Sampah di Taman Nasional Komodo Mendunia

Sampah di Taman Nasional Komodo Mendunia

Sampah yang berserakan di sekitar perairan Taman Nasional Komodo mulai mendunia dan mendapat sorotan dari Organisasi Pendidikan dan  Keilmuan PBB (UNESCO). (Foto: Sampah di Taman Nasional Komodo - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Sampah yang berserakan di sekitar perairan Taman Nasional Komodo mulai mendunia dan mendapat sorotan dari Organisasi Pendidikan dan  Keilmuan PBB (UNESCO). Hal itu disampaikan oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan (ASITA) Nusa Tenggara Timur, Abed Frans.

“Selama ini wisatawan asing memang paling mengeluh soal sampah di Komodo, masalahnya sekarang belum teratasi juga sehingga lembaga internasional UNESCO pun sudah mulai menyoroti,” Kata Abed Frans di Kupang, Senin (24/4).

Semakin memprihatinkan lanjut Abed, ketika para wisatawan mengungkapkan pengalaman mereka yang berbeda saat menyelam di perairan Taman Nasional Komodo pada tahun-tahun sebelumnya dan sekarang. Wisatawan, demikian Abed, mendapati pemandangan yang berbeda dengan kondisi saat ini.

Baca juga: BTNK Soal Bandara Komodo Tahan Flora dan Fauna yang Dibawa Wisatawan

“Kasihan wisatawan yang spesialis menyelam dan berselancar, bukannya pemandangan bawah laut indah yang mereka dapati tapi malah sampah dan kerusakan ekosistem yang dijumpai,” katanya.

Atas dasar itu, dirinya meminta pengawasan intensif dari seluruh komponen dan pihak terkait terhadap kawasan perairan serta penerapan aturan yang tegas terhadap aktivitas nelayan yang tidak ramah lingkungan.

“Karena ini bukan lagi persoalan sepele mengingat dunia pun sudah menyoroti, jika tidak diatasi maka dampak selanjutnya wisatawan akan berpindah ke lokasi selam atau berselancar lainnya,” katanya.

Abed khawatir jika persoalan ini tidak ditangani lebih serius, maka kerusakan lingkungan laut di kawasan wisata yang terkenal sebagai habitat satwa purba komodo (varanus komodoensis) itu akan mencapai titik kritis.

Adapun untuk Asita sendiri sebagai bagian dari pelaku pariwisata, Abed menjelaskan akan mengambil bagian untuk penanganan maslah sampah di TNK.

“Melalui perwakilan kami di Manggarai Barat bersama perhimpunan pramuwisata setempat siap membantu penanganan sampah ini,” katanya.

Ia pun berharap penanganan sampah di TNK yang didukung penuh oleh Pemerintah Pusat segera teratasi sehingga kekhwatiran masyarakat dunia terhadap kelangsungan ekosistem habitat satwa purba Komodo yang merupakan salah satu keajaiban dunia (New Seven Wonders) ini semakin berkurang.

Tangani Sampah di Labuan Bajo, Pemerintah Kuncurkan Dana 15 Miliar

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur mendapat bantuan dana senilai Rp 15 miliar dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk menangani sampah di Kota Labuan Bajo.

Hal itu dibenarkan oleh Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula pada Sabtu, (3/3) di Labuan Bajo. “Menteri LKH telah memback-up kami menangani masalah sampah di Labuan Bajo dengan dana sebesar 15 miliar,” kata Gusti.

Baca juga: Menteri Luhut Soroti Persoalan Sampah dan Toilet di Labuan Bajo

Selain di Kota Labuan Bajo lanjut Bupati dua periode itu, penanganan sampah di Kawasan Wisata Taman Nasional Komodo juga sedang dikerjakan otoritas terkait.

“Penanganan ini juga bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten, sehingga baik sampah-sampah di darat maupun di kawasan wisata Komodo terus kami tangani bersama-sama secara serius,” pungkasnya.

Terkait penggunaan dana sebesar 15 miliar itu, Gusti menjelaskan akan dimanfaatkan pada tahun ini untuk pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang diangkut dari Kota Labuan Bajo. Pemerintah daerah lanjutnya telah menyiapkan lahan seluas 5 hektar di desa Warloka untuk mendukung pembangunan TPA yang dimaksud.

Namun meski demikian, Gusti mengatakan kapasitas TPA tersebut sudah tidak memungkinkan lagi akibat produksi sampah yang terus meningkat seiring perkembangan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 daerah wisata prioritas nasional yang banyak dikunjungi wisatawan.

Ia mengatakan, hasil penelitian mendapati jumlah produksi sampah di Labuan Bajo mencapi 122 meter kubik per hari dengan jenis yang beragam. Untuk itulah menurutnya, penanganan sampah akan lebih maksimal dengan tersedianya infrastruktur pendukung berupa TPA baru tersebut.

“Nanti TPA lama tinggal kami tata dan kondisi kembalikan dengan baik,” katanya.

Otoritas Pelabuhan Keluarkan Surat Edaran

Sementara itu, untuk menanggulangi masalah sampah di Labuan Bajo, Otoritas Penyelenggara Pelabuhan Labuan Bajo telah mengeluarkan surat edaran bagi kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan tersebut untuk menjaga kebersihan agar Labuan Bajo sebagai daerah tujuan wisata nasional bebas dari sampah.

“Untuk menciptakan rasa asri dan aman bagi para tamu perlu diciptakan lingkungan Pelabuhan yang bersih terutama masalah sampah dari kapal-kapal yang bersandar di alabuan Bajo,” kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan kelas III Labuan Bajo, Jasra Irawan.

Baca juga: Jelang Annual Meeting IMF-WB, Sampah di Labuan Bajo Segera Ditangani

Ia menjelaskan, Pelabuhan Labuan Bajo saat ini selain digunakan untuk pelabuhan umum, juga berfungsi sebagai pelabuhan wisata yang menjadi pintu masuk bagi kapal-kapal wisatawan yang berwisata bahari di sekitar Manggarai Barat.

Untuk itu katanya, kondisi kebersihan perlu dijaga dengan mewajibkan pemilik kapal menyediakan fasilitas tepat pembuangan sampah di atas kapalnya. “Sewaktu petugas Syabandar akan memeriksa fasilitas tempat pembuangan sampah di atas kapal,” katanya.

Ia mengatakan, nahkoda kapal atau agen yang mengurus kapal-kapal untuk mendapatkan surat perintah  berlayar (SPB) diwajibkan membawa media plastik penampungan sampah yang akan dicatat para petugas.

“Media penampung sampah wajib dilaporkan ke petugas Syahbandar sewaktu-waktu kapal pulang setelah melakukan perjalanan atau trip-nya,” katanya.*

COMMENTS