Selain Prabowo, Mega dan SBY Pernah Bicara Indonesia Pecah

Selain Prabowo, Mega dan SBY Pernah Bicara Indonesia Pecah

Ramalan Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia akan pecah di tahun 2030 masih menuai perdebatan di kalangan elite politik, akademisi hingga di tengah-tengah masyarakat. Ternyata, selain Prabowo, Mega dan SBY pernah bicara soal hal tersebut. (Prabowo, SBY & Mega - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Ramalan Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia akan pecah di tahun 2030 masih menuai perdebatan di kalangan elite politik, akademisi hingga di tengah-tengah masyarakat.

Namun sebenarnya, jauh sebelum Prabowo mengungkapkan hal kontraversial itu, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengungkapkan hal yang sama saat keduanya menjadi Presiden. Megawati mengungkapkannya pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2001.

Kala itu, di masa 100 hari kepemimpinannya Presiden Megawati Sukarnoputri memperingatkan, bahwa Indonesia dapat menjadi apa yang disebutnya “Balkan di Hemisfer Timur” kalau rakyatnya tidak berusaha lebih keras untuk menjaga kesatuan negara.

Baca juga: Prabowo: Indonesia Akan Hancur Pada 2030, Ini Komentar Pihak Istana

“Kalau sengketa antara kelompok etnik dan agama di desa-desa tidak dihentikan, negara akan terpecah belah menjadi beberapa negara kecil yang tidak mempunyai kekuatan,” ujarnya seperti terekam dalam pemberitaan VoA Indonesia sebagaimana diberitakan detik.com, Senin (26/3).

Sementara itu, SBY pernah mengungkapkan lima skenario masa depan Indonesia. Skenario itu, kata SBY, mulai muncul saat krisis dahsyat melanda Indonesia di periode 1998 – 1999.

“Tahun 1999 adalah tahun yang sarat dengan persoalan dan tantangan. Banyak kalangan dalam dan luar negeri yang mencemaskan masa depan negara kita, termasuk kelangsungan hidup kita sebagai negara,” kata Presiden SBY dalam pidato Kenegaraan di hadapan Rapat Paripurna DPR, 14 Agustus 2009. Pidato ini terekam di halaman 95 buku SBY Superhero karya Garin Nugroho.

Lima Skenario Soal Masa Depan Indonesia Menurut SBY

SBY pada saat itu pun menyebutkan lima skenario yang bisa terjadi akan masa depan Indonesia. Pertama, Indonesia diramalkan akan mengalami nasib terpecah seperti yang terjadi di kawasan Balkan.

“Indonesia akan mengalami balkanisasi, terpecah-pecah menjadi banyak negara kecil-kecil, karena munculnya sentimen kedaerahan yang kuat di mana-mana,” kata SBY.

Baca juga: Soal Puan dan Pramono di Skandal E-KTP, Jokowi: Diproses Saja!

Skenario kedua, ada yang melihat Indonesia berubah menjadi negara Islam bergaris keras, karena munculnya sentimen keagamaan yang ingin meminggirkan ideologi Pancasila.

Ketiga, ada yang meramalkan Indonesia akan berubah menjadi negara semi otoritarian yang arahnya tak jelas. Keempat, ada yang melihat Indonesia justru berjalan mundur alias kembali memperkuat negara otoritarian.

Skenario kelima, Indonesia diramalkan menjadi negara demokrasi, terutama negara demokrasi yang stabil dan terkonsolidasi. Hanya sedikit yang meramalkan bahwa Indonesia bisa menjalankan skenario kelima. Lebih dari sepuluh tahun sejak reformasi bergulir, Indonesia masih tegak berdiri.

“Bahkan semakin berkibar, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,” tutur SBY kala itu.

Indonesia Akan Tetap Kokoh Bersatu

Di tengah pernyataan dua orang dua tokoh penting di atas yang mengunkapkan Indonesia bisa pecah, Jenderal Gatot Nurmantyo saat menjadi Panglima TNI termasuk yang optimistis bahwa Indonesia akan tetap kokoh bersatu karena berpegang pada ideologi Pancasila.

Ia mengajak semua pihak untuk mengambil hikmah dari pengalaman Yugoslavia yang bubar akibat perang saudara. Runtuhnya Yugoslavia diikuti dengan berdirinya sejumlah negara baru seperti Kroasia, Makedonia, Slovenia yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Yugoslavia.

Baca juga: Kritik Pedas Amien Rais Kepada 5 Presiden, Kepada Siapa Paling Menohok?

“Kita simak Indonesia, terdiri atas beragam suku, agama, ekonomi dan banyak lagi, tidak pecah, utuh. Orang bilang kita pecah, saya bilang, nggak. Karena apa? Karena Pancasila,” ujarnya pada acara Simposium Nasional Taruna Merah Putih di Balai Kartini, 14 Agustus 2017.

Ia juga menegaskan Indonesia, meski berstatus negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, namun bukan milik satu golongan saja. “Bila tidak ada Islam, Kristen, Khatolik, Budha, Konghucu, bukan Indonesia. Itulah Indonesia kita,” kata Gatot.

Dia yakin negara lain tidak bisa masuk untuk merusak keutuhan Indonesia. Karena berdasarkan kajian sejarah dan antropologi budaya, bangsa Indonesia merupakan kumpulan dari ksatria dan patriot. “Jadi tidak bisa negara lain menghancurkan bangsa ini selagi masih ada Pancasila,” ujarnya.

Namun baru-baru ini, saat Gatot pensiun sebagai Panglima TNI, Gatot seakan mengidentifikasikan diri sebagai orang yang pesimis dengan masa depan Indonesia. Ia mengatakan Indonesia bisa saja bubar lebih awal dari apa yang diprediksi Prabowo Subianto.

Hal itu bukan suatu yang mustahil katanya, apabila kepastian hukum masih lemah, krisis ekonomi dan sosial semakin memprihatinkan, kesenjangan makin lebar, sumber daya alam banyak dikuasai asing, dan lemahnya daya saing Sumber Daya Manusia (SDM).

“Jadi mari kita tanggapi dengan positif. Ini peringatan buat anak bangsa. Kita harus bisa bersatu dan semakin kuat,” kata Gatot.*

COMMENTS