Sering Buat Kegaduhan, Amien Rais Diminta Segera Pensiun dari Dunia Politik

Sering Buat Kegaduhan, Amien Rais Diminta Segera Pensiun dari Dunia Politik

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir meminta agar sebaiknya Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais segera pensiun dari dunia politik. (Foto: Amien Rais - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir meminta agar sebaiknya Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais segera pensiun dari dunia politik.

Permintaan tersebut merupakan tanggapan atas sikap Amien Rais yang sering membuat kegaduhan dalam dunia politik nasional seperti pernyataannya soal partai setan dan partai Allah.

“Saran saya kepada Amien Rais adalah segera saja pensiun dari dunia politik agar tidak selalu membuat gaduh perpolitikan di Indonesia,” kata Inas di Jakarta, Senin (16/4).

Baca juga: Tausiah Politik Amien Rais, Wajah Destruktif Politik Indonesia

Menurut Inas, dalam konteks negara hukum demokrasi, kebebasan berpendapat memang dihargai dan dilindungi secara hukum. Akan tetapi, kebebasan seperti itu tidak berarti melepaskan diri dari tanggung jawab untuk kebaikan bersama. Seseorang, demikian Inas, harus mampu mengintegrasikan kebebasannya dengan keteraturan hidup bersama.

“Demokrasi itu bukan bebas semau gue, tapi harus ada tanggung jawab di dalamnya. Ucapan Amin Rais tentang Partai Setan tidak ada kaitan-nya dengan demokrasi, melainkan hanya tingkah laku politikus comberan yang seenak udelnya saja, dan hal ini tidak boleh terjadi di Indonesia,” tegas Inas.

Pemecah Bela Bangsa

Tanggapan lain juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Yogyakarta Eko Suwanto. Ia mengatakan, pernyataan Amien Rais tersebut berwatak dapat memecah bela bangsa Indonesia.

Eko mengingatkan, bangsa Indonesia ialah bangsa yang sangat beranekaragam, yakni terdiri dari 17 ribu pulau, lebih dari 1.340 suku bangsa, lebih dari 652 bahasa daerah, dan juga memiliki keyakinan agama yang berbeda-beda.

Baca juga: Klaim Amien Rais soal Dukungan Para Ulama kepada Prabowo

Ia juga menegaskan, bangsa Indonesia dibangun di atas dasar Pancasila yang menghargai segala bentuk perbedaan. Karena itu, jelas Eko, seharusnya setiap tokoh masyarakat memperjuangkan dan menjaga hal tersebut dengan tidak membuat hal-hal yang dapat menimbulkan kegaduhan.

“Apa Amien tidak belajar sejarah dimana bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda, Jepang dan lain lain berkat gotong royong dan perjuangan seluruh warga bangsa dari berbagai suku bangsa,” kata Eko di Yogyakarta, Minggu (15/4).

Eko menerangkan, banyak masyarakat yang menyanyangkan pernyataan Amien Rais tersebut. Sebab, pernyataannya itu sama sekali tidak menunjukkan dirinya sebagai tokoh nasional yang seharusnya menjaga kondisi bangsa ini dari perpecahan.

“Masyarakat Jogja sungguh sedih dan malu dengan tindakan dan pernyataan Amien Rais. Pernyataannya tidak mencerminkan nilai-nilai kejuangan dalam sejarah Jogja dimana Kraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman dan rakyat Jogja bersatu padu berjuang merebut kemerdekaan,” kata Eko.

Soal Partai Setan dan Partai Allah

Untuk diketahui, pernyataan kontroversial Amien Rais tersebut disampaikannya usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4).

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan, partai politik di Indonesia dapat dibagi dalam dua kubu, yakni kubu partai Allah dan kubu partai setan. Pembagian tersebut, jelas Amien Rais, sesuai dengan apa yang tertulis di dalam Alquran.

Baca juga: Jusuf Kalla: Amien Rais Sudah Biasa Kritik Pemerintah

“Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan,” kata Amien Rais.

“Orang-orang yang anti Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, itu partai setan. Ketahuilah partai setan itu mesti dihuni oleh orang-orang yang rugi, rugi dunia rugi akhiratnya… Tapi di tempat lain, orang yang beriman bergabung di sebuah partai besar namanya hizbullah, Partai Allah. Partai yang memenangkan perjuangan dan memetik kejayaan,” lanjut Amien.

Pernyataan ini kemudian ditanggapi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wakil Ketua MUI Zainut Tauhi Sa’adi mengatakan, pembagian seperti itu memang ada di dalam Alquran, yakni dalam surat Al-Mujadilah ayat 19 sampai 22 yang menerangkan ada dua golongan manusia yaitu golongan setan dan golongan Allah.

“Golongan setan itu disebutkan sebagai golongan orang yang selalu berdusta, lupa mengingat Allah, suka menentang ajaran Allah dan Rasul, dan mereka itu adalah golongan orang yang merugi,” kata Zainut di Jakarta, Senin (16/4).

Sementara golongan Allah, demikian Zainut, yakni orang-orang yangberiman kepada Allah dan tentang kehidupan di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang telah menanamkan keimanan di dalam hatinya dan membuka diri terhadap pertolongan Allah. “Mereka adalah termasuk golongan orang yang beruntung,” ungka Zainut.

Dengan demikian, terang Zainut, konteks ayat tersebut di atas lebih pada makna tentang akidah, keyakinan, atau keimanan kepada Allah SWT, bukan dalam konteks politik. Jadi, tidak tepat apabila ada pihak yang mengaitkan ayat tersebut di atas dengan konteks politik kepartaian di Indonesia.

“Saya berprasangka baik Pak Amien Rais tidak bermaksud mengaitkan ayat tersebut dengan kondisi partai-partai di Indonesia,” jelas Zainut.*

COMMENTS