luar negeri atau putus sekolah.

“Orang tua selalu mendorong agar jangan sampai putus sekolah lalu memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia. Prihatin karena banyak korban adalah mereka yang putus sekolah termasuk anak-anak di bawah usia yang jadi korban. Sebaiknya kerja di tanah sendiri termasuk tidak malu menjadi anak petani,” ujar Helena Jessica Alfa Edison, siswa kelas VIII yang juga mayoret drumb band SMPK Wolowaru.

Selain kampanye anti-perdagangan manusia dan anti-hoax, kegiatan perayaan Dies Natalis juga diwarnai dengan perayaan ekaristi, pertunjukkan Drumb Band SMPK serta pembagian seribu bunga kepada masyarakat.* (GM)

COMMENTS