Sawah dan Kopi Digusur, Warga Bangka Ajang Datangi DPRD Manggarai

Sawah dan Kopi Digusur, Warga Bangka Ajang Datangi DPRD Manggarai

DPRD Manggarai berjanji akan memanggil Pemerintah Desa, Pemkab Manggarai serta warga dalam waktu dekat (Foto: Warga Desa Bangka Ajang berpose bersama Anggota DPRD - Dawai Nusa)

RUTENG, dawainusa.comTak terima sawah dan kebun kopi digusur, sekelompok warga dari Desa Bangka Ajang, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai di Ruteng, Kamis (17/5).

Di hadapan anggota dewan, warga yang didampingi JPIC SVD tersebut mengaku, lahan mereka digusur untuk kepentingan pembukaan jalan baru dari Tasok menuju TRK Ajang pada 2017 lalu.

Para warga ini mengklaim, pembukaan jalan baru yang berakibat tergusurnya kebun kopi dan sawah milik mereka tersebut dilakukan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu dari pihak pemerintah desa setempat.

Baca juga: Mengangkat Potensi Kopi di Desa Wawowae – Ngada

Pater Simon Suban Tukan dari JPIC yang menjadi juru bicara warga di hadapan Anggota DPRD menjelaskan, Kepala Desa Bangka Ajang telah bertindak semena-mena terhadap warga.

Dia mengatakan, saat perencanaan pembukaan jalan pada 2015 lalu, tidak semua warga dilibatkan dalam rapat yang digelar Pemerintah Desa Bangka Ajang.

“Pembukaan jalan baru sudah direncanakan Sejak 2015, rapat terkait pembukaan jalan ini tak melibatkan semua warga, tiba-tiba saja ada penggusuran, warga merasa dilecehkan, warga tidak terima dengan perlakuan ini,” jelas Tukan di hadapan anggota dewan di Ruteng, Kamis (17/05).

Lebih lanjut, saat penggusuran berlangsung, salah seorang warga pemilik lahan atas nama Katarina Dius sempat melakukan penghadangan di lokasi. Akan tetapi, penggusuran itu tetap saja dilakukan.

Selain itu, warga juga mengaku, Kepala Desa Bangka Ajang merasa tak bersalah dengan tindakannya itu bahkan tanpa beban mempersilahkan mereka untuk melapor ke camat atau bupati.

“Silahkan lapor ke camat bila perlu Bupati, masih ada langit diatas langit,” kata warga menirukan pernyataan kades Bangka Ajang.

Pemkab Klaim Tak Ada Masalah Saat Perencanaan

Dalam rapat dengar yang dipimpin lansung Simprosa Rianasari Gandut selaku pimpinan dewan, hadir pula utusan Pemkab Manggarai dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk memberi penjelasan di hadapan warga.

Di hadapan dewan dan warga, utusan dari Dinas PU Kabupaten Manggarai itu mengaku tak ada kendala lahan saat perencanaan proyek ini bermula.

“Saat Reses bersama Anggota Dewan dari rahong utara pak Eber Ganggut saya turut hadir untuk sosialisasi pembukaan jalan baru, saat itu tidak ada kendala dan berharap ada kerja sama yang baik dengan pemerintah desa,” kata John Bosco dari Dinas PU Kabupaten Manggarai.

Baca juga: Ini 10 Tempat Wisata Terbaik di Kabupaten Manggarai, NTT

Lebih lanjut dia menerangkan, saat pelaksanaan proyek, pihaknya intens berkomunikasi dengan kepala desa dan tak ada laporan kendala atas pembukaan jalan baru itu.

“Kami intens komunikasi dengan ibu kades, selama kegiatan pembukaan jalan baru kami tdk mendapat laporan ada hambatan, hambatan yang dilaporkan hanya mengenai sisa penggusuran sekitar 70 meter yang akan dilanjutkan. Kalau ada kendala, pasti kami sudah atasi di awal,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD dari Partai Demokrat Wilibrodus Kengkeng mengatakan, keluhan warga yang menjadi korban penggusuran ini harus ditanggapi dengan bijak.

Anggota dewan asal Rahong Utara ini menilai ada kebuntuan komunikasi antara pemerintah desa dan warga saat awal perencanaan.

“Kalau ditafsir teks dalam surat dari warga ini, kelihatannya ada komunikasi yang buntuh antara Pemerintah Desa dan warga saat perencanaan diawal, kelihatannya warga butuh kades nya minta maaf memang menjadi sulit karena mungkin ada pernyataan kades yang sedikit meruncing,” kata Wilibrodus.

Karena itu, ia juga meminta warga agar tetap bersabar sambil menunggu langkah lebih lanjut yang akan ditempuh DPRD bersama Pemkab Manggarai sehingga persoalan ini akan segera mendapatkan solusi.

Kades Bangka Ajang Harus Minta Maaf

Tidak terima dengan perlakuan Kepala Desa Bangka Ajang itu, warga akhirnya melayangkan surat kepada Bupati Manggarai Deno Kamelus dan DPRD Manggarai.

Dalam suratnya, warga menutut Kades Bangka ajang untuk meminta maaf atas tindakannya tersebut. Mereka juga memohon keadilan dari Pemkab Manggarai atas lahan sawah dan kebun kopi yang telah digusur agar mendapat ganti rugi.

“Kedatangan warga ini salah satunya mau memastikan apakah surat mereka kepada Bupati sudah dibalas atau belum, pasa dasarnya mereka tidak menolak pembangunan,” ujar Pater Simon Tukan memperjelas maksud kedatangan warga.

Baca juga: Polres Manggarai Diadukan ke Komnas HAM

Atas tuntutan ini, DPRD Manggarai berjanji akan memanggil Pemerintah Desa, Pemkab Manggarai serta warga dalam waktu dekat.

“Kita akan panggil Eksekutif, Pemerintah Desa serta bapa ibu yang lahan nya jadi korban penggusuran untuk duduk bersama sehingga persoalan ini bisa segera diatasi,” kata Pimpinan DPRD Simprosa Rianasari Gandut yang pimpin rapat dengar pendapat itu.

Adapun warga Bangka Ajang yang mendatangi DPRD Manggarai itu diantaranya ialah Kanisius Jeramu, Robertus Gendor, Fridus Set, Frans Reme, Aloisius Tagung, Largus Langgut, Marsel Tempo, dan Katarina Deos. Hingga berita ini diturunkan, Dawai Nusa belum berhasil mengonfirmasi Kepala Desa Bangka Ajang.*(EY).

COMMENTS