Rocky Gerung dan Senjakala Demokrasi Kita

Rocky Gerung dan Senjakala Demokrasi Kita

Bahaya kita sekarang ini adalah hilangnya pikiran, tuna nalar. Hanya sedikit yang bisa berpikir jernih, sementara yang lainnya tergantung mood dan emosional. (Foto: Rocky Gerung - ist)

SENANDUNG, dawainusa.com Secara pribadi saya tidak begitu mengenal Rocky Gerung dan sepak terjangnya sebagai seorang pengajar filsafat dan terutama sebagai pengamat politik. Saya baru tahu nama Rocky Gerung setelah ia viral di media sosial (medsos) semenjak sering tampil di Indonesia Lawyers Club (ILC).

Banyak orang omong tentang Rocky, tentang apa yang ia ucapkan di ILC. Pernyataan-pernyataannya keras seperti karang, tajam menukik, dan bikin telinga dan muka lawan bicaranya memerah mendengar apa yang terlontar darinya.

Ia pernah mengatakan presiden Indonesia tak paham konstitusi karena menyebut kebebasan sebagai pemberian negara. Memang benar, kebebasan itu inheren di dalam diri dan hadir jauh sebelum negara terbentuk.

Baca juga: PMKRI Dalam Diskursus Multikulturalisme Indonesia

Tak hanya itu, ia menyebut pemerintah sebagai institusi penyebar hoaks paling efektif karena padanya ada seluruh perangkat kekuasaan yang memungkinkan hal itu terjadi. “Hoax terbaik adalah versi penguasa. Sebab, mereka memiliki peralatan lengkap: statistik, intelijen, editor, panggung, media, dst…”

Yang paling anyar tentu saja ucapan Rocky tentang kitab suci sebagai fiksi. Ia berusaha menjelaskan kata fiksi sebagai sesuatu yang positif untuk menjernihkan pemikiran banyak orang tentang kata itu pasca pidato Prabowo Subianto yang menyebut ‘Indonesia bubar’ berdasarkan karya fiksional Ghost Fleet: Novel of the Next World War.

“Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci itu adalah fiksi”, begitu penggalan pernyataan Rocky yang memantik kehebohan di forum ILC (10/04/2018) dan di media sosial.

Akibat dari pernyataan kitab suci adalah fiksi, Rocky dilaporkan ke pihak berwajib. Dia dianggap menyebarkan ujaran kebencian dan menista kitab suci agama-agama.

Selain melaporkannya ke pihak berwajib, beberapa orang sibuk menghubung-hubungkan pernyataan Rocky dengan gelar akademisnya. Orang-orang itu menyebut omongan Rocky itu ngawur karena ia bukan seorang profesor, profesor gadungan.

Harus banget ya mencari hubungan antara gelar akademis dengan pernyataan seseorang? Ya, kalau tak suka dengan pernyataan Rocky tolong jangan serang pribadinya atau embel-embel yang lain dong. Jangan membenci aku hanya karena aku berkulit gelap, berambut keriting, dan brewokan. Tak elok banget!

Terlepas dari itu semua, ada hal yang mendesak dalam kasus ini: kebebasan sebagai warga negara sedang terancam. Kebebasan berpendapat kita yang dilindungi Undang-Undang Dasar sedang gerogoti oleh kepentingan politik segelintir orang yang terusik dengan suara-suara kritis yang terucap. Itu soalnya.

Terlepas dari itu semua, ada hal yang mendesak dalam kasus ini: kebebasan sebagai warga negara sedang terancam. Kebebasan berpendapat kita yang dilindungi Undang-Undang Dasar sedang gerogoti oleh kepentingan politik segelintir orang yang terusik dengan suara-suara kritis yang terucap. Itu soalnya.

Senjakala Demokrasi Kita?

Ketika omongan Rocky tentang kitab suci menjadi viral di lini masa, banyak yang melihat itu sebagai cela dan satu-satunya cara untuk menghentikan sepak terjang beliau yang selalu gelisah dan sinis terhadap kekuasaan dengan pasal penistaan agama. Cara yang sama sewaktu Sukmawati Soekarnoputri dibungkam oleh umat beriman yang merasa puisi yang dibacakan Sukma itu menista agama mereka.

Bagi saya apa yang disampaikan Rocky tak ada yang salah secara hukum. Dia tak menghina kitab suci, tak menyebut secara spesifik isi kitab suci dan dari kitab suci agama apapun. Lantas apa dalil untuk mempolisikan Rocky? Tak ada! Melaporkan Rocky Gerung dengan motif balas dendam dan demi menghentikan kritik-kritik kerasnya adalah sebuah kegelian di era demokratis ini.

Baca juga: Toleransi Sebagai Kemerdekaan Individu

Satu-satunya cara yang elegan untuk menghakimi pernyataan Rocky bahwa kitab suci adalah fiksi adalah ruang akademis-ilmiah yang mengupas habis omongan itu dalam debat terbuka yang masuk akal dan intelektual. Tapi, sudahlah. Orang seperti Abu Janda yang melaporkan Rocky ke polisi memang bukan jenis yang mampu berdebat secara intelektual, dia lebih suka yang sensasional demi likes dan retweets di medsos.

Bahaya kita sekarang ini adalah hilangnya pikiran, tuna nalar. Hanya sedikit yang bisa berpikir jernih, sementara yang lainnya tergantung mood dan emosional. Dan, obat tuna nalar hanya dengan membiarkan pikiran dibenturkan dengan pikiran, argumentasi dengan argumentasi.

Demokrasi menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat. Kritik dan omongan Rocky yang keras dan tajam adalah ciri demokrasi yang sehat. Namun, ketika kritik dan omongan itu dipolisikan maka demokrasi kita sedang membengkak, infeksi, tak sehat. Cara paling gampang untuk membungkam kritik, ya, dengan melaporkan ke polisi daripada mendebat balik.

Ada gejala untuk menghidupkan kembali watak Orde Baru yang membelenggu kebebasan berpendapat dengan memanfaatkan pasal karet penistaan agama. Ironi kita di dalam demokrasi, kebebasan berpendapat dengan jujur dan kritis dibatasi habis-habisan dalam kerangkeng hukum membelenggu.

Sialnya, cela tersebut dimanfaatkan orang-orang yang berpengetahuan dangkal, reaksioner, sumbuh pendek untuk membungkam orang-orang yang bersebarangan pandangan politiknya. Mereka tak pusing dengan isi omongan, mau omongan itu ilmiah atau tidak, selama itu menyinggung dan menguntungkan pihaknya, maka omongan itu harus dibungkam.

Orang-orang jenis demikian berpotensi merusak pikiran-pikiran kritis. Saya bayangkan jika mereka mengikuti kelas-kelas filsafat yang membahas soal-soal ateisme, boleh jadi si pengajar langsung dilaporkan ke polisi karena dianggap menistakan Tuhan karena tak sesuai dengan ajaran kitab sucinya dan pandangan umum agamanya. Menggelikan.

Demokrasi kita yang baru berumur 20 tahun ini harus kita rawat, harus kita jaga, bukan saja dari kelompok-kelompok yang ingin mengganti sistem demokrasi dengan model pemerintahan yang lainnya, tetapi dari upaya-upaya yang mencederai kebebasan dan kesetaraan.

Demokrasi sejatinya membuat orang berkompetisi secara sehat dalam pemikiran dan gagasan untuk kebaikan semua, bukan saling lapor melapor karena pemikiran kritis yang diungkapkan di ruang publik melukai perasaan dan membuat hidup enggan mati tak mau.

Kita sudah pernah mengalami kelamnya pemerintahan despotik, kebebasan dibungkam habis atas nama stabilitas nasional. Kita bersama-sama telah keluar dari rezim otoriter itu, bergandengan tangan memasuki demokrasi yang meluhurkan kebebasan dan kesetaraan. Jangan sampai ulah satu dua orang yang tuna nalar, kita akhirnya dipulangkan kepada pengalaman masa lalu yang antipikiran itu.

Bahaya kita sekarang ini adalah hilangnya pikiran, tuna nalar. Hanya sedikit yang bisa berpikir jernih, sementara yang lainnya tergantung mood dan emosional. Dan, obat tuna nalar hanya dengan membiarkan pikiran dibenturkan dengan pikiran, argumentasi dengan argumentasi. Meletakkan pikiran kritis di hadapan moncong senjata merupakan penanda awal dari gejala antipikiran.

Tuna nalar mengantar orang kepada antipikiran, dan anti pikiran merupakan bahaya laten di dalam demokrasi. Ia seperti kanker yang perlahan tapi pastin menggerogoti tubuh bangsa ini. Hari-hari ini kita sedang menyaksikan bagaimana matinya pikiran kritis dan seni dirayakan dengan teriak-teriak dan olok-olok yang menjijikan.

“Pakar Filsafat” vs “Politisi Gadungan”

Apa yang disampaikan oleh Rocky memang menuai pro-kontra. Pernyataan itu tak benar sepenuhnya, tapi juga tak salah seluruhnya. Pernyataan itu layak diperdebatkan secara terbuka. Kita tinggal menunggu siapa yang mau melamar untuk menjadi penantang debat Rocky.

Banyak yang sepakat dengan Rocky, tidak sedikit yang menghujat dan mengutuk. Bagi saya, kehadiran Rocky di tengah hiruk pikuk politik kita hari-hari ini diterima oleh banyak kalangan dengan antusiasme yang tinggi.

Baca juga: Revisi UU MD3: Wakil Rakyat Lupa Diri

Masyarakat kita yang muak dengan omongan politik para politisi gadungan cukup terhibur dengan retorika yang memikat dan memukau yang dilontarkan Rocky. Masyarakat kita rindu omongan yang kritis tentang politik dengan kata-kata yang berkelas.

Filsafat membantu orang untuk menjadi manusia yang baik dan adil. Melalui filsafat, orang tak hanya merindukan keadilan, tapi teguh berjuang untuk mencapai keadilan itu dengan jujur dan bijaksana.

Omongan yang kritis dan berkelas itu nyaris hilang dari diskusi politik yang sering dipertontonkan oleh para politisi kita. Mereka tak mampu menghadirkan suasana perdebatan di sidang BPUPKI, panasnya perdebatan sidang Konstituante, tak mampu mengutip pernyataan-pernyataan pemikir-pemikir besar dalam berargumentasi ke dalam ruang-ruang perbincangan politik.

Mungkin karena kurang baca, makanya yang sering dikutip hanya syair-syair dangdut di dalam ruang-ruang diskusi politik, di dalam ruang sidang. Tak heran banyak yang ngantuk dan susah payah hingga terseok-seok mengikuti jalannya sidang di Senayan.

Masyarakat rindu kata-kata bernas dari wakil-wakil mereka, dari para elit, yang tujuannya adalah mendidik rakyat bukan menyesatkan, yang mengarahkan kepada kebaikan bukan provokasi murahan. Bayangkan Bung Karno ketika berpidato di depan rakyatnya, gagah dan berapi, mengutip gagasan-gagasan besar para pemikir ulung dengan tujuan untuk mendidik rakyatnya agar tidak gagap politik, agar api revolusi semakin berkobar-kobar. Hari ini hal itu hilang dari ruang-ruang percakapan publik kita.

Ketika ada yang hilang, maka wajar orang seperti Rocky Gerung mendapat tempat dan diterima dengan antusias, ucapannya selalu ditunggu dan berakhir dengan sorak tepuk tangan.

Kekuatan Rocky terletak pada retorikanya. Dia kaya akan kosakata dan luas pengetahuannya. Itu makanya, ketika berdebat tak jarang lawan bicaranya hanya bengong tak mampu mendebatnya. Kalaupun mendebat, paling hanya untuk menjebak, bukan untuk mencari yang hakiki.

Orang mungkin menyanjung Rocky sebagai pakar filsafat yang hadir dengan retorika indah. Tapi, filsafat tak menjual kata-kata indah untuk suatu keuntungan tertentu. Filsafat menjebol, membongkar, ‘status quo’ demi mencapai yang hakiki, kebijaksanaan. Dalam hal itu, filsafat dibutuhkan bukan sebagai penghibur belaka, tapi mengarahkan orang kepada kebijaksanaan dan keadilan.

Filsafat membantu orang untuk menjadi manusia yang baik dan adil. Melalui filsafat, orang tak hanya merindukan keadilan, tapi teguh berjuang untuk mencapai keadilan itu dengan jujur dan bijaksana. Filsafat yang tak mengarahkan orang kepada keadilan hanya akan menghasilkan para peternak kata-kata atau kaum Sofis.

Dalam terang filsafati itu, politik mesti dibicarakan untuk tujuan kebaikan bersama. Politik tanpa terang filsafati hanya akan menghasilkan politisi gadungan yang gemar menyulut kegaduhan karena setiap omongannya tak punya mutu selain untuk mengejar kepentingan pribadi dan golongannya.

Kita butuh para bijak yang menuntun cara hidup kita kepada yang baik; kita butuh negarawan yang memikirkan kepentingan umum demi mencapai keadilan bagi semua. Karena, Indonesia tak akan pernah melewati jembatan emas hanya dalam bimbingan peternak kata-kata dan arahan politisi gadungan.*

Oleh: Rinto Namang* (Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)

COMMENTS