Sebut Ahok Warga Asing, Adik Ahok Surati Yusril Mahendra

Sebut Ahok Warga Asing, Adik Ahok Surati Yusril Mahendra

Dala surat tersebut, Harry mempertanyakan pernyataan Yusril Isha Mahendra yang menyebut kakak kandungnya itu terlahir sebagai warga negara asing, yakni Negara Tiongkok. (Foto: Yusril Isha Mahendra - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Isha Mahendra mendapat surat terbuka dari adik kandung mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Adapun adik Ahok tersebut adalah Harry Basuki Tjahaja Purnama.

Dalam surat tertanggal, Minggu (1/4) itu, Harry mempertanyakan pernyataan Yusril Isha Mahendra yang menyebut kakak kandungnya itu terlahir sebagai warga negara asing, yakni Negara Tiongkok.

Harry terkejut ketika Yusril mengatakan Ahok terlahir warga negara Tiogkok karena saat penetuan negara  tahun 1962, ayah Ahok, Tjoeng Kiem Nam atau Indra Tjahaja Purnama memilih sebagai warga negara Tiongkok. Ahok, kata Yusril, otomatis mengikuti bapaknya.

Baca juga: HTI Dukung PBB: Syariat Islam Ditegakkan, Rezim Jokowi Harus Diganti

“Saya cukup terkejut dengan pernyataan Bang Yusril mengenai bapak saya di acara Islamic di Medan. Saya tidak mengerti kenapa nama bapak saya dibawa-bawa di acara tersebut.” kata Harry dalam surat tersebut, sebagaimana diberitakan tempo.co.

Harry yang pernah maju sebagai calon bupati Belitung Timur melawan adik Yusril mengingatkan pakar hukum Tata Negara itu untuk tidak melibatkan ayahhnya  dalam urusan politik Ahok dengan dirinya.

Petikan Surat Terbuka Adik Ahok

Berikut ini isi surat adik Ahok Harry Basuki yang ditulis di Jakarta, 1 April 2018:

Surat terbuka buat Bang Yusril.

Ngimana abang kabarnya ikam.

Saya baru pulang dari Belitung, dari makam bapak saya. Hari ini bertepatan dengan hari raya Paskah. Saya cukup terkejut dengan berita pernyataan Bang Yusril mengenai Bapak saya di acara Islamic di Medan.

Pertama, saya tidak mengerti, kenapa nama bapak saya dibawa-bawa di acara tersebut.  Dikatakan bahwa bapak saya memilih menjadi WNA dan kami menjadi warga negara Indonesia tahun 1986. Kalau ini urusannya dengan Ko Ahok, itu urusan Bang Yusril dengan Ko Ahok. Saya sendiri berhubungan baik dengan adik Bang Yusril. Tapi kalau menyangkut bapak saya, maaf ini menyangkut saya.

Kedua, saya berpikir bagaimana bapak saya yang memiliki nasionalisme tinggi, (lebih) memilih (menjadi) warga negara asing dan baru menjadi WNI sekitar tahun 1986? Padahal bapak saya selalu mengajarkan nilai-nilai nasionalisme dan kami semua sekolah di SD Negeri 3 Gantung.

Yang ketiga, bagaimana Bang Yusril tahu kalau bapak saya lebih memilih WNA, sedangkan umur Bang Yusril saja masih muda? Apa bapak saya bilang ke abang, keluarga abang atau hanya kesimpulan abang saja? Saya tidak tahu sulit atau tidaknya mengurus (menjadi) WNI waktu itu.

Bapak saya lahir di desa air tangga / simpang pesak, Belitung Timur. Beliau meninggalkan nama baik dan selalu dikenang membantu masyarakat yang membutuhkan. Begitulah almarhum bapak saya.

Yang terakhir, tentu saya ingin tahu dan melihat akte kelahiran saya. Di situ jelas tertulis bahwa saya lahir sebagai Warga Negara Indonesia. Apakah bisa (kalau) bapak saya WNA tapi anaknya lahir sudah WNI ?

Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin meluruskan bahwa bapak saya almarhum bernama : INDRA TJAHAJA PURNAMA. Silahkan lihat di akte kelahiran saya. Dan bapak saya adalah Warga Negara Indonesia yang sangat-sangat cinta tanah air.

Bapak yang selalu ingin anak-anaknya sekolah agar pulang dapat membantu dan membangun masyarakat di kampung halamannya.

Salam,
Harry Basuki

Pernyataan Kontroversial Yusril untuk Ahok

Pernyataan Yusril yang membuat panas telinga keluarga Ahok terjadi ketika ia berbicara mengenai syarat presiden Indonesia saat Kongres Umat Islam 2018 di Medan, Sumatera Utara, Jumat, 30 Maret 2018.

Ahok, kata Yusril, tidak dapat menjadi Presiden karena terhalang status kewarganegaraannya saat lahir. “Ahok tidak lahir sebagai Warga Negara Indonesia, itu bisa dicek di catatan sipil,” tandas Yusril.

Baca juga: Ahli Agama NU: HTI Menganggap Demokrasi Itu Paham Kafir

Yusril mengaku mengenal baik Ahok karena berasal dari satu daerah. Orang tua Ahok, Tjoeng Kiem Nam, memilih menjadi Warga Negara Tiongkok pada msa penentuan warga negara pada 1962. Otomatis, kata Yusril, Ahok yang lahir pada 1966, juga berstatus Warga Negara Tiongkok.

Hal ini tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang diamandemen pada 2003. Pasal 6 ayat 1 UUD 1945 menyatakan calon presiden dan calon wakil presiden harus Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain karena kehendaknya sendiri.*

COMMENTS